February, 2006

Hermeneutika, sebuah jawaban atau…..dagelan ?

Tulisan ini juga dimuat di Hidayatullah.com dengan berbagai perubahan.

Assalamu’alaikum,

Hari Sabtu yang lalu tanggal 25 Februari
saya berkesempatan untuk hadir dalam seminar yang bertajuk "Pro-Kontra
Hermeneutika sebagai Manhaj Tafsir" yang diadakan di gedung Pusat Studi
Qur’an (PSQ) di jalan Fahrudin, Tanah Abang. Acara yang dimulai pukul
sembilan pagi itu menghadirkan tiga pembicara yaitu,

1). Dr.H. Yunahar Ilyas,
Lc, M.A.g, staf pengajar fakultas agama Islam dan Magister studi Islam,
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan pengasuh tetap tafsir Al-Qur’an
pada majalah mingguan Suara Muhammadiyah, Yogyakarta.
2). Dr. Andi Faisal Bakti,
dosen Ilmu Komunikasi pada fakultas Dakwah dan Komunikasi dan program
pascasarjana, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Mengambil gelar doktoralnya di McGill University, Canada tahun 2000 dan
juga seorang peneliti di International Institute for Asian Studies
(IIAS), Leiden, The Netherlands.
3). Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA, Guru Besar dan dosen Progam Pascasarjana IAIN Syarief Hidayatullah Jakarta.

Saya
baru bisa hadir dalam seminar itu sekitar jam setengah sepuluh dan
ketika itu yang sedang menyampaikan presentasinya adalah Dr.H. Yunahar
Ilyas, Lc, M.A.g. Beliau menyampaikan seputar sejarah Hermenutika yang
berasal dari tradisi penafsiran Bible. Menurutnya Bible sejak awal
memang sudah bermasalah dengan teksnya, oleh karena itu perlu
pendekatan secara kontekstual dan dilihat dari sosio-historis si
penulis dalam menafsirkan Bible.

Metode Hermeneutika ini dapat
mengajak pembaca suatu teks untuk memahami isi teks tersebut lebih baik
daripada si penulis teks. Seperti kita ketahui, Bible mempunya beberapa
penulis yang dianggap mendapat inspirasi dari roh kudus seperti Markus,
Yohannes, Matius dan sebagainya. Oleh karena itu heremeneutika ini
dianggap bisa membuat si pembaca teks lebih mengerti dibandingkan si
pembuat teks.

Sedangkan untuk al Qur’an, semua umat muslim di
seluruh dunia mengakui bahwa kitab ini adalah kalamullah. Lafaz dan
maknanya adalah dari Allah (lafdzan wa ma’nan minallah), yang
diwahyukan kepada nabi Muhammad saw melalui perantara Jibril. Sehingga
metode hermenutika ini tidak cocok untuk diterapkan dalam menafsirkan
al Qur’an. Karena apakah kita bisa untuk memahami al Qur’an lebih baik
daripada Yang membuat teks al Qur’an tersebut, yaitu Allah SWT ? Naudzu billah min dzalik.

Presentasi
kedua disampaikan oleh Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA. Beliau dalam
menyampaikan pendapatnya terkesan bersikap di tengah-tengah. Artinya
beliau sebagian menyetujui penolakan yang dilontarkan oleh pembicara
pertama terhadap Hermeneutika dan sebagian lagi menyetujui metode
Hermeneutika. Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA intinya mengatakan bahwa
sebaiknya umat muslim tidak perlu apriori terhadap metode ini, karena
metode ini tetap dapat digunakan dalam menafsirkan teks lain selain al
Qur’an, misalnya teks tafsir. Karena tafsir ini masih buatan manusia
yang tidak luput dari kesalahan, maka metode Hermeneutika ini masih
bisa diaplikasikan pada teks-teks tafsir tersebut.

Presentasi
ketiga disampaikan oleh Dr. Andi Faisal Bakti. Rupanya beliau inilah
yang cukup ditunggu-tunggu oleh para audiens seminar. Sesaat setelah
berada di podium untuk menyampaikan presentasinya, beliau mengakui
bahwa dirinya adalah termasuk yang pro atau menerima metode
Hermeneutika dalam penafsiran al Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa
keinginan menggunakan metode ini adalah karena menurutnya,
tafsir-tafsir yang ada sekarang berada dari zaman klasik sehingga tidak
mampu menyaingi perkembangan zaman masa kini, maka tidak heran umat
muslim sampai sekarang tidak atau belum mampu menyaingi Barat dalam
berbagai sisi.

