December, 2006

Hentikan Dikotomi itu Sekarang !

Secara epistemologis, modernisme dengan rasionalisme telah mempengaruhi cendekiawan Muslim untuk menekankan penggunaan rasio - dalam pengertian reason, bukan aql dalam memahami masalah-masalah keagamaan.

Anda masuk dalam kelompok nama, Islam liberal atau literal ?

Mungkin pertanyaan semacam ini pernah dilontarkan terhadap atau bahkan oleh Anda. Dikotomi semacam ini, kata Hamid Fahmy Zarkasyi, doktor bidang pemikiran Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization Malaysia (ISTAC-IIUM), makin mengental belakangan ini. Padahal, cara pandang yang mengadopsi Barat ini sungguh keliru dan tidak menguntungkan.

"Terbukti, dengan berpikir dikotomis semacam itu, para cendekiawan justru menjadi kritis terhadap tradisi dan khasanah pemikiran Islam, bukan mengapreasiasinya, dan sikap kritisnya terhadap Barat menghilang," ujarnya, dalam tasyakuran kelulusannya, Sabtu (16/12).

Menurut dia, Islam yang mempunyai pengertian ketundukan tidak bisa dikawinkan dengan liberal yang berpikiran bebas. "Islam ya Islam, Islam kok liberal?" ujarnya.

Acara tasyakuran ini diselenggarakan oleh INSISTS di Gedung Gema Insani, Depok dan dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai kalangan. Selama hampir dua jam ia memaparkan pemikiran ilmiahnya yang bertema "Membangun Peradaban Islam yang Bermartabat".

Pidato peradaban Hamid ini sangat menarik, karena berisi hal-hal yang mendasar dalam upaya membangun peradaban Islam. Dimulai dari upaya perumusan konsep-konsep  dalam pemikiran Islam hingga membangkitkan kembali tradisi intelektual dan bersinergi membangun kembali peradaban.

Hamid juga memaparkan dan memberikan kritik-kritik yang mendasar dan sistematis terhadap tradisi pemikiran Barat yang kini banyak diusung dan dijiplak oleh sebagian kalangan cendekiawan di Indonesia. Dampak dari paham, aliran dan pemikiran Barat dalam "baju" modernisme dan postmodernisme terhadap paham ilmu pengetahuan Islam (epistemologi), kata dia, cukup besar.

Secara etimologis istilah modernisasi telah menggantikan istilah tajdid dalam Islam. Secara epistemologis, modernisme dengan rasionalisme telah mempengaruhi cendekiawan Muslim untuk menekankan penggunaan rasio - dalam pengertian reason, bukan aql  dalam memahami masalah-masalah keagamaan. Fazlur Rahman, misalnya, mengakui bahwa kaum modernis menekankan penggunaan akal dalam memahami agama, masalah demokrasi dan masalah wanita; dan mengakui adanya pengaruh Barat dalam pemikiran modernis.

Apa yang disinyalir Rahman terjadi pada sejumlah tokoh cendekiawan Indonesia, seperti Nurcholish Madjid, yang juga salah satu alumnus PP Gontor. "Istilah-istilah yang digunakan adalah murni Barat, sehingga pengaruh pemikiran Barat didalamnya sudah bisa diduga," ujar Hamid, yang merupakan putra ke-9 dari Kiai Imam Zarkasyi, pendiri PP Gontor Ponorogo.

Menurut Purek III Institute Studi Islam Darusalam (ISID) Gontor ini, banyak persoalan yang perlu diklarifikasi. Jika yang dimaksud modernisasi adalah  tajdid, tentu membawa banyak persoalan. Jika yang dimaksud adalah sekedar peningkatan taraf hidup Muslim maka ia tidak serta merta berarti   taqarrub kepada Allah.

Demikian pula dalam memahami makna rasionalisasi. Bila yang dimaksud adalah penggunaan akal, maka tidak ada yang baru dari ajakan itu. "Alquran telah memerintahkan penggunaan akal dalam berbagai ayatnya," ujarnya.

