June, 2006

Mencari makna Tuhan dan tugas Manusia

Assalamu’alaikum,

Sebenarnya pembahasan tentang konsep Tuhan dalam Islam sudahlah selesai. Agama Islam yang dibawa dan disebar oleh Nabi Muhammad saw adalah agama yang menjunjung tinggi nilai tauhid dan meng-Esa-kan Tuhan yang satu yaitu Allah Subhanallahu wa ta’ala dan menyingkirkan kultus dan penyembahan terhadap tuhan-tuhan lainnya. Adalah menarik sekaligus menyedihkan bahwa sebagian umat Islam ada yang belum menyadari atau menghayati konsep Tuhan dalam Islam sehingga proses pengenalan akan Tuhan hanya terjadi dalam tataran pemikiran tetapi belum mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh karena kurangnya pemahaman tentang konsep Tuhan dalam Islam.

Dalam konsepsi Aristotle (384-322 SM), Tuhan disebut sebagai "unmoved mover", yaitu penggerak yang tidak bergerak. Tuhan Aristotle adalah Tuhan filsafat, Tuhan yang ada dalam pikiran, karena ia harus ada secara logika sebagai penggerak alam semesta yang senantiasa berada dalam keadaan bergerak dan berubah. Tuhan dalam konsepsi Aristotle hanya tahu dirinya sendiri, dan tidak paham apa yang ada diluar dirinya.

Tentunya Tuhan dalam konsepsi Islam tidaklah demikian. Tuhan menurut al-Qur’an, adalah hakikat yang mutlak (al-Haqq), sementara semua bentuk ketuhanan yang lain adalah salah (bathil), mereka hanyalah nama. Ia bukanlah suatu bentuk proyeksi pikiran manusia, seperti diduga oleh Feurbach, juga Tuhan bukan produk kebencian orang-orang yang kecewa, seperti kata Nietzsche. Bukan pula sebuah ilusi orang-orang yang masih kekanak-kanakan, seperti pendapat Freud. Juga bukan seperti dugaan Marx, suatu candu masyarakat, suatu hiburan yang dipersembahkan demi keuntungan pribadi.

Tuhan menurut al-Qur’an adalah Dia yang selalu hidup (al-Hayy al-Qayyum), yang melampaui batasan tata ruang dan waktu, Yang Pertama (al-Awwal) dan Yang Akhir (al-Akhir), Yang Nyata (al-Zhahir) dan Tersembunyi (al-Bathin). Hakekat Tuhan yang pasti adalah tidak dapat diketahui, karena Ia melampaui semua pengertian.

Berulang kali al-Qur’an menyebut bahwa Tuhan selalu hadir dan dekat, bahkan dalam kenyataannya lebih dekat dari urat leher manusia. Apa maksudnya ? Tentu, ini bukan berarti pengertian fisik Tuhan yang berada atau dekat, meskipun dalam kenyataannya dekat dengan manusia. Ini mengimplikasikan, seperti ditunjukkan oleh konteks itu, bahwa Tuhan selalu sadar dan memperhatikan gerak hati dan tindakan-tindakan luar manusia, dengan harapan bahwa manusia akan menahan diri dari tujuan-tujuan yang tidak disukai oleh Penciptanya.

Seiring berputarnya waktu, bergantinya zaman dan semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, banyak tuhan-tuhan baru yang tercipta. Manusia tidak lagi mengenal atau bahkan enggan mengenal Tuhan dengan "T" besar. Setiap keputusan yang dibuat dalam kehidupannya selalu menomer sekiankan Tuhan dan menomer satukan dirinya. Bagi sebagian manusia yang telah kering hatinya, Tuhan tidak lagi menjadi tujuan dalam mendapatkan solusi melainkan hanya bilik pengaduan. Mereka menganggap Tuhan tidak lagi berhak mengatur apa yang sudah menjadi urusan manusia, sehingga hukum yang dibuat oleh Tuhan pun ditolak mentah-mentah karena kata mereka hukum itu tidak relevan lagi dengan zaman.