Misalnya dalam makalah yang ditulis oleh pak
Andi, beliau dalam menafsirkan surat an Nur ayat 31 tentang jilbab,
disitu yang tertera adalah kata juyub atau sekitar wilayah dada wanita
(maaf) saja yang disebutkan mesti ditutup dan tidak menyebutkan bagian
lain seperti kepala, leher, kuping dan lainnya oleh karena itu bagian
yang lain tidak terlalu penting untuk ditutupi dan yang terpenting
menurut beliau adalah bagian juyub nya. Logika apakah ini ? ini sama
saja seperti logika dari IAIN Semarang yang membuat buku "Indahnya Nikah Sesama Jenis"
dan mendukung kawin sesama jenis karena di Qur’an tidak ada larangan
itu. Seperti kata Adian Husaini, di Qur’an juga tidak ada larangan
nikah dengan monyet, lalu apakah mereka nanti akan membuat buku "Indahnya Menikah Dengan Monyet" ?

Alumnus
dari McGill, Canada itu juga mengatakan bahwa Hermeneutika ini
dikatakan sebagai penyelamat kaum wanita. Berkali-kali beliau
mengatakan kalimat-kalimat yang cukup mengandung "feminisme",
dan terlihat seperti berusaha untuk memprovokasi kaum wanita di ruangan
seminar tersebut, misalnya dengan seringnya beliau mengatakan bahwa
wanita harus terus berjuang untuk mendapatkan hak yang sama dengan
laki-laki, wanita tidak boleh kalah dengan laki-laki. Ternyata beliau
pun cukup sering memutarbalikkan ayat-ayat Al Qur’an dengan
bahasa-bahasa yang sebenarnya cukup sulit untuk dimengerti oleh para
audiens. Misalnya pak Andi mengatakan bahwa ayat itu (saya lupa
ayatnya) seharusnya tidak memakai titik karena dulu al Qur’an tidak ada
tanda bacanya.

Itu terbukti ketika setelah ketiga pembicara
menyampaikan makalahnya. Moderator menunjuk tiga orang dari audiens
untuk tanya jawab dengan para pembicara. Salah satunya ada seorang
bapak yang sebagian rambutnya telah memutih dan memakai baju koko,
beliau terlihat sederhana sekali. Tangan bapak itu terlihat bergetar
ketika memegang mic seperti gugup. Beliau memberikan
tanggapan-tanggapan sebanyak tiga point utama yang cukup memperlihatkan
bahwa dia adalah salah seorang yang kontra dengan metode Hermeneutika.

Yang
menarik adalah ketika bapak itu memberikan point yang ketiga, yaitu
beliau meluruskan penafsiran yang dilakukan oleh Dr. Andi Faisal Bakti.
Bapak itu mengatakan bahwa pak Andi telah melakukan kesalahan yang
cukup fatal dalam membuang titik dalam suatu ayat (saya lupa ayat apa),
karena apabila titik itu dibuang maka artinya apabila digabung dengan
kalimat sebelumnya akan menjadi sangat tidak pas dalam susunan
kalimatnya. Bapak itu memberikan contohnya yang kemudian disambut tepuk
tangan riuh para audiens. Ketika mic nya dikembalikan ke depan,
moderator pun mengucapkan, "Terima
kasih kepada bapak……., perlu kita ketahui bahwa beliau adalah
seorang guru besar ilmu tafsir al Qur’an di sebuah Perguruan Tinggi"
. Serentak para audiens pun berkata, "Ooo…pantes…".

Setelah sesi tanya jawab, giliran Dr. Quraish Shihab
yang memberikan pernyataan. Beliau banyak memberikan saran agar para
sarjana-sarjana muda yang belajar di Barat agar lebih berhati-hati
dalam menggunakan metodologi yang digunakan dalam menafsirkan teks
terutama teks al Qur’an. Walaupun ada anggapan bahwa beliau kurang
tegas dalam masalah jilbab dan ini bukan berarti bahwa beliau tidak
mewajibkan. Terlihat dari pemaparan beliau, bisa dikatakan beliau cukup
kontra dengan metode Hermenutika ini dan bahkan mengeluarkan beberapa
pernyataan yang sedikit menyentil para penganut Hermeneutika termasuk
pak Andi Faisal.