Yang diperlukan sekarang bukan hanya sekedar menggunakan akal, tapi bagaimana konstruksi epistemologi Islam yang harus dibangun. Sebab konsep akal dalam Islam tidak sama dengan rasio dalam pengertian Barat, dan menggunakan akal atau berfikir (yatafakkar) dalam Alquran harus dibarengi dengan berzikir menggunakan kalbu (yadhkuru).

Hamid F Zarkasyi yang juga pemimpin redaksi Majalah Islamia lulus program PhD pada 29 September 2006. Ia berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji yang terdiri atas Prof Dr Osman Bakar, Prof Dr Ibrahim Zein, dan Prof Dr Torlah. Prof Dr Alparslan Acikgence, penguji eksternal dari Turki, memuji kajian Hamid terhadap teori kausalitas Al-Ghazali pada kajian sejarah pemikiran Islam.

republika.co.id

Menyoal “Pembaruan Islam”

Oleh :

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA, M.Phil
Doktor Pemikiran Islam, ISTAC,
Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization

 

Tantangan ekternal terberat yang dihadapi Muslim dewasa ini adalah hegemoni konsep-konsep Barat dalam berbagai bidang ilmu termasuk dalam pemikiran keagamaan Islam. Kini tidak sedikit konsep, metode, dan pendekatan yang digunakan cendekiawan Muslim dalam studi Islam berasal dari atau dipengaruhi Barat.

 

Barat dapat diidentifikasi menjadi dua periode dan paham penting yaitu modernisme dan postmodernisme. Modernisme mengusung pandangan hidup saintifik, sekularisme, rasionalisme, empirisisme, cara befikir dikotomis, pragamatisme, penafian kebenaran metafisis (baca: Agama), dan sebagainya. John Lock, filosof Barat modern menegaskan bahwa liberalisme rasionalisme, persamaan, adalah inti modernisme. Tapi yang menonjol adalah sekularisme, baik bersifat moderat dan ekstrem.

 

Sedangkan postmodernisme, adalah gerakan yang mengritik modernisme yang elitis menjadi populis. Hasilnya adalah paham-paham baru seperti nihilisme, relativisme, persamaan, pluralisme, dan umumnya anti-worldview. Meski begitu, postmodernisme masih dianggap kelanjutan modernisme. Keduanya membawa konsep-konsep penting dengan kendaraan globalisasi.

 

Pengaruh modernisme

Pengaruh Barat dalam pemikiran Islam dapat dilihat dari model pembaruan pemikiran keagamaan Islam atau tajdid. Pembaruan sering diterjemahkan menjadi modernisasi dan kini bahkan menjadi liberalisasi. Padahal tajdid berbeda dari modernisasi ataupun liberalisasi baik secara etimologis maupun konseptual. Malangnya, perbedaan ini tidak dicermati, dan konsep-konsep di dalamnya buru-buru diadopsi tanpa proses epistemologi yang jelas.

 

Pembaruan pemikiran Islam yang dimotori (alm) Nurcholish Madjid dan kini bergulir menjadi proyek liberalisasi Islam di Indonesia adalah contoh yang paling jelas. Pembaruan dimaksud ternyata secara eksplisit mengusung, memodifikasi, atau menjustifikasi konsep modernisme, sekularisme, dan rasionalisme.

 

Tanpa menggunakan terminologi Islam, Nurcholish berargumentasi bahwa inti modernisasi adalah ilmu pengetahuan, dan rasionalisasi adalah keharusan mutlak sebagai perintah Tuhan. Maka dari itu modernitas membawa pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Pengaruh paham modernisme dalam pemikiran Nurcholish lebih jelas lagi ketika ia mengambil unsur utama modernisasi, yaitu sekularisasi untuk memahami agama. Sekularisasi menurutnya adalah menduniawikan masalah-masalah yang mestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam untuk mengukhrawikannya. Gagasan ini kemudian diperkuat dengan ide liberalisasi pandangan terhadap ajaran-ajaran Islam yang intinya memandang negatif terhadap tradisi dan kaum tradisionalis. Ternyata gagasan ini mengadopsi pemikiran Harvey Cox dan Robert N Bellah, pencetus gagasan sekularisasi dalam Kristen. Tidak ada modifikasi yang berarti di situ. Ia hanya mencarikan justifikasinya dari dalam ajaran Islam.

