Hentikan Dikotomi itu Sekarang !
Secara epistemologis, modernisme dengan rasionalisme telah mempengaruhi cendekiawan Muslim untuk menekankan penggunaan rasio - dalam pengertian reason, bukan aql dalam memahami masalah-masalah keagamaan.
Anda masuk dalam kelompok nama, Islam liberal atau literal ?
"Terbukti, dengan berpikir dikotomis semacam itu, para cendekiawan justru menjadi kritis terhadap tradisi dan khasanah pemikiran Islam, bukan mengapreasiasinya, dan sikap kritisnya terhadap Barat menghilang," ujarnya, dalam tasyakuran kelulusannya, Sabtu (16/12).
Menurut dia, Islam yang mempunyai pengertian ketundukan tidak bisa dikawinkan dengan liberal yang berpikiran bebas. "Islam ya Islam, Islam kok liberal?" ujarnya.
Acara tasyakuran ini diselenggarakan oleh INSISTS di Gedung Gema Insani, Depok dan dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai kalangan. Selama hampir dua jam ia memaparkan pemikiran ilmiahnya yang bertema "Membangun Peradaban Islam yang Bermartabat".
Pidato peradaban Hamid ini sangat menarik, karena berisi hal-hal yang mendasar dalam upaya membangun peradaban Islam. Dimulai dari upaya perumusan konsep-konsep dalam pemikiran Islam hingga membangkitkan kembali tradisi intelektual dan bersinergi membangun kembali peradaban.
Hamid juga memaparkan dan memberikan kritik-kritik yang mendasar dan sistematis terhadap tradisi pemikiran Barat yang kini banyak diusung dan dijiplak oleh sebagian kalangan cendekiawan di Indonesia. Dampak dari paham, aliran dan pemikiran Barat dalam "baju" modernisme dan postmodernisme terhadap paham ilmu pengetahuan Islam (epistemologi), kata dia, cukup besar.
Secara etimologis istilah modernisasi telah menggantikan istilah tajdid dalam Islam. Secara epistemologis, modernisme dengan rasionalisme telah mempengaruhi cendekiawan Muslim untuk menekankan penggunaan rasio - dalam pengertian reason, bukan aql dalam memahami masalah-masalah keagamaan. Fazlur Rahman, misalnya, mengakui bahwa kaum modernis menekankan penggunaan akal dalam memahami agama, masalah demokrasi dan masalah wanita; dan mengakui adanya pengaruh Barat dalam pemikiran modernis.
Apa yang disinyalir Rahman terjadi pada sejumlah tokoh cendekiawan Indonesia, seperti Nurcholish Madjid, yang juga salah satu alumnus PP Gontor. "Istilah-istilah yang digunakan adalah murni Barat, sehingga pengaruh pemikiran Barat didalamnya sudah bisa diduga," ujar Hamid, yang merupakan putra ke-9 dari Kiai Imam Zarkasyi, pendiri PP Gontor Ponorogo.
Menurut Purek III Institute Studi Islam Darusalam (ISID) Gontor ini, banyak persoalan yang perlu diklarifikasi. Jika yang dimaksud modernisasi adalah tajdid, tentu membawa banyak persoalan. Jika yang dimaksud adalah sekedar peningkatan taraf hidup Muslim maka ia tidak serta merta berarti taqarrub kepada Allah.
Demikian pula dalam memahami makna rasionalisasi. Bila yang dimaksud adalah penggunaan akal, maka tidak ada yang baru dari ajakan itu. "Alquran telah memerintahkan penggunaan akal dalam berbagai ayatnya," ujarnya.
Yang diperlukan sekarang bukan hanya sekedar menggunakan akal, tapi bagaimana konstruksi epistemologi Islam yang harus dibangun. Sebab konsep akal dalam Islam tidak sama dengan rasio dalam pengertian Barat, dan menggunakan akal atau berfikir (yatafakkar) dalam Alquran harus dibarengi dengan berzikir menggunakan kalbu (yadhkuru).
Hamid F Zarkasyi yang juga pemimpin redaksi Majalah Islamia lulus program PhD pada 29 September 2006. Ia berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji yang terdiri atas Prof Dr Osman Bakar, Prof Dr Ibrahim Zein, dan Prof Dr Torlah. Prof Dr Alparslan Acikgence, penguji eksternal dari Turki, memuji kajian Hamid terhadap teori kausalitas Al-Ghazali pada kajian sejarah pemikiran Islam.