Hadits dan Virus Orientalis
Assalamu’alaikum wr wb
Alkisah
ada dua sahabat sejati yang ditakdirkan untuk terus berjalan
berdampingan di muka bumi ini. Dua sahabat itu selalu berjalan
beriringan kemanapun mereka pergi. Sikap saling tolong menolong pun
tidak pernah mereka lewatkan. Disaat sahabat yang pertama mengalami
kesulitan, maka sahabat yang kedua pun segera datang untuk menolong.
Begitu pun juga sebaliknya. Sejak berabad-abad mereka diciptakan,
mereka selalu terlihat bersama dan hubungan mereka berdua semakin lama
semakin dekat dan tak terpisahkan. Yang lebih menakjubkan, atas eratnya
hubungan mereka berdua itulah efeknya bisa dirasakan oleh semua manusia.
Suatu
hari sahabat kedua jatuh sakit. Sakit yang dideritanya ternyata sudah
cukup lama menjangkiti sang sahabat kedua. Sahabat pertama pun
sebenarnya pernah dijangkiti penyakit yang sama, tapi untungnya
penyakitnya cepat dapat disembuhkan berkat banyaknya bantuan dari
teman-temannya yang lain. Sahabat pertama bisa merasakan kepedihan dan
kenyerian yang dialami oleh sahabat kedua. Kesedihannya bertambah
ketika menyadari bahwa ternyata penyakit ini yang bisa menghilangkannya
hanya sedikit dimuka bumi. Bahayanya lagi, penyakit yang disebabkan
oleh virus itu sangat-sangat menular bagi yang tidak mempunyai
perlindungan khusus terhadapnya. Penyakit itu disebabkan oleh virus
yang bernama "orientalist".
Sahabat pertama bernama al Quran dan yang kedua bernama as Sunnah….
Begitulah
kira-kira analogi kisah dari al Qur’an dan as Sunnah atau yang biasa
disebut hadits, dua sahabat yang tak terpisahkan. Ketika seseorang akan
membuat tafsir al Qur’an maka salah satu cara yang diperlukan adalah
melakukan tafsir menggunakan hadits yang shahih. Didalam buku Ushul fi al-Tafsir
yang ditulis oleh Muhammad bin Shaleh al Utsaimin, beliau menempatkan
cara membuat tafsir al Qur’an dengan hadits di peringkat kedua setelah
membuat tafsir al Qur’an dengan menggunakan al Qur’an. Begitu pun
ketika akan mentafsirkan suatu hadits, maka yang pertama dilihat adalah
bahwa hadits tersebut tidak bertentangan dengan yang ada di al Qur’an.
Inilah yang disebut, dua sahabat yang tak pernah melewatkan untuk
saling tolong menolong.
Ketika al Quran diragukan kebenarannya,
maka para hafiz Qur’an (penghafal al Qur’an) pun unjuk gigi bahwa al
Qur’an tidak ada perbedaan satu titik pun didalamnya. Ketika semua al
Qur’an dimuka bumi ini dikumpulkan maka yang nampak tidak lain hanyalah
kesamaan huruf antara mushaf yang satu dengan yang lainnya didalam
setiap ayatnya. Maka al Qur’an pun selamat dari keragu-raguan. Surat Al
Baqarah ayat kedua semakin mengokohkan pernyataan ini. "Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa".
Kedekatan
dua hal tersebut tentunya akan berdampak positif bagi umat Islam dan
umat manusia pada umumnya. Ini adalah janji Rasulullah saw dengan
sabdanya, "Aku tinggalkan kepada
kamu dua perkara, yang jika kamu berpegang teguh pada kedua-duanya maka
kamu tidak akan sesat, yaitu al-Quran dan as-Sunnah"
Penyakit
yang dimaksud adalah orientalis atau para pemikir barat yang tak
henti-hentinya berusaha menyerang kedua pegangan umat Islam itu. Telah
sejak lama penyakit yang bernama orientalism ini menghampiri al Quran
dan as Sunnah. Orientalis ini adalah sekelompok orang-orang yang
melakukan penelitian sedemikian rupa terhadap al Quran dan Hadits untuk
menimbulkan keragu-raguan terhadap kedua hal tersebut dan menyebarkan
pemikirannya ke umat Islam. Tokoh dibalik para orientalis ini cukup
banyak yang diantaranya adalah Ignaz Goldziher
dan Aloys Sprenger yang sangat bersemangat untuk membuktikan bahwa
hadits itu bukanlah perkataan Nabi Muhammad saw, tapi merupakan bikinan
para ulama di awal abad kedua hijriah.