 

Nurcholish mencoba membatasi makna sekularisasi agar tidak berarti sekularisme. Batasnya adalah kepercayaan terhadap Hari Kemudian dan prinsip ketuhanan. Namun, pembatasan ini tetap saja bersifat memisahkan secara dikotomis. Ini tidak beda dari prinsip orang-orang sekuler di Barat. Mereka percaya pada Hari Akhir dan pada Tuhan, tapi tidak ingin agama mencampuri kehidupan dunia mereka. Agama adalah urusan pribadi dan tidak boleh masuk ruang publik. Padahal, dalam Islam agama adalah urusan dunia dan akhirat, urusan pribadi dan urusan publik sekaligus. Jadi secara epistemologis akhirnya sekularisasi ini juga akan menjadi sekularisasionisme (secularizationism).

 

Fazlur Rahman, pembimbing tesis Nurcholish di Chicago, mengakui bahwa Muslim modernis terpengaruh oleh Barat ketika menekankan penggunaan akal dalam memahami masalah agama, demokrasi, dan wanita. Prof Dr HM Rasjidi (lulusan Universitas Sorbone, Paris) yang banyak tahu konsep-konsep Barat, bahkan mengritik konsep pembaruan Nurcholish yang saat itu ia baru lulus S1. Sayangnya, kritik itu tidak direspons dan tidak menelurkan suasana dialogis yang produktif. Komunitas intelektual kita belum memiliki tradisi kritik.

 

Contoh lain dari pengaruh modernisme adalah gagasan pembaharuan Dr Harun Nasution. Tidak beda dari Nurcholish ia mengusung konsep rasionalisasi. Gagasan ini dikembangkan dalam studi Islam di seluruh IAIN. Namun, berbeda dari Nurcholish, Harun mencanangkan gagasannya itu setelah ia menyelesaikan doktornya di Institute of Islamic Studies McGill, Kanada dengan thesis berjudul ‘Posisi Akal dalam Pemikiran Teologi Muhammad Abduh’. Karya-karyanya yang ia tulis setelah kepulangannya dari Kanada dijadikan buku teks terutama di lingkungan IAIN.

 

Hanya sayangnya ia mengangkat kembali doktrin teologi Mu’tazilah dan mengecilkan doktrin teologi Ash’ariyyah. Asumsinya bahwa teologi yang dipakai umat Islam di masa kejayaannya, di zaman kekhalifahan Abbasiyah, adalah teologi rasional Mu’tazilah. Ia juga mengatakan bahwa selama umat Islam mempertahankan kepercayaan pada pandangan hidup fatalistik berdasarkan doktrin Ash’ariyyah, maka hampir mustahil dapat berpartisipasi dalam pembangunan negara. Untuk itu teologi Ash’ariyyah perlu diganti dengan teologi Mu’tazilah.

 

Tapi pemikirannya baru pada tingkat gagasan. Belum sampai pada pengungkapan teori tentang bagaimana hubungan akal dan wahyu, misalnya. Gagasan rasionalisasinya bahkan tidak sempat menghasilkan epistemologi baru. Asumsinya bahwa Mu’tazilah adalah teologi yang berhasil membawa Islam ke tingkat peradaban yang tinggi justru tidak terbukti dalam sejarah. Di masa kekuasaan Al-Mutawakkil, yang bukan Mu’tazilah itu, ilmu pengetahuan ternyata justru berkembang pesat.

 

Pengaruh postmodernisme

Jika gagasan Nurcholish dan Harun Nasution cenderung mengadopsi paham-paham dalam modernisme, liberalisasi lebih condong menerapkan paham-paham yang dibawa oleh postmodernisme. Liberalisasi membawa paham pluralisme agama, relativisme, feminisme-gender, demoktratisasi dan yang lain, dan tetap akur dengan sekularisme juga rasionalisme. Liberalisasi adalah kepanjangan tangan dari proyek westernisasi. Oleh karena itu tidak heran jika tren pemikiran ini menjadi sebuah gerakan sosial.