Teolog kontroversial Jerman, Hans Kung dalam bukunya Does God Exist ?, menceritakan kisah yang menunjukkan kesombongan hati sejumlah ilmuwan sekular. Ketika ditanya apakah ia meyakini adanya Tuhan, seorang pujangga dan tokoh filsafat besar mengatakan: "Tentu tidak, saya adalah seorang ilmuwan". Sedangkan filsafat al-Qur’an tentang alam semesta akan mendorong seorang ilmuwan menjawab, "Ya, tentu, justru karena saya seorang ilmuwan, maka saya meyakini".

Bagi mereka yang menganut paham atheist, agama hanyalah dogma atau bahkan seperti disebut oleh Karl Marx bahwa agama itu adalah candu masyarakat, Nietszche pun mengkampanyekan slogan "Tuhan sudah mati". Memang, pada awal abad kesembilanbelas, atheisme benar-benar telah menjadi agenda. Kemajuan sains dan teknologi melahirkan semangat otonomi dan independensi baru yang mendorong sebagian orang untuk mendeklarasikan kebebasan dari Tuhan. Inilah abad ketika Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, Friedrich Nietzsche, dan Sigmund Freud menyusun tafsiran filosofis dan ilmiah tentang realitas tanpa menyisakan tempat buat Tuhan.

Muhammad Iqbal dengan tepat sekali mengingatkan bahwa pengetahuan ilmiah yang tidak mempertinggi dan tidak dikaitkan pada agama adalah iblis. Ia menulis, "Akal yang diceraikan dari cinta adalah durhaka (seperti iblis), sedangkan akal yang disiram dengan cinta pastilah memliki sifat ketuhanan". Dan inilah yang akhir-akhir ini seringkali kita lihat atau dengar di lingkungan sekitar kita, tentang seseorang yang dianggap berilmu tetapi ilmu itu digunakan untuk melawan atau memutar balikkan perintah Tuhan sebagai Sang Pencipta alam semesta.

Semua ciptaan di alam semesta ini semisal malaikat, langit, semut dan bahkan petir adalah penting untuk secara spiritual, dalam arti bahwa ciptaan-ciptaan itu pun menyerukan pujian kepada Tuhan dalam kondisi yang melampaui pengertian manusia (QS 17:44). Walaupun begitu, semua alam semesta ini dijadikan untuk dimanfaatkan oleh manusia.

Pemanfaatan ini adalah untuk mempertinggi tujuan penciptaan manusia yang sebenarnya, yaitu untuk melaksanakan ibadah kepada Tuhan sesuai dengan surat Adz Dzaariyaat 56, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". Tuhan sendiri tidak memerlukan balasan berupa pemberian dari manusia atas diciptakannya mereka beserta alam semesta ini (QS 51:57), karena Tuhan-lah Dzat yang selalu hidup (al-Hayy al-Qayyum) dan berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun atau apapun (QS 2:255). Sehingga apabila seorang manusia dalam seumur hidupnya selalu digunakan untuk beribadah pun tidak akan menambah keagungan Tuhan, melainkan memberikan keuntungan dan kebaikan terhadap manusia itu sendiri secara lahir dan bathin, untuk di dunia dan terlebih lagi untuk di akhirat.

Manusia dan tugasnya

Keberadaan manusia di dalam dunia ini dilengkapi dengan dua keadaan. Manusia adalah mahluk yang terdiri dari jasad dan ruh; artinya, mahluk jasadiah dan ruhaniah sekaligus. Manusia bukanlah mahluk ruh murni dan bukan pula jasad murni, melainkan mahluk yang secara misterius terdiri dari kedua elemen ini. Allah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dibandingkan dengan mahluk lainnya. Manusia yang diberi akal pikiran, perasaan, cinta, dan fisik yang lebih baik agar bisa membedakan dan mengetahui mana yang lebih baik atau buruk dalam kehidupan ini. Tetapi itu bukan berarti manusia adalah mahluk yang luput dari segala kekurangan.