Setelah pak Quraish memberikan tanggapan,
giliran tiga pembicara tadi memberikan tanggapan balik atas
pertanyaan-pertanyaan dari tiga audiens tadi dan pernyataan pak
Quraish. Satu persatu, masing-masing pembicara memberikan tanggapan
setiap pernyataan dari para audiens dan pak Quraish dengan baik dan
lancar. Yang cukup menarik adalah setelah pak Andi memberikan tanggapan
atas tiga audiens tadi, ketika giliran menanggapi pernyataan pak
Quraish, pak Andi sambil senyum dan dengan raut wajah yang sedikit
segan mengatakan, "Maaf, saya tidak bisa menjawab atau menanggapi pernyataan pak Quraish". Para audiens kembali dibuat tertawa oleh ulah alumni dari McGill, Canada tersebut.

Setelah
itu acara selesai dengan penutupan dari moderator yang intinya
mengatakan bahwa penilaian buruk atau baik dari penggunaan metode
Hermenutika ini sebagai manhaj tafsir dikembalikan kepada para hadirin.
Seorang bapak disamping saya bergumam sambil beranjak dari tempat
duduknya mengatakan, "Ya sudah jelas toh gimana penilaiannya….". Saya
jadi berpikir, hermeneutika yang diagung-agungkan oleh pengusung Islam
Liberal ini apakah sebuah jawaban ataukah sebuah dagelan ? mengingat di
seminar itu para audiens lebih banyak tertawanya dibandingkan
manut-manut tanda setuju. Kalau ini memang dianggap dagelan, jelas ini
bukanlah dagelan yang lucu.

Wassalamu’alaikum

East Asia Religious Leaders Forum

Assalamu’alaikum

Minggu
yang lalu tanggal 12 Februari saya diundang untuk menghadiri pembukaan
"East Asia Religious Leaders Forum" yang dilaksanakan di Jakarta
Convention Center. Diskusi antartokoh agama-agama itu terselenggara
atas kerja sama Indonesia Comittee on Religion for Peace, Multiculture
Society dan PP Muhammadiyah. Pertemuan dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf
Kalla dan dihadiri juga oleh ketua Indonesia Comittee on Religion for
Peace, Din Syamsuddin.

Tidak ada satu agama pun yang
memerintahkan umatnya untuk berbuat jahat, menoleransi perbuatan jahat,
atau membiarkan berlangsungnya kejahatan. Sebaliknya, semua agama
memerintahkan umatnya untuk berbuat baik. Bukan hanya terhadap mereka
yang satu agama, tapi juga terhadap orang lain dari agama lain.

Atas
dasar itulah, antara lain, kemarin para tokoh agama dari 17 negara
berkumpul di Jakarta Convention Center. Mereka mewakili sepuluh agama
yang berbeda: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konfusius, Tao,
Sikh, Bahai, dan Zoroaster. Selama beberapa hari, sejak kemarin, mereka
yang tergabung dalam East Asia Religious Leaders Forum itu akan
mendiskusikan dan membahas titik temu ajaran dari agama-agama yang
berbeda tersebut. Titik temu yang diharapkan dapat menciptakan
kehidupan yang lebih toleran antarpara pemeluk agama yang berbeda-beda.

Pertemuan
antartokoh agama-agama tersebut tentu mempunyai makna sangat penting.
Apalagi pada kondisi sekarang, di tengah memanasnya reaksi masyarakat
Islam akibat pelecehan Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh surat
kabar Denmark Jyllands-Posten dan beberapa media massa di beberapa
negara.

Pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW di media itu atas
nama kebebasan adalah suatu hal yang konyol. Sebebas-bebasnya seseorang
pun masih ada batasnya yaitu asal tidak menyakiti pihak lain. Terlebih
apa yang dilakukan media tersebut ternyata mempunyai standard ganda
mengenai kebebasan berpendapat. Jika karikatur Nabi Muhammad bisa
dimuat di media itu, lalu kenapa mereka pernah menolak untuk memasang karikatur Yesus ?

Setelah
peristiwa tersebut, ramai umat Islam dari berbagai penjuru mulai
menunjukkan rasa ketidaksukaannya atas kejadian tersebut. Cara yang
mereka ekspresikan pun macam-macam dari yang bersifat anarkis sampai ke
level pemikiran. Tentu cara kekerasan adalah bukan sesuatu yang
diajarkan dalam Islam. Tapi bisa jadi bahwa kejadian ini memang sengaja
dipicu oleh Barat untuk semakin memperkuat dugaan mereka bahwa Islam
memang anarkis, penuh kekerasan dan sebagainya. Kalau memang benar itu
adalah strategi mereka, maka mereka tidak lain hanyalah sekelompok
banci yang hanya bisa berlindung di balik "kebebasan berpendapat".