 

Tren pemikiran yang memisahkan agama dan pemikiran keagamaan adalah pengaruh relativisme postmo. Agama adalah absolut dan pemikiran keagamaan adalah relatif. Oleh karena itu tidak ada yang absolut dalam pemikiran kegamaan. Bahkan tidak ada yang tahu kebenaran kecuali Tuhan. Tren pemikiran yang mencoba menyamakan kebenaran semua agama berasal dari paham pluralisme agama, gerakan rekonstruksi fikih wanita dengan mengedepankan ide kesetaraan gender adalah pengaruh paham feminisme.

 

Akbar S Ahmed mengamati bahwa pemikiran postmodern yang liberal ini dihidupkan oleh semangat pluralisme, diperkuat oleh media, mendukung demokrasi, diposisikan berhadapan dengan fundamentalisme religius. Gerakannya berpusat di kota metropolitan, tumbuh subur dengan wacana-wacana tapi bersikap eklektis, dan terakhir terkait dengan masa lalu tapi dalam bentuk protes.

 

Selain itu, upaya-upaya pembaharuan pemikiran di dunia Islam, ternyata masih bersifat sporadis. Artinya tidak didukung oleh komunitas yang khusus bertekun dalam mengkaji, mengevaluasi, dan mengembangkan pemikiran Islam. Kelemahan yang lain, pemikiran yang konon merupakan pembaruan itu ternyata lebih cenderung menjustifikasi konsep-konsep Barat modern dan postmodern.

 

Akibatnya, pembaharuan seperti itu tidak membawa pencerahan, tapi justru memunculkan banyak kerancuan. Sebab paham, ide, nilai, dan filsafat ilmu Barat modern dan postmodern kini bercampur baur dalam pemikiran Islam. Akhirnya, Muslim berbicara ilmu pengetahuan Islam, sejarah Islam, dan bahkan ajaran Islam dengan pemahaman, nilai, ide, pendekatan, bahkan terminologi Barat.

 

Untuk itu apa yang diperlukan dalam pembaharuan pemikiran Islam, pertama-tama adalah menggali kembali khazanah ilmu pengetahuan Islam. Ini dimaksud agar umat Islam mampu melahirkan konsep-konsep Islam sendiri yang baru dalam berbagai bidang. Selain itu mengkaji pemikiran dan kebudayaan asing terutama Barat, pandangan hidupnya, filsafatnya, epistemologinya, dan konsep-konsep penting lainnya. Ini agar Muslim tidak terjerumus pada kerja-kerja justifikasi konsep Barat.

republika.co.id

Perkenalkan. Kami Adalah Muslim

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Perkenalkan. Kami ini Muslim.

Islam adalah nama agama kami. Artinya adalah "selamat" atau "tunduk patuh". Kami telah bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah semata. Anda tidak tahu ilah? Ilah adalah sesuatu yang diharapkan, ditakuti, dicintai, dan dipatuhi oleh manusia. Itulah pernyataan loyalitas yang kami ulang sedikitnya sembilan kali dalam sehari semalam.

Kami adalah manusia yang merdeka. Merdeka dari desakan hawa nafsu. Tidak mudah, tapi kami selalu berusaha untuk tetap loyal pada satu-satunya ilah kami. Kami bukan termasuk orang-orang yang tunduk pada keinginannya pribadi. Kami juga tidak tunduk pada godaan kesenangan badani belaka. Kami merdeka karena tunduk pada Allah semata.

Bagi kami, tidak ada yang absolut kecuali Allah. Kami tidak mengutak-atik Kitab Suci kami, bahkan tidak berani sekedar untuk menambah satu kata atau huruf baru ke dalamnya. Kami tidak berani untuk berpikir bahwa kami lebih tahu urusan kami sendiri. Ada Yang Maha Tahu yang akan menyelesaikan segala urusan kami. Kami berani di hadapan manusia dan takut di hadapan Allah, lantang di hadapan diktator dan menyerah tanpa syarat di hadapan Allah. Jangan bingung. Ini hanya masalah menempatkan diri pada kedudukannya yang benar.

Kami ini Muslim.