Goldziher dan Usahanya
Goldziher menurunkan satu pasal khusus tentang penulisan hadits-hadits dalam pembahasannya Muhammedanische Studien dan jilid keduanya diterjemahkan kedalam bahasa Perancis oleh Leon Bercher tahun 1952 dengan judul Etudes sur la Tradition Islamique, Maisonneuve,
Paris. Didalam pasal ini ia mengemukakan banyak dalil yang menyatakan
bahwa pencatatan hadits dilakukan pada awal abad kedua hijriah. Begitu
pun dengan Aloys Sprenger dalam bukunya, Das Traditionswesen beiden Arabern (Hadits Menurut Orang Arab).
Goldziher
berpendapat bahwa hadits tidaklah berasal dari Rasulullah, melainkan
sesuatu yang berasal dari abad pertama dan kedua Hijriyah. Artinya
Goldziher berpendapat bahwa hadits adalah buatan ulama abad l dan abad
ll H. Ia berkata, "Bagian terbesar
dari suatu hadits tidak lain adalah hasil perkembangan Islam pada abad
l dan ll, baik dalam bidang keagamaan, politik, maupun sosial.Tidaklah
benar bahwa hadits merupakan dokumen Islam yang ada pada masa dini,
melainkan pengaruh dari perkembangan Islam pada masa kematangan."
Tujuan kaum orientalis ini bukan semata-mata demi ilmu dan penelitian
belaka, bahkan sebagian mereka cenderung tidak mengakui sebagian
sunnah. Seperti layaknya penyakit menular, maka gambaran pemikir
orientalism ini sama saja. Buah pemikiran ini pun ada di Indonesia dan
bisa dilihat dari pemikiran-pemikiran kaum liberal yang dengan serta
merta berani melakukan kritik dan meragukan matan (isi redaksi) hadits
yang telah jelas-jelas di teliti oleh yang jauh lebih ahli dibandingkan
mereka seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Hadits = Perkataan Setan ?
Ingkar Sunnah pun kurang lebih sama. Sama-sama tidak mengakui as Sunnah (hadits) sebagai bagian dari fondasi Islam. Sebagian mereka bahkan berpendapat bahwa hadits adalah perkataan setan.
Lalu bagaimana mungkin mereka yang tidak mempercayai hadits itu tetap
melakukan sholat lima waktu. Inilah yang terjadi ketika ustadz Fauzi
(ustadz saya) berdialog dengan seseorang yang menolak hadits dan hanya
percaya al Quran. Ketika waktu maghrib tiba, maka semua yang hadir
disitu melakukan sholat berjamaah tak terkecuali dia yang menolak
hadits itu.
tatacara sholat lima waktu kalau tidak dari hadits. Bahkan apabila
seumur hidupnya dihabiskan untuk mencari tatacara itu di al Quran pun
tidak akan ketemu.
Perjalanan Mencari Hadits
Kalau
kita membaca sejarah tentang perjalanan para perawi atau penyampai
hadits dalam mengumpulkan hadits Rasulullah saw, maka terlihatlah
sebesar apa kesetian mereka untuk melestarikan hadits nabi saw.
Perjalanan mencari hadits itu berbeda-beda sesuai dengan pelaku, tempat
tujuan dan waktunya. Ada yang menempuh jarak beratus kilometer hanya
dengan jalan kaki seperti Abdullah bin Abdul Ghani (269 H).
Ada
yang melakukan pencarian hadits semenjak berusia 15 dan 20 tahun
seperti Abu Ya’la al-Mushili yang wafat pada tahun 307 H, dan juga
dilakukan oleh Muhammad bin Ali yang digelari Abu at-Tursi yang wafat
tahun 510 H. Bahkan ada yang melakukan perjalanan berpuluh-puluh tahun
terus menerus hanya untuk mencari hadits. Orang yang melakukan
perjalanan seperti ini misalnya Muhammad al-Ashbahani, penghafal hadits
dan guru besar Islam yang sangat alim. Mereka inilah yang kadang
disebut pengembara pencari hadits.
Jelas bahwa pencarian hadits
ini tidak dilakukan secara serampangan. Bahkan orientalis Goldziher,
betapapun ingkarnya ia terhadap pemberitaan kaum muslimin, masih
terpaksa membenarkan bahwa pengakuan para pengembara pencari hadits itu
tidak mengada-ada dan berlebih-lebihan.
Cabang Ilmu Hadits
Dalam
men-tahrij atau meneliti dan mengkritik suatu hadits maka cabang-cabang
dalam ilmu hadits pun harus dikuasai, seperti ilmu Al jahr wa ta’dil, ilmu Mukhtalaf al-Hadits, ilmu Ilalul-Hadits, ilmu Gharibul-Hadits, ilmu Nasikh Mansukh Hadits dan banyak lagi.
