December, 2005

Hadits dan Virus Orientalis

Hadits dan Virus Orientalis

Assalamu’alaikum wr wb

Alkisah
ada dua sahabat sejati yang ditakdirkan untuk terus berjalan
berdampingan di muka bumi ini. Dua sahabat itu selalu berjalan
beriringan kemanapun mereka pergi. Sikap saling tolong menolong pun
tidak pernah mereka lewatkan. Disaat sahabat yang pertama mengalami
kesulitan, maka sahabat yang kedua pun segera datang untuk menolong.
Begitu pun juga sebaliknya. Sejak berabad-abad mereka diciptakan,
mereka selalu terlihat bersama dan hubungan mereka berdua semakin lama
semakin dekat dan tak terpisahkan. Yang lebih menakjubkan, atas eratnya
hubungan mereka berdua itulah efeknya bisa dirasakan oleh semua manusia.

Suatu
hari sahabat kedua jatuh sakit. Sakit yang dideritanya ternyata sudah
cukup lama menjangkiti sang sahabat kedua. Sahabat pertama pun
sebenarnya pernah dijangkiti penyakit yang sama, tapi untungnya
penyakitnya cepat dapat disembuhkan berkat banyaknya bantuan dari
teman-temannya yang lain. Sahabat pertama bisa merasakan kepedihan dan
kenyerian yang dialami oleh sahabat kedua. Kesedihannya bertambah
ketika menyadari bahwa ternyata penyakit ini yang bisa menghilangkannya
hanya sedikit dimuka bumi. Bahayanya lagi, penyakit yang disebabkan
oleh virus itu sangat-sangat menular bagi yang tidak mempunyai
perlindungan khusus terhadapnya. Penyakit itu disebabkan oleh virus
yang bernama "orientalist".
 
 Sahabat pertama bernama al Quran dan yang kedua bernama as Sunnah….

      

********

   


Begitulah
kira-kira analogi kisah dari al Qur’an dan as Sunnah atau yang biasa
disebut hadits, dua sahabat yang tak terpisahkan. Ketika seseorang akan
membuat tafsir al Qur’an maka salah satu cara yang diperlukan adalah
melakukan tafsir menggunakan hadits yang shahih. Didalam buku Ushul fi al-Tafsir
yang ditulis oleh Muhammad bin Shaleh al Utsaimin, beliau menempatkan
cara membuat tafsir al Qur’an dengan hadits di peringkat kedua setelah
membuat tafsir al Qur’an dengan menggunakan al Qur’an. Begitu pun
ketika akan mentafsirkan suatu hadits, maka yang pertama dilihat adalah
bahwa hadits tersebut tidak bertentangan dengan yang ada di al Qur’an.
Inilah yang disebut, dua sahabat yang tak pernah melewatkan untuk
saling tolong menolong.

Ketika al Quran diragukan kebenarannya,
maka para hafiz Qur’an (penghafal al Qur’an) pun unjuk gigi bahwa al
Qur’an tidak ada perbedaan satu titik pun didalamnya. Ketika semua al
Qur’an dimuka bumi ini dikumpulkan maka yang nampak tidak lain hanyalah
kesamaan huruf antara mushaf yang satu dengan yang lainnya didalam
setiap ayatnya. Maka al Qur’an pun selamat dari keragu-raguan. Surat Al
Baqarah ayat kedua semakin mengokohkan pernyataan ini. "Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa".
 
 Kedekatan
dua hal tersebut tentunya akan berdampak positif bagi umat Islam dan
umat manusia pada umumnya. Ini adalah janji Rasulullah saw dengan
sabdanya, "Aku tinggalkan kepada
kamu dua perkara, yang jika kamu berpegang teguh pada kedua-duanya maka
kamu tidak akan sesat, yaitu al-Quran dan as-Sunnah"
[HR. Ahmad, lbnu Majah]
 
Penyakit
yang dimaksud adalah orientalis atau para pemikir barat yang tak
henti-hentinya berusaha menyerang kedua pegangan umat Islam itu. Telah
sejak lama penyakit yang bernama orientalism ini menghampiri al Quran
dan as Sunnah. Orientalis ini adalah sekelompok orang-orang yang
melakukan penelitian sedemikian rupa terhadap al Quran dan Hadits untuk
menimbulkan keragu-raguan terhadap kedua hal tersebut dan menyebarkan
pemikirannya ke umat Islam. Tokoh dibalik para orientalis ini cukup
banyak yang diantaranya adalah Ignaz Goldziher
dan Aloys Sprenger yang sangat bersemangat untuk membuktikan bahwa
hadits itu bukanlah perkataan Nabi Muhammad saw, tapi merupakan bikinan
para ulama di awal abad kedua hijriah.