Anda tahu siapa kami? Kami adalah umat yang selalu menimbulkan rasa cemas kepada mereka yang diliputi dengki. Kami menyuruh putri-putri kami berhijab, dan hal itu membuat semua orang khawatir. Padahal mereka tidak ragu melepas putri-putri mereka dengan pakaian minim hingga larut malam. Ah, mereka hanya takut, karena kaum perempuan Muslim hidupnya lebih menyenangkan. Mereka takut semua perempuan akan mengikuti jejak putri-putri kami.

Agama kami memang tidak pernah menyelisihi fitrah. Semuanya sesuai dengan karakter dasar manusia. Mereka menutup aurat bukan karena terpaksa, melainkan karena memang demikianlah yang baik bagi mereka. Tanyakanlah pada putri-putrimu, bukankah hari-hari mereka dilalui dengan penuh kekhawatiran karena mata lelaki yang selalu sigap menangkap apa-apa yang sesuai dengan syahwatnya? Tanyakanlah pada kaum perempuanmu, bukankah hidup mereka penuh dengan penyesalan karena selalu disusahkan oleh para pria hidung belang? Ah, tidak perlu dijawab. Kami sudah tahu jawaban jujurnya.

Jangan heran jika kami enggan menyentuh minuman beralkohol, karena Allah memang tidak menghendaki hamba-hamba-Nya melakukan perbuatan-perbuatan yang bodoh seperti lazimnya orang mabuk. Semua hukum yang susah payah dirumuskan oleh negara-negara Barat untuk menghindari ekses negatif dari minuman keras hanya teori usang. Cukup sebuah ayat dalam Al-Qur’an, maka kami pun menjauh darinya. Inilah bukti ketundukan kami.

Mengapa kalian bingung menyaksikan kami shalat lima waktu setiap harinya? Justru kamilah yang bingung melihat kalian begitu jarang meluangkan waktu untuk Tuhan. Anda pikir shalat itu mempersulit hidup kami? Demi Allah, kami tidak membasuh kepala kami dengan wudhu dan tersungkur dalam sujud kecuali untuk mendapatkan manisnya iman. Kami paham jika Anda tidak mengerti. Rasa manis hanya dipahami oleh mereka yang memiliki lidah. Iman hanya dimengerti oleh mereka yang bersedia untuk tunduk.

Kalian yang tidak memahami lezatnya iman tidak akan mengerti tujuan hidup kami. Kami hidup hanya untuk mati. Semua manusia begitu, tapi sedikit yang mau mengakuinya. Kenyataannya semua manusia akan mati. Bedanya, kami memiliki tujuan yang pasti, dan kami yakin pada petunjuk arah yang terpampang di depan mata. Kami tidak takut mati, karena mati itu keniscayaan. Tidak ada bedanya mati sekarang atau tahun depan. Yang menjadikannya beda hanyalah caranya. Kami adalah kaum yang akan maju berdesak-desakan ketika pintu menuju syahid terbuka.

Anda tidak paham? Tentu saja, karena Anda tidak memiliki kerinduan kepada akhirat.

Siapa pun boleh menyangkal, tapi kebenaran adalah kebenaran. Kami hanya menyuarakan kebenaran, dan kebenaran itu lincah seperti air. Jika terhalang batu, ia akan mengambil jalan lain. Jika dibendung, ia akan berkumpul hingga cukup banyak dan akhirnya melimpah dari dinding yang menghadang. Jika Anda berusaha memenjarakan kebenaran yang terus mengalir dalam suatu wadah, maka niscaya kebenaran itu akan menekan ke segala arah, dan semua dinding pun akan runtuh.

Anda bisa menghina Rasul kami dengan berbagai gambar yang tak pantas, tapi semuanya hanya akan berakhir mengenaskan bagi para penghujat. Di negeri penghujat Rasulullah saw. itu, lima ribu eksemplar Al-Qur’an telah terjual dalam lima bulan saja. Anda bisa menyebarkan kabar bohong apa pun tentang kami, namun hal itu hanya akan mendorong semua orang untuk mengenal kami lebih jauh. Ini adalah kabar buruk bagi kalian, karena siapa pun yang mempelajari Islam dengan baik niscaya hatinya akan tersentuh. Teruskanlah makar ini, dan kami akan tetap menjadi pemenangnya!