Semoga
pertemuan yang bisa dibilang cukup megah ini dapat sedikit merubah
stigma agama sebagai biang bencana. Terutama Islam yang semakin hari
berita tentang Islam semakin diselewengkan dan menimbulkan interpretasi
negatif bagi orang diluar Islam. Kenapa menurut saya Islam yang harus
menjadi fokus perhatian, adalah karena citra yang terbentuk selama ini
yaitu Islam adalah teroris, penjahat dan sebagainya.

Tapi
pernahkah atau seringkah kita mendengar bahwa Kristen teroris, Budha
adalah agama anarkis dan sebagainya ? No ! Hanya Islam yang oleh Barat
dirancang sedemikian rupa untuk dijadikan musuh. Juga penggunaan
kata-kata yang tidak tepat yang selalu dialamatkan ke Islam, seperti
Islam "fundamentalis" atau Islam "fanatik".
Sebuah jargon-jargon yang memang sengaja dibuat oleh kalangan media
Barat untuk menimbulkan Islamophobia. Mudah-mudahan stigma negatif yang
terlanjur terbentuk itu akan segera pudar, cepat atau lambat. Amin

Wassalamu’alaikum

Kapankah hal itu akan terjadi ?

Assalamu’alaikum,

Kadangkala
saya suka bertanya, kapankah kira-kira dunia ini akan berakhir.
Kapankah segala aktifitas di muka bumi ini terhenti dan seperti apakah
nanti rasanya. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu seringkali hadir kalau
saya sedang sendiri atau sedang tidak memikirkan sesuatu yang berat.
Misalnya ketika saya sedang berada di jalan, saya sering melihat
gedung-gedung yang menjulang tinggi, orang-orang yang lalu lalang di
jalan, para pengemis meminta-minta atau ketika sedang hujan lebat dan
langit berubah menjadi gelap dengan seketika, saat seperti itulah
biasanya pertanyaan tentang kapan dunia ini berakhir itu timbul. Dia bertanya, "kapankah hari kiamat?" [QS 75:6].

Pertanyaan
seperti itu timbul bukan berarti saya menginginkan agar dunia ini cepat
berakhir. Walaupun kadangkala ketika saya melihat atau mendengar
sesuatu yang terlalu membuat hati saya sedih yang berkaitan dengan
agama Islam biasanya terbersit hal semacam itu, tapi hanya beberapa
detik saja karena saat itu saya langsung menyadari bahwa perbekalan
saya masih sedikit untuk nanti.

Saya masih membutuhkan kehidupan
dunia ini untuk memperbanyak amal baik saya, saya telah hidup lebih
dari dua puluh tahun tapi bukan amalan baik yang saya kumpulkan
melainkan hanya mengumpulkan dosa. Di dunia ini saya banyak menemukan
seseorang yang mempunyai hobby sebagai kolektor mobil, motor, perangko
dan lain sebagainya, dan biasanya seorang kolektor pastilah bangga dan
merawat apa yang dikoleksinya itu. Tapi….adakah orang yang bangga
menjadikan dosa sebagai koleksinya dan sekaligus merawatnya ?…ya
Allah semoga kami tidak termasuk golongan yang itu…

Setelah
saya mengenal kembali Islam dan mulai senang membaca buku-buku hadits,
saya banyak menemukan berbagai macam tanda-tanda bahwa dunia ini akan
berakhir. Saya yakin temen-temen disini pun ada beberapa yang pernah
membaca atau mendengar tentang tanda-tanda kiamat itu di al Qur’an dan
hadits. Saya perhatikan diantara tanda-tanda yang tertera dalam
kitab-kitab hadits itu banyak yang telah terjadi. Salah satu yang
seringkali terlihat adalah hadits yang mengatakan bahwa tanda-tanda
dunia akan berakhir adalah laki-laki yang mulai menyerupai perempuan
dan sebaliknya. Begitu juga dengan semakin banyak laki-laki dan wanita
yang berpakaian tapi seperti telanjang dan bangga dengan tank top nya.