Goldziher dan Usahanya

Goldziher menurunkan satu pasal khusus tentang penulisan hadits-hadits dalam pembahasannya Muhammedanische Studien dan jilid keduanya diterjemahkan kedalam bahasa Perancis oleh Leon Bercher tahun 1952 dengan judul Etudes sur la Tradition Islamique, Maisonneuve,
Paris. Didalam pasal ini ia mengemukakan banyak dalil yang menyatakan
bahwa pencatatan hadits dilakukan pada awal abad kedua hijriah. Begitu
pun dengan Aloys Sprenger dalam bukunya, Das Traditionswesen beiden Arabern (Hadits Menurut Orang Arab).

Goldziher
berpendapat bahwa hadits tidaklah berasal dari Rasulullah, melainkan
sesuatu yang berasal dari abad pertama dan kedua Hijriyah. Artinya
Goldziher berpendapat bahwa hadits adalah buatan ulama abad l dan abad
ll H. Ia berkata, "Bagian terbesar
dari suatu hadits tidak lain adalah hasil perkembangan Islam pada abad
l dan ll, baik dalam bidang keagamaan, politik, maupun sosial.Tidaklah
benar bahwa hadits merupakan dokumen Islam yang ada pada masa dini,
melainkan pengaruh dari perkembangan Islam pada masa kematangan."

     

 


Tujuan kaum orientalis ini bukan semata-mata demi ilmu dan penelitian
belaka, bahkan sebagian mereka cenderung tidak mengakui sebagian
sunnah. Seperti layaknya penyakit menular, maka gambaran pemikir
orientalism ini sama saja. Buah pemikiran ini pun ada di Indonesia dan
bisa dilihat dari pemikiran-pemikiran kaum liberal yang dengan serta
merta berani melakukan kritik dan meragukan matan (isi redaksi) hadits
yang telah jelas-jelas di teliti oleh yang jauh lebih ahli dibandingkan
mereka seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Hadits = Perkataan Setan ?

Ingkar Sunnah pun kurang lebih sama. Sama-sama tidak mengakui as Sunnah (hadits) sebagai bagian dari fondasi Islam. Sebagian mereka bahkan berpendapat bahwa hadits adalah perkataan setan.
Lalu bagaimana mungkin mereka yang tidak mempercayai hadits itu tetap
melakukan sholat lima waktu. Inilah yang terjadi ketika ustadz Fauzi
(ustadz saya) berdialog dengan seseorang yang menolak hadits dan hanya
percaya al Quran. Ketika waktu maghrib tiba, maka semua yang hadir
disitu melakukan sholat berjamaah tak terkecuali dia yang menolak
hadits itu. Ini kan aneh, bagaimana dia bisa mengetahui tentang
tatacara sholat lima waktu kalau tidak dari hadits. Bahkan apabila
seumur hidupnya dihabiskan untuk mencari tatacara itu di al Quran pun
tidak akan ketemu.

Perjalanan Mencari Hadits

Kalau
kita membaca sejarah tentang perjalanan para perawi atau penyampai
hadits dalam mengumpulkan hadits Rasulullah saw, maka terlihatlah
sebesar apa kesetian mereka untuk melestarikan hadits nabi saw.
Perjalanan mencari hadits itu berbeda-beda sesuai dengan pelaku, tempat
tujuan dan waktunya. Ada yang menempuh jarak beratus kilometer hanya
dengan jalan kaki seperti Abdullah bin Abdul Ghani (269 H).

Ada
yang melakukan pencarian hadits semenjak berusia 15 dan 20 tahun
seperti Abu Ya’la al-Mushili yang wafat pada tahun 307 H, dan juga
dilakukan oleh Muhammad bin Ali yang digelari Abu at-Tursi yang wafat
tahun 510 H. Bahkan ada yang melakukan perjalanan berpuluh-puluh tahun
terus menerus hanya untuk mencari hadits. Orang yang melakukan
perjalanan seperti ini misalnya Muhammad al-Ashbahani, penghafal hadits
dan guru besar Islam yang sangat alim. Mereka inilah yang kadang
disebut pengembara pencari hadits.