Kekurangan manusia sebagai mahluk banyak disebutkan dalam al-Qur’an. Misalnya, manusia adalah mahluk yang enggan dan kikir (QS 17:100), mahluk yang paling banyak bantahannya (QS 18:54), sangat sedikit dalam mensyukuri nikmat (QS 7:10), tidak sabar dan suka berkeluh kesah (QS 70:19-20), suka melampaui batas dan merasa kaya (QS 96:6). Disebutkan lagi, manusia adalah mahluk yang mencintai kehidupan dunia dan tidak memperdulikan akibat dari perbuatan mereka di hari akhir (QS 76:27) dan lain sebagainya. Maka terlihat jelas, manusia-lah yang membutuhkan Tuhan dan bukan sebaliknya. Manusia akan selalu membutuhkan Tuhan dalam segala aspek kehidupannya agar menjadi insan yang lebih baik.

Allah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dibandingkan dengan mahluk lainnya. Manusia yang diberi akal pikiran, perasaan, cinta, dan fisik yang lebih baik agar bisa membedakan dan mengetahui mana yang lebih baik atau buruk dalam kehidupan ini. Kebebasan manusia, akal pikiran dan cabang-cabangnya yang lain, begitu juga alam semesta yang besar ini, haruslah digunakan bukan semata-mata demi kenikmatan tetapi sebagai suatu bentuk beribadah. Dengan cara ini, dimensi spiritual terdalam semua mahluk yang dimanfaatkan manusia untuk beribadah akan mendatangkan keserasian dalam tujuan dan tatanan penciptaan, bukan lagi kekacauan.

Oleh karena itu, sudah saatnya manusia, semakin memahami konsep Tuhan seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap ruas kehidupan kita agar setiap manusia semakin mengerti akan tugasnya sebagai hamba. Bukan untuk keuntungan Tuhan, tapi demi manusia itu sendiri.

Wassalamu’alaikum

Kuliah di INSISTS

Assalamu’alaikum,

Alhamdulillah hari Sabtu tanggal 24 Juni kemarin adalah yang kedua kalinya saya mengikuti kuliah tentang pandangan hidup Islam bersama INSISTS dan yang bertindak sebagai pemateri adalah pak Adnin Armas. Topik yang dibahas dalam kuliah perdana adalah konsep Tuhan. Sebenarnya banyak sekali yang diutarakan oleh pak Adnin tentang konsep Tuhan itu. Pembahasan hari itu tidak hanya seputar itu saja, pemikiran-pemikiran dari Jacques Derrida, Michael Foucault dan Muhammad Arkoun pun dibedah. Pada saat yang sama pula konsep-konsep mereka dibenturkan dengan karya-karya Syed Naquib Al-Attas.

Jujur saja, di hari pertama kuliah itu materinya terasa sangat berat bagi audiens, karena berbagai macam istilah-istilah filsafat banyak dikeluarkan dan sedikit akademis. Tapi saya rasa memang itulah konsekuensi ketika kita akan mendapatkan pemahaman yang benar tentang konsep-konsep dalam Islam. Untuk sampai kepada inti materi, pak Adnin bisa menghabiskan 15 menit hanya untuk membahas definisi dari suatu istilah, dan ini memang sangat diperlukan. Oleh karena itu, ternyata banyak yang setuju dengan saya bahwa waktu kuliah ini dirasakan sangat terlalu singkat.

Untuk membahas konsep Tuhan saja, pak Adnin mesti menjelaskan apa definisi dari kata “konsep” itu sendiri selama hampir setengah jam lebih. Apalagi ketika harus menjelaskan definisi “Tuhan”. Juga ketika akan membahas konsep agama, yang para ahli sampai saat ini belum bisa menjelaskan secara pasti apa arti agama. Di topik ini pemikiran Frithjof Schuon tentang konsep agama pun dibahas.

Biasanya kita selesai kuliah jam 4 sore, mundur satu jam dari waktu yang ditetapkan yaitu jam 3. Selesai kuliah kita shalat ashar berjamaah dan setelah itu kita berdiskusi santai, tidak ada kesan formal. Para peserta yang lain pun ternyata senang bercanda. Tapi menurut saya, disinilah transfer ilmu yang sesungguhnya. Pak Adnin banyak cerita mengenai perubahan pemikiran di IAIN dan latar belakangnya. Beliau juga bercerita sepak terjangnya ketika harus berhadapan dengan orang-orang liberal di Jakarta (Ciputat) dan di Malaysia. Seru sekaligus prihatin mendengar cerita pak Adnin.