Walaupun tanda-tanda dunia akan berakhir telah banyak disebutkan di dalam al Quran dan hadits-hadits dari mulai yang shahih (asli) sampai yang dhaif
(lemah), tapi saya yakin tidak ada seorang pun yang mampu
memprediksikan secara tepat kapan hal itu terjadi, not even the prophet
atau malaikat sekalipun.

Tiba-tiba saya jadi berpikir, bagaimana seorang manusia yang dhaif,
yang tidak akan bisa mencapai level nabi atau bahkan malaikat, bisa
dengan bangga dan mudahnya berjalan di muka bumi ini padahal dunia ini
bisa berakhir kapan saja tanpa mengenal waktu. Saya pun sering
bertanya, sholat yang saya laksanakan lima waktu sehari dan amalan
sunnah yang dilakukan, mampukah membawa saya ke kehidupan yang lebih
baik nanti. Apakah yakin bahwa Allah pasti menerima amalan-amalan
tersebut ?. Sungguh saya tidak ingin menjadi orang yang sombong dengan
mengatakan bahwa, ya amalan saya pasti diterima Allah.

Tapi
bukankah malaikat Izrail selalu berada di dekat kita yang selalu siap
mencabut nyawa seseorang kapanpun dan dimanapun Allah perintahkan. Saya
pernah membaca sebuah hadits yang menyatakan bahwa malaikat Izrail atau
malaikat maut itu mengunjungi dan melihat wajah kita sebanyak tujuh
puluh kali dalam sehari. Hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin
Abbas r.a, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, "Malaikat
maut memerhati wajah setiap manusia di muka bumi ini 70 kali dalam
sehari. Ketika Izrail datang merenungi wajah seseorang, didapati orang
itu sedang bergelak tawa. Maka berkata Izrail: Alangkah herannya aku
melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah Taala untuk mencabut
nyawanya, tetapi dia masih saja bersenang-senang dan bergelak tawa."

Lalu
bagaimana ketika kita sedang tertawa dan bercanda, tiba-tiba malaikat
Izrail melaksanakan perintah Tuhan saat itu juga, bagaimana ketika kita
sedang bekerja tiba-tiba sang malaikat menarik nafas kita yang terakhir
detik itu juga. Dan apa jadinya ketika di waktu malam kita memejamkan
mata untuk tidur, lalu keesokannya kita bisa melihat suami, istri, anak
dan seluruh keluarga kita sedang menangisi jasad kita sendiri….

Pada saat sudden death
seperti itu, sempatkah kita mengucap ampun dan bertaubat kepada Allah,
sempatkah kita mohon maaf sekaligus pamit kepada keluarga ?. Sekali-kali
tidak, apabila nyawa telah sampai ke kerongkongan dan dikatakan.
"Siapakah yang dapat mengobati", dan dia yakin sesungguhnya itulah
waktu perpisahan dengan dunia.
[QS 75:26-28]

Ya Allah…..Allahumma ya musharrifal qulub…..sharrif qulubana ala tha’atika

Wahai Dzat yang Maha Memalingkan hati, palingkanlah hatiku untuk senantiasa mematuhi-Mu

Allahumma
anta robbii….laa ilaaha illa anta kholaqtanii….wa anaa ‘abduka…wa
annaa’ala ‘ahdika….wa wa’dika mastatho’tu a’uudzubika…min syarri
maa shona’tu abuu-ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu-ulaka bidzanbii
faghfirlii fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta…
[HR. Bukhari 6161, Tirmidzi 3524]

"Ya
Allah, Engkau adalah Tuhanku; tiada tuhan yang berhak disembah selain
Engkau. Engkaulah yang telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu dan
aku berada dalam janji dan ikrar kepada-Mu semampuku. Aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan apa yang telah kulakukan; aku mengakui semua
nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku; dan aku mengakui semua
dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tiada yang dapat
mengampuni dosa-dosa selain Engkau…."

Sungguh…kita tidak akan pernah tahu kapan hal itu akan terjadi…

Wassalamu’alaikum….

Serangan pemikiran dalam Pendidikan Islam

Assalamu’alaikum,

Serangan pemikiran atau al ghazwu’l-fikri
dapat disebut sebagai sebuah istilah kontemporer yang banyak
dipopulerkan di kalangan umat Islam. Sebagai serangan yang bukan
berbentuk fisik, dia mempunyai karakteristik yang dekat dengan brain
washing atau dengan istilah lain thought control, ideological reform.
Setiap ideologi atau ajaran mengklaim mempunyai otoritas kebenaran dan
berusaha meyakinkan pihak luar dengan berbagai cara. Penerimaan
"kebenaran" pada pemikiran seseorang memerlukan pembersihan terhadap
kepercayaan lama orang tersebut tentang makna kebenaran.