Jelas bahwa pencarian hadits
ini tidak dilakukan secara serampangan. Bahkan orientalis Goldziher,
betapapun ingkarnya ia terhadap pemberitaan kaum muslimin, masih
terpaksa membenarkan bahwa pengakuan para pengembara pencari hadits itu
tidak mengada-ada dan berlebih-lebihan.         [Etudes sur la Tradition Islamique, hal.220]

Cabang Ilmu Hadits

Dalam
men-tahrij atau meneliti dan mengkritik suatu hadits maka cabang-cabang
dalam ilmu hadits pun harus dikuasai, seperti ilmu Al jahr wa ta’dil, ilmu Mukhtalaf al-Hadits, ilmu Ilalul-Hadits, ilmu Gharibul-Hadits, ilmu Nasikh Mansukh Hadits dan banyak lagi.

Tidak aneh jika Hazim al-Hamdzani, seorang pakar dalam bidang hadits yang wafat di Baghdad tahun 594, mengatakan, "Ilmu
Hadits mencakup banyak jenis yang jumlahnya ratusan, masing-masing
jenis merupakan ilmu tersendiri. Sekalipun seseorang menghabiskan
umurnya untuk menuntut ilmu-ilmu tersebut, dia tidak akan mencapai
batas akhirnya"
.     [Al-Tadrib 9]


Maka bagaimana mungkin seseorang melakukan tahrij hadits hanya
berdasarkan akal tanpa menguasai ilmu-ilmu tersebut. Bagaimana mungkin
pula seorang muslim mengedepankan akal dalam menjalankan agamanya.
Lihatlah apa yang dikatakan Umar bin Khaththab RA tatkala mencium Hajar
Aswad : "Sesungguhnya aku tahu
engkau hanya sekedar batu yang tidak bisa memberi madharat dan manfaat.
Kalau tidak karena kulihat Rasulullah menciummu, tentu aku tidak akan
menciummu."
[HR. Bukhari dan Muslim, Mukhtashar Shahih Bukhari
no. 795]. Apa yang dilakukan Umar RA itu hanyalah karena ingin
mengikuti apa yang Rasulullah saw lakukan dan bukan karena batu itu
akan memberi manfaat baginya. Ini menunjukan bahwa wahyu dan sunnah lah
yang membimbing akal dan bukan sebaliknya.

Pembela as Sunnah

Goldziher
dan orientalis lainnya, memang belajar hadits bukan untuk mencari
kebenaran. Mereka mencari bukti bahwa apa yang dinamakan hadits tak ada
kaitannya dengan Rasulullah. Ketika bukti itu -memang- tak ditemukan
maka mereka membuat-buat alasan palsu untuk mendukungnya.

Para

ulama tidak tinggal diam, salah satunya adalah    Prof.Dr. Muhammad Musthafa al Azami (Guru Besar Ilmu Hadits Universitas King Sa’ud Riyadh KSA) dengan bukunya Studies In Early Hadith Literature dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Beliau juga menulis buku The History of The Qur’anic Text (Sejarah Teks Alquran dari Wahyu sampai Kompilasi), 2003. Dan beliau juga menulis buku Studies in Hadith Methodology and Literature, 1977.

Dr. Subhi as-Shalih, menulis satu kitab yang diberi judul Ulum al-Hadits wa Musthalahu yang diselesaikan pada tahun 1977 dan dicetak kedalam bahasa Indonesia dengan judul Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, cetakan Pustaka Firdaus Oktober 2002. Pembahasan
dalam kitab ini cukup lengkap dan membahas dari segi keilmuan beserta
pandangan-pandangan tentang kaum orientalis dan juga dijelaskan letak
kejanggalannya. Insya Allah, dari orang-orang seperti merekalah virus orientalis bisa dilawan.

Ketika
"mereka" tidak lagi menggunakan senjata bom, rudal, nuklir dan berbagai
macam kekerasan untuk meredupkan cahaya Islam, maka ketahuilah,
sekarang mereka telah mengganti senjatanya dengan Ghazwul Fikr atau
Perang Pemikiran, suatu senjata yang sangat ampuh bahkan lebih ampuh
dibandingkan rudal, bom dan senjata lainnya untuk meruntuhkan iman dan
aqidah bagi yang tidak mempunyai persiapan dalam bidang ilmu keislaman
seperti ilmu hadits dan sebagainya. Sudah siapkah kita melawan atau
minimal bertahan ?….