Sebenarnya saya ingin sekali menulis lebih detail tentang isi kuliah itu disini. Tapi dikarenakan materinya cukup menguras pikiran, sehingga saya sendiri bingung untuk menuliskannya secara detail. Mungkin istilah singkatnya, insya Allah saya mengerti apa yang dijelaskan pak Adnin, hanya saja saya belum mampu menuliskannya kembali. Tapi alhamdulillah, rekan kita di multiply, mas Satrio yang juga mengikuti kuliah tersebut membawa voice recorder dan berhasil merekam kuliah yang berlangsung kurang lebih dua jam itu. Insya Allah setelah dirapikan filenya dan minta izin ke pak Adnin, kita akan publikasikan file tersebut. Pak Adnin pun akan memberikan semua makalah yang digunakan selama kuliah itu kepada saya setelah semua kuliah selesai. Jadi buat temen-temen yang ingin makalahnya, sabar ya, masih ada empat pertemuan lagi :). Oh ya jangan lupa, INSISTS juga akan mengadakan seminar sains Islam. Info lebih lanjut bisa dilihat disini.


Wassalamu’alaikum

Sebuah ikhtiar

Assalamu’alaikum

Kayfa haluk akhi wa ukhti ? semoga selalu dalam keadaan sehat dan dilindungi oleh Allah Sang Pemberi nikmat. Amin. Lama ngga terdengar kabarnya ya. Tapi sepertinya memang saya saja yang sedikit sok sibuk :). Saya hanya mau bercerita sedikit disini, semoga ada ibrah yang bisa diambil dari tulisan ini.

Tanggal 18 September tahun 2004, seorang teman dari sd, pernah menuliskan testimonialnya di account friendster saya. Isinya singkat saja, tapi cukup menarik bagi saya. Begini isinya : "lelaki yg tidak bisa diam..namun baikhati..weheeeee..kenalnya dah dr sd..dr dulu ampe skrg tetep keukeuh berwirausaha..way to go indra!!". Entah kenapa ketika saya menerima testimonial itu dari dia, saya malah berpikir apa iya saya segitu keukeuhnya berwirausaha ?. Tapi faktanya setelah berpikir lagi ke belakang kok ternyata memang begitu ya?.

Pertama kali saya bekerja yaitu di sebuah event organizer (e.o) di daerah Radio Dalam. Ketika itu saya bisa masuk kesana adalah karena saya sering membantu salah satu acara mereka, sehingga hubungan saya dengan e.o itu semakin dekat dan akhirnya saya bekerja disana selama 2 tahun. Padahal awalnya dulu sebelum bekerja dimana-mana, saya punya cita-cita ingin sekali punya usaha sendiri, biarpun kecil tapi yang penting punya sendiri. Tapi seiring berjalannya waktu, saya pun harus mengubur impian saya itu dan bersikap lebih realistis bahwa untuk mencapai itu semua memang harus bekerja dengan orang lain terlebih dahulu. Istilahnya ngumpulin modal.

Setelah 2 tahun bekerja di e.o itu, impian "nakal" itu pun kembali lagi. Setelah modal didapat, relasi bisnis "dijerat" dan ilmu diikat, saya memutuskan membuka usaha sendiri di bidang yang sama. Berdirilah perusahaan e.o kecil-kecilan dengan bendera Escalate Production bersama 5 orang teman saya. Terdengar asing, tapi memang saat itu e.o saya lebih banyak bergerak di luar kota. Selain di Jakarta, Bandung, Batam, saya pernah juga tugas di Balikpapan.

Setahun berjalan dengan bendera Escalate Production, saya semakin merasa ada yang salah dengan ritme kehidupan saya. Malam menjadi siang, siang menjadi malam. Keluar masuk club menjadi hal yang biasa. Hari libur merupakan hari kerja saya yang paling maksimal dan biasanya saya baru bisa sedikit meluruskan kaki setelah hari Minggu. Jadi kalau orang lain punya term i don’t like Monday, saya malah sebaliknya. Karena itulah hari libur saya.