Serangan
pemikiran ini apabila kita lihat dari susunan katanya sudah jelas bahwa
yang dimaksud dengan serangan itu bukanlah secara fisik seperti
menggunakan senjata atau apapun yang berhubungan dengan kontak fisik
secara langsung yang mengandung unsur kekerasan, tapi lebih merupakan
serangan yang sepintas tidak terlihat dari segi fisik tetapi mampu
menembus akal dimana akal seseoranglah yang menentukan gerak tubuh dan
perilaku seseorang tersebut.

Sebagai perang urat saraf, ia
mempunyai strategi dan sasaran serta penghalalan berbagai cara untuk
mencapai tujuannya. Misalnya, seorang musuh disulap sedemikian rupa
sehingga ia menganggap lawan sebagai kawan atau juga sebaliknya, atau
sekurang-kurangnya ia idak memihak kepada salah satu dari dua pihak
yang sedang berkonfrontasi. Serangan pemikiran atau brain washing ini
biasanya sangat efektif pada saat keadaan tidak normal atau tidak
berimbang. Singkatnya serangan pemikiran ini akan mudah melancarkan
serangannya di lingkungan atau individu-individu yang belum mempunyai
kepribadian yang tangguh dan ilmu yang cukup.

Penggunaan istilah ghazwu’l-fikri dikalangan umat Islam, berarti maksud sebenarnya adalah ghazwu’l-fikri al Islami
atau serangan yang ditujukan kepada pemikiran Islam oleh lawan
pemikiran itu sendiri. Serangan ini biasanya dipahami berasal dari
dunia Barat secara umum yang mempunyai hubungan atau kepentingan di
dunia Islam. Dalam hal ini Barat berada dalam posisi kuat karena
dominasinya dalam segala bidang dan dunia Islam berada dalam posisi
lemah karena pengaruh dominasi asing tersebut.

Apabila kita
cermati, serangan pemikiran terhadap umat Islam di Indonesia
sangat-sangat terasa pengaruhnya dari serangan pemikiran tersebut. Dulu
tidak ada kyai yang mendukung goyang erotis dan sekarang ada. Dulu
tidak ada cendekiawan muslim yang menghalalkan nikah beda agama dan
sekarang ada. Dan yang terpenting, di zaman sekarang sudah ada seorang
profesor atau doktor yang bisa dengan mudahnya mengatakan bahwa al
Qur’an yang sekarang telah mengalami distorsi dibanding ketika zaman al
Qur’an pertama kali turun, oleh karena itu al Qur’an perlu dirombak dan
dibuat edisi kritisnya. Itulah sekilas efek dari serangan pemikiran
yang tanpa kita sadari telah masuk ke sendi-sendi umat Islam bahkan
sampai ke level intelektual.

Didalam tataran intelektual,
sebenarnya gejala serangan pemikiran terhadap Islam ini dapat menjadi
studi banding atau rival, sehingga dari berbagai perbandingan yang
dilakukan diharapkan dapat menemukan suatu metodologi baru dalam
memahami Islam dan menerapkannya nilai-nilainya di masyarakat. Tapi
alih-alih untuk mempelajari Islam dari Barat dan menemukan kelemahan
Barat dalam kajian Islam, seorang cendekiawan pun bisa terperosok.

Prof.
Dr. Harun Nasution yang sempat menjabat rektor IAIN Syarif Hidayatullah
(1973-1984), berangkat ke Montreal, Kanada dan menuntut ilmu di McGill
University yang saat itu dan sampai sekarang mempunyai program yang
dinamakan The McGill - IAIN Relationship. Dan struktur organisasi
nya pun diisi oleh beberapa tokoh pendidikan dari IAIN seperti
Azyumardi Azra dari UIN Jakarta , Amin Abdullah dari IAIN Yogyakarta.
Buku yang mungkin menarik untuk dibaca berkenaan dengan dampak dari
program kerjasama antara IAIN dan McGill University adalah buku yang
berjudul, "The Modernization of Islam in Indonesia, An Impact Study on the Cooperation between the IAIN and McGill University".