Wassalamu’alaikum wr wb
    

Manusia, Agama dan Tuhan

Assalamu’alaikum wr wb

Kadang-kadang suka terpikir, bagaimana manusia tanpa agama dan
Tuhan. Disaat mereka membutuhkan pertolongan, mereka terus berharap
kepada manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Disaat ada permasalahan dalam
hidupnya, dia selalu mencari penjelasan secara logika. Logika memang
punya peranan penting dalam kehidupan, tapi agama pun tidak kalah
pentingnya. Disaat tidak ada seorang pun yang bisa menerima airmatanya,
kepada siapa lagi airmata itu ditujukan.

Disaat seorang manusia
sudah mulai menuhankan ilmu pengetahuan, kebanyakan dari mereka akan
mulai sombong dan merasa bisa menyamai Tuhan atau bahkan menyangkal
adanya Tuhan. Padahal Albert Enstein seorang ilmuwan terkenal pernah
berkata "Science without religion is lame, religion without science is blind".

Mungkin
ada alasan tersendiri kenapa Enstein mengeluarkan pernyataan seperti
itu. Padahal bisa saja beliau dengan otak cemerlangnya itu mengatakan
dirinya setaraf dengan Tuhan. Tapi ternyata tidak begitu, karena dalam
setiap agama di dunia ini semuanya mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan
belum pernah ditemukan satu pun agama yang mengajarkan untuk sombong,
mencuri, memperkosa, membunuh dan hal jelek lainnya.Intinya nilai-nilai
kebaikan itu hanya ada pada agama, atau setidaknya mengadopsi dari
agama. Kalaupun ada mungkin itu adalah sekte.

Oleh sebab itu
dikatakan ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang, karena semakin
tinggi ilmu yang didapat, seseorang cenderung melakukan sesuatu yang
jelek. Contoh, seandainya anda menemukan alat yang bisa menghilangkan
diri anda, apakah anda menjamin bahwa anda ngga akan mencuri, mengintip
orang mandi dan lain-lainnya kalau tidak di imbangi dengan nilai-nilai
kebaikan dari agama ? Bahkan Enstein sendiri pernah menyesal kalau
ternyata salah satu hasil temuannya digunakan untuk saling membunuh.

Bagi
mereka yang menganut paham atheist, agama hanyalah dogma atau bahkan
seperti disebut oleh Karl Marx bahwa agama itu adalah candu masyarakat,
Nietszche pun mengkampanyekan slogan "Tuhan sudah mati". Memang,
pada awal abad kesembilanbelas, atheisme benar-benar telah menjadi
agenda. Kemajuan sains dan teknologi melahirkan semangat otonomi dan
independensi baru yang mendorong sebagian orang untuk mendeklarasikan
kebebasan dari Tuhan. Inilah abad ketika Ludwig Feurbach, Karl Marx,
Charles Darwin, Friedrich Nietzsche, dan Sigmund Freud menyusun
tafsiran filosofis dan ilmiah tentang realitas tanpa menyisakan tempat
buat Tuhan.

Tuhan pun seperti menjadi tokoh fiktif yang
membodohi pemikiran-pemikiran manusia dan membuat manusia menjadi
cengeng dan bergantung kepada sesuatu yang tidak nyata. Beberapa dari
mereka yang saya ajak berdiskusi tentang agama bahkan mengatakan "Agama ? wah gak ada waktu deh  buat dongeng…". Dan sikap ini memang sudah diprediksikan di dalam surat Al Qalam ayat 15, "Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata "Ini adalah dongengan orang-orang dahulu kala".

Fenomena
atheist ini di abad keduapuluh semakin menjadi dengan adanya
konflik-konflik yang berbau agama. Dan mungkin, karena
peristiwa-peristiwa itu muncullah suatu pemikiran baru yang disebut
"liberalism" atau kalau di islam ada sebutan "islam liberal". Pemikiran
yang mencetuskan dimana semua agama adalah sama. Dimana dalam pemikiran
ini sangat lekat dengan unsur sikap toleransi beragama tanpa harus
melihat hukum-hukum dari masing-masing agama itu sendiri.