Anda bisa mengajak semua orang untuk memerangi kami, namun kebenaran akan sampai juga pada telinga-telinga yang tetap terbuka. Kalian bisa membumihanguskan negeri-negeri kami, namun Islam akan sampai juga di negeri kalian. Cepat atau lambat, negeri kalian akan menerima Islam dengan tangan terbuka, karena kebenaran akan selalu menyentuh hati manusia yang cenderung pada kelembutan.

Kami ini Muslim. Kamilah yang akan memenangkan pertarungan, jika memang Anda bersikeras untuk bertarung. Tapi jangan khawatir, karena kami tidak merasa perlu memaksa Anda masuk ke dalam barisan kami. Cukuplah dengan menjadi teman yang baik, dan semuanya akan baik-baik saja. Allah SWT tidak melarang kami berteman dengan siapa pun yang tidak memerangi kami. Kepada semuanya, kami sampaikan salam hangat persahabatan : bukalah pintu hati kalian untuk kebenaran, dan ia akan datang dengan berbagai cara yang belum pernah kalian bayangkan sebelumnya.

Kami adalah tangan-tangan yang saling berpegangan dan saling menjaga satu sama lainnya. Kami adalah dahaga yang saling mendahulukan. Kami adalah tubuh-tubuh yang saling menyelamatkan. Kami adalah lidah-lidah yang saling menghibur dan hati yang saling mencemaskan.

Kami adalah Muslim. Kami akan menang.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Taken from : Akmal

Kajian Tentang Poligami

Assalamu’alaikum,

Semenjak salah satu tokoh da’i nasional kita memutuskan untuk berpoligami, pemberitaan tentang tokoh tersebut semakin meluas. Bukan hanya dari sisi pribadi tokoh tersebut, tapi juga meluas ke permasalahan poligaminya dari sudut pandang agama atau syariat.

Media punya peranan sangat vital sebagai pembentukan opini publik tentang poligami. Berbagai macam talkshow, seminar dan acara-acara lainnya tentang poligami diforsir habis-habisan dan yang perlu dicermati adalah kapabilitas seseorang untuk berbicara tentang poligami dari sudut pandang syariat. Kadangkala dalam beberapa acara televisi, seringkali menampilkan pembicara atau narasumber yang tidak kompeten (liberal) dalam menjelaskan tentang poligami, atau bisa jadi juga ada semacam konspirasi untuk merubah opini publik tentang hukum poligami yang telah jelas dihalalkan oleh Allah dengan syarat. Dan memang, poligami adalah sasaran yang empuk bagi para orientalis atau yang menjadikan Islam sebagai musuh.

Saat ini diperlukan media tandingan atau minimal kajian tentang poligami dari sumber yang memang mempunyai kapasitas untuk berbicara tentang poligami. Oleh karena itu RISMATA (Remaja Islam Masjid At Taqwa) akan mengadakan kajian yang cukup mendalam tentang poligami, dimulai dari sejarah berkembangnya poligami di dalam ajaran lain juga Islam dan urgensinya di masa sekarang.

Kajian Kontemporer RISMATA

Pembicara : Ust. H. Bukhori Yusuf, Lc M.A*
Hari Selasa Tanggal 19 Desember 2006
Waktu : Ba’da Isya (Setelah Shalat Isya)
Di Mesjid At-Taqwa
Jl.Sakti IV No.8 Komp Pajak,
Kemanggisan Jakarta Barat

Informasi : Fauzur 0852-1754-9905
                Or message me (Indra)

* Ust. H. Bukhori Yusuf, Lc. M.A

Pendidikan

 

  • S1, Universitas Islam Madinah - Fakultas Hadits
  • S2, Pakistan


Jabatan

  • Sekretaris Pusat Konsultasi Syariah (PKS)
  • Direktur Kuliah Dirasat Islamiyah Al-Hikmah
  • Dewan Pengawas Syariah Persada Network


Aktifitas

  • Dosen
  • Muballigh

Semoga bermanfaat !

Wassalamu’alaikum