Setelah
menuntut ilmu disana, beliau pulang dengan membawa segudang pemikiran
baru dan mengeluarkan buku berjudul "Islam Ditinjau dari Berbagai
Aspeknya", yang ketika itu menuai banyak kritik yang cukup tajam dari
kalangan cendekiawan muslim lainnya karena buku itu penuh dengan
pemikiran Barat terhadap Islam yang mempunyai banyak kelemahan dan
dapat membuka pintu ke arah sekularisme, plurarisme dan liberalisme,
dimana faham-faham tersebut telah difatwakan haram oleh MUI pada tanggal 29 Juli 2005.
Salah satu tokoh yang gigih mengkritik isi buku tersebut adalah Prof.
HM Rasjidi yang ternyata adalah satu almamater dengan Prof. Dr. Harun
Nasution dan sama-sama pernah menuntut ilmu dari McGill University.
Hanya yang menjadikannya beda adalah, Prof. HM Rasjidi seakan
menggunakan kaidah, know your enemy so you know how to defeat them,
sebaliknya dengan Prof. Dr. Harun Nasution yang justru seakan
berkompromi dengan mereka.

Di dalam lingkungan pendidikan yang
kelihatannya Islami pun belum tentu seratus persen terbebas dari
serangan pemikiran ini. Serangan pemikiran bekerja dengan cara yang
lihai, terselubung dan mematikan (swift, silent & deadly).
Penanaman ideologi yang menyimpang sekarang sangat mudah dilakukan
bahkan di belakang titel profesor dan doktor. Maka tidak heran ketika
seorang profesor dan cendekiawan muslim saat ini bisa meneriakan slogan
say no to syariat Islam.

Tentunya tidak semua orang bisa
mendeteksi gejala serangan pemikiran ini. Oleh karena itu penanaman
ilmu tentang Islam di usia sedini mungkin sangatlah diperlukan dan juga
materi pembelajarannya tidak hanya berhenti misalkan hanya sampai tahap
al Qur’an itu wahyu Allah dan Hadits adalah sunnah Rasulullah oleh
karena itu wajib diimani, tapi juga mengerti mengapa al Qur’an dan al
Hadits bisa tetap asli dan layak untuk diimani sehingga hal-hal yang
menyangkut kedua dasar aqidah Islam yang sudah pasti tersebut tidak
perlu lagi diutak-atik dengan alasan modernisasi Islam.

Belajar
Islam kepada orang Barat yang belum muslim, walaupun hanya untuk
belajar metodologi, juga akan menyangkut aqidah keagamaan, khususnya
bila metodologi yang dimaksudkan adalah metodologi pengamalan ajaran
Islam. Islam sebagai pandangan hidup muslim adalah risalah (pesan yang
disampaikan) dan juga thariqah (metode) tentang bagaimana menerapkan
pesan-pesan tersebut dalam kehidupan nyata. Thariqah tersebut banyak
terdapat dalam sirah Rasulullah saw berupa langkah-langkah yang beliau
lakukan selama hidup dalam menerapkan ajaran Islam.

Bila memang
dibutuhkan, maka sebenarnya belajar Islam ke Barat hanya dapat
dibenarkan sebagai studi perbandingan dan pelengkap untuk memperluas
wawasan. Hanya saja Allah telah memperingatkan kita di dalam surat Al
Hujuraat ayat 6,

"Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa
suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan
suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."


Di dalam kitab Muzil Al-Ilbas,
para ulama mendefinisikan orang yang termasuk golongan fasiq adalah
seseorang yang mengakui hal-hal semacam shalat, zakat, puasa dan
lain-lain sebagai ketentuan yang Allah tentukan kepada umat Islam,
hanya saja dia tidak melakukan semua itu maka dia termasuk golongan
yang fasiq. Tetapi apabila dia tidak mengakui semuanya termasuk hukum
Allah, maka dia termasuk golongan yang kafir.

Apabila Allah saja
sudah memerintahkan kita untuk memeriksa lebih teliti dan hati-hati
terhadap berita yang dibawa golongan yang fasiq, tentunya kita
diharuskan lebih extra teliti lagi didalam mengambil berita atau ilmu
dari golongan yang tidak mengakui Allah Subhana Wata’ala sebagai Tuhan
mereka dan Muhammad sebagai nabinya agar tidak terjadi musibah seperti
digambarkan Allah dalam surat al Hujuraat tadi.

Wassalamu’alaikum