Contoh
kasus yang mungkin mendekati kebenaran tentang sebab-sebab seseorang
menjadi atheist adalah, ketika seseorang mendapatkan petunjuk untuk
memeluk suatu agama, pemikirannya terdistorsi oleh anggapan bahwa agama
tersebut adalah agama kaum teroris dll. Atau ada juga beberapa yang
mengaku ingin memeluk suatu agama tetapi merasa bimbang dan kurang
yakin dengan konsep ketuhanan yang ditawarkan oleh agama tersebut. Dalam
kasus inilah biasanya seseorang memutuskan untuk menjadi atheist, dan
masih banyak lagi contoh kasus yang lain.

Tapi biasanya ketika
seseorang mencapai akhir hidupnya, barulah mereka mengakui adanya
Tuhan. Kalau kita membaca biografi Hitler, apa yg dia ucapkan sewaktu
menjelang kematiannya ? nafas-nafas terakhir beliau mengucapkan kata "Oh my God" dan nama "Eva Braun".

Kruschev
yang atheist, saat Sovyet pertama kali berhasil meluncurkan pesawat
ruang angkasa jauh sebelum apollo Amerika ada, dengan angkuhnya beliau
berkata "Sudah kami jelajahi ruang angkasa, tak satu Tuhan pun kami temukan". Ironisnya menjelang sakratul maut beliau mengucapkan "Oh My God".

Begitu
juga ketika semua persoalan tidak bisa lagi dijawab dengan logika dan
ilmu pengetahuan, maka pemikiran itu beralih ke Tuhan seperti tokoh
besar filsuf atheist Antony Flew yang akhirnya berpaling kepada Tuhan dan mengeluarkan pernyataan "Karena
orang-orang sudah pasti terpengaruh oleh saya, saya ingin berusaha dan
memperbaiki kerusakan besar yang mungkin telah saya lakukan."

Tapi
mereka yang tidak mengakui adanya Tuhan dan agama sebenarnya hanyalah
cover dari proses pencarian mereka akan Tuhan dan agama yang paling
benar dimana mereka nantinya akan berlabuh dari pengembaraan yang
panjang. Hal ini yang tersirat dari seorang atheist yang iseng-iseng
saya interview.Ketika saya tanya, "Will you ever convert from Atheism ?" Lalu jawabnya :

"When
I find The One. A religion that I could totally identify and feel
comfortable with. One that would give me a peace of mind instead of a
hunger of power and dominance, or serenity instead of constant fear.
It’s actually been a life long search for me. I guess you could say
that I’m still waiting for that little voice in my heart telling me to
go home….."

"Wa aniibuu ilaa rabbikum wa aslimuu lahuu min qabli ay ya’tiyakumul ‘adzaa-bu tsumma laa tunsharuun"

(Dan
kembalilah kamu kepada Rabb mu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum
datang kepadamu azab, kemudian kamu tidak dapat ditolong)

[QS:Az Zumar 54]

Wassalamu’alaikum wr wb

Just a thought

God is in heaven one day when a scientist said to Him,

"God,
we don’t need you anymore. Science has finally figured out a way to
create life out of nothing. In other words, now we can do what you did
in the beginning."

"Oh, is that so? Tell Me…" replies God.

"Well," says the scientist, "we can take dirt and form it into the likeness of you and breathe life into it, thus creating man."

"Well, that’s very interesting…show Me."

So the scientist bends down to the earth and starts to mold the soil into the shape of a man.

"No, no, no…" interrupts God, "Get your own dirt….."

Ya
ya…manusia dengan segala kecerdasan dan kesombongannya semakin hari
semakin mengecilkan makna Tuhan. Padahal yang Dia inginkan hanyalah
agar manusia menaati-Nya. Lalu kenapa masih ada manusia sombong di
dunia ini yang mengatakan "Ini semua hasil usaha gw sendiri !" ? dan dengan mudahnya melupakan Tuhan…..Allah Subhana Wa Ta’ala.

Oh
ya dan manusia itu memang paling cerdik. Mereka itu mahluk Tuhan yang
ketika dalam keadaan susah, stress, butek karena kerjaan, cinta dan
masalah keluarga dll maka mereka ‘kenceng’ berdoa. Dan begitu masalah
selesai, they back to "normal", act like nothing happen and start
forgetting God.

"Dan
apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan)
kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan
memberikan ni’mat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang
pernah dia berdo’a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum
itu,…." 

[QS Az Zumaar: 8]

And so on….and so on………….hope not….