Tidak aneh jika Hazim al-Hamdzani, seorang pakar dalam bidang hadits yang wafat di Baghdad tahun 594, mengatakan, "Ilmu
Hadits mencakup banyak jenis yang jumlahnya ratusan, masing-masing
jenis merupakan ilmu tersendiri. Sekalipun seseorang menghabiskan
umurnya untuk menuntut ilmu-ilmu tersebut, dia tidak akan mencapai
batas akhirnya".
Maka bagaimana mungkin seseorang melakukan tahrij hadits hanya
berdasarkan akal tanpa menguasai ilmu-ilmu tersebut. Bagaimana mungkin
pula seorang muslim mengedepankan akal dalam menjalankan agamanya.
Lihatlah apa yang dikatakan Umar bin Khaththab RA tatkala mencium Hajar
Aswad : "Sesungguhnya aku tahu
engkau hanya sekedar batu yang tidak bisa memberi madharat dan manfaat.
Kalau tidak karena kulihat Rasulullah menciummu, tentu aku tidak akan
menciummu." [HR. Bukhari dan Muslim, Mukhtashar Shahih Bukhari
no. 795]. Apa yang dilakukan Umar RA itu hanyalah karena ingin
mengikuti apa yang Rasulullah saw lakukan dan bukan karena batu itu
akan memberi manfaat baginya. Ini menunjukan bahwa wahyu dan sunnah lah
yang membimbing akal dan bukan sebaliknya.
Pembela as Sunnah
Goldziher
dan orientalis lainnya, memang belajar hadits bukan untuk mencari
kebenaran. Mereka mencari bukti bahwa apa yang dinamakan hadits tak ada
kaitannya dengan Rasulullah. Ketika bukti itu -memang- tak ditemukan
maka mereka membuat-buat alasan palsu untuk mendukungnya.
Para
ulama tidak tinggal diam, salah satunya adalah
Prof.Dr. Muhammad Musthafa al Azami (Guru Besar Ilmu Hadits Universitas King Sa’ud Riyadh KSA) dengan bukunya Studies In Early Hadith Literature dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Beliau juga menulis buku The History of The Qur’anic Text (Sejarah Teks Alquran dari Wahyu sampai Kompilasi), 2003. Dan beliau juga menulis buku Studies in Hadith Methodology and Literature, 1977.Dr. Subhi as-Shalih, menulis satu kitab yang diberi judul Ulum al-Hadits wa Musthalahu yang diselesaikan pada tahun 1977 dan dicetak kedalam bahasa Indonesia dengan judul Membahas Ilmu-Ilmu Hadits, cetakan Pustaka Firdaus Oktober 2002. Pembahasan
dalam kitab ini cukup lengkap dan membahas dari segi keilmuan beserta
pandangan-pandangan tentang kaum orientalis dan juga dijelaskan letak
kejanggalannya. Insya Allah, dari orang-orang seperti merekalah virus orientalis bisa dilawan.
Ketika
"mereka" tidak lagi menggunakan senjata bom, rudal, nuklir dan berbagai
macam kekerasan untuk meredupkan cahaya Islam, maka ketahuilah,
sekarang mereka telah mengganti senjatanya dengan Ghazwul Fikr atau
Perang Pemikiran, suatu senjata yang sangat ampuh bahkan lebih ampuh
dibandingkan rudal, bom dan senjata lainnya untuk meruntuhkan iman dan
aqidah bagi yang tidak mempunyai persiapan dalam bidang ilmu keislaman
seperti ilmu hadits dan sebagainya. Sudah siapkah kita melawan atau
minimal bertahan ?….
Wassalamu’alaikum wr wb
wah…mas,teori2 ignaz sayangnya tidak di sebutkan.dan berbagai teori lainnya dari para orientalis juga.sebenarnya jika ingin membantah teori orientalis, akan lebih cocok dg menggunakan teori baru atau teori yang sama & lebih mendukung apa yang telah ada dalam keilmuan hadis.kalau teori mereka kita bls dg teori “arab” dlm arti teori yang sdh ada dlm keilmuan islam, mereka akan tertawa saja mengejek kita. dan jangan lupa,tidak semua orientalis itu jelek dan “negatif”, coba kita lihat, kalau kita ingin mentakhrij hadis secara manual (dengan menggunakan kitab)itu ada kitab induk berjudul “mausu’ah rijal kutub at-tis’ah” dikarang oleh seorang orientalis bernama WEnsink.kita lihat, betapa besar jasa beliau dalam membantu umat Islam yang ingin meneliti hadis rasulullah saw.