Setahun terakhir dengan Escalate Production saya mulai mengurangi orderan event. Karena entah kenapa, saya mulai bosan, penat dan hampir muak dengan pekerjaan saya itu. Saat itu saya berpikir, bagaimana nanti kalau saya punya anak istri ? Saya ngga mau anak istri saya nanti melihat saya pulang ketika mereka sholat shubuh. It’s a shame. Tindakan saya mengurangi order event ini akhirnya disadari oleh kelima partner saya. Mereka terus menanyakan kapan ada kerjaan lagi, padahal tawaran kerjasama alhamdulillah seringkali datang ke saya, cuma sering saya tolak dengan seribu macam alasan. Akhirnya karena saya merasa dzalim terhadap kelima partner saya itu, saya putuskan Escalate Production harus bubar. Padahal saat itu tawaran yang cukup menggiurkan datang dari salah satu Mall terbesar di Batam untuk menggarap program tahun baruan di Mall tersebut. Tapi tidak ! saya telah memutuskan bahwa e.o tidak akan menjadi lahan nafkah untuk saya dan keluarga saya nantinya. Terlalu banyak yang haram disana dan saya tidak ingin nanti anak istri saya makan dari hasil itu.

Setelah Escalate bubar, hari-hari saya menjadi sangat-sangat lapang. Saya banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku, browsing dsb. Saat itu belum terpikir akan kerja apa saya setelah ini. Alhamdulillah tawaran kerja masih ada beberapa yang datang ke saya. Biasanya tawaran itu datang dari teman-teman lama saya jaman sd smp. Tapi satupun tidak ada yang menarik perhatian saya. Hampir dua tahun sudah saya berleha-leha. Bagi sebagian orang memang saya ini dianggap "pengacara" alias pengangguran banyak acara. Tapi tidak juga, justru pada masa-masa kosong itulah pengetahuan saya tentang Islam semakin bertambah dan saya anggap itu bukanlah bagian dari berleha-leha dan menganggur. Insya Allah ada hikmah disitu.

Tapi alhamdulillah, berkat ridha Allah, saat ini saya kembali mempunyai pekerjaan. Tentunya wirausaha lagi. Berdagang kebab Turki ! ya inilah yang sekarang saya lakukan. Proses penantian setahun akhirnya terjawab sudah. Kebab yang saya jual ini menggunakan gerobak ber-roda. Di awal buka warung kebab ini, setiap hari saya harus bolak-balik mendorong gerobak dari rumah ke lokasi jualan. Sebuah pekerjaan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, tapi entahlah, perasaan malu, lelah mendorong gerobak itu terhapuskan dengan perasaan nyaman dalam berwirausaha yang kali ini. Insya Allah usaha ini halal dan cukup mudah untuk dikontrol. Oh ya tapi jujur aja nih, malam pertama mendorong gerobak, besoknya pundak saya rasanya seperti mau lepas !. Tapi ngga papa deh, kan nanti kalau sudah menikah jadi ada mijitin heheheh :D.

Entah apalagi yang akan dikatakan oleh teman sd saya tadi ketika nanti saya berpromosi ke dia :D. Mungkin ini yang diamanatkan oleh Allah kepada saya. Saya seringkali memohon agar diberikan jalan untuk mencari nafkah lewat jalan yang halal sehingga kehalalan itu menyebar ke keluarga saya nanti dan menjadikan keluarga saya diridhai Allah dalam setiap langkahnya. Ini juga saya anggap merupakan salah satu ikhtiar saya untuk mencari ma’isyah untuk persiapan nanti :).

Mungkin inilah ikhtiarku, ikhtiar yang insya Allah tidak akan berhenti. Masalah kedepannya akan berhasil atau tidak, itu bukanlah menjadi urusanku lagi melainkan urusan Allah Sang Maha Kuasa. Mohon doanya ya. Dengan Bismillahhirrahmannirrahim, ana undang antum sekalian apabila ada waktu untuk berkunjung ke warung kebab ana dan mencobanya :). Semoga berkenan.


Wassalamu’alaikum