March, 2007

Resensi Buku : Muqaddimah by Ibnu Khaldun

Judul : Muqaddimah
  Penulis : Abd-ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun (Ibnu Khaldun)
  Penerbit: Pustaka Firdaus (021-7972536)
  Penerjemah : Ahmadie Thoha
Halaman : 852

Refleksi 600 Tahun Wafatnya Ibnu Khaldun
Pangkal Kejatuhan dan Kejayaan Bangsa

Meski namanya telah diabadikan untuk sebuah universitas di Bogor, masih ada di antara kita mungkin belum mengenal sosok serta pemikiran sejarawan agung dan pemikir ulung yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai bapak sosiologi. Dialah Abd-ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun yang hidup antara tahun 1332 hingga 1406 Masehi.

Di bulan November ini setidaknya tiga konferensi antarbangsa telah dan bakal digelar dalam rangka memperingati 600 tahun wafatnya ilmuwan besar ini. Yang pertama pada 3-5 November lalu di Madrid, Spanyol atas kerja sama Islamic Research and Training Institute IDB dengan Universidad Nacional de Educacion a Distance (UNED) dan Pusat Kebudayaan Islam setempat. Yang kedua baru saja terselenggara Sabtu 11 November 2006, di kampus Johann Wolfgang Goethe-Universitaet Frankfurt, Jerman, di mana penulis berkesempatan hadir. Sedang yang terakhir bakal diadakan pada 20-22 November mendatang di ISTAC Kuala Lumpur, Malaysia dengan tema: Ibn Khaldun’s Legacy and Its Contemporary Significance.

Ibnu Khaldun hidup saat imperium Islam bagian barat (termasuk Afrika Utara) di ambang kehancuran. Andalusia terpecah-belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kaum Murabitun (Almoravid) dan Muwahhidun (Almohad) saling rebut wilayah dan pengaruh. Sementara kaum Kristen Spanyol waktu itu tengah mengkonsolidasi kekuatan mereka dan menyusun strategi untuk melancarkan serangan besar-besaran demi merebut kembali semua daerah yang diduduki kaum Muslim —peristiwa kelam yang dinamakan reconquista.

Bermula dengan Toledo (1085), lalu Cordoba (1236) dan Seville (1248), dan terakhir Granada (1492), satu per satu wilayah Islam jatuh ke tangan orang-orang Kristen. Kondisi sosial-politik yang tak menentu itu tentu saja banyak memengaruhi perjalanan karier maupun pemikiran Ibnu Khaldun.

Barangkali karena kesibukannya sebagai pejabat negara dan keterlibatannya dalam politik, Ibnu Khaldun tidak banyak menghasilkan karya tulis. Hanya tercatat beberapa buku kecil seputar logika dan filsafat (Lubab Al Muhashshal), tentang tasawuf (Syifa’ As Sa’il li Tahdzib Al Masa’il), dan sebuah otobiografi (At Ta’rif). Namun, ia meninggalkan sebuah karya raksasa berjudul: Tarjuman Al ‘Ibar wa Diwan Al Mubtada’ wal Khabar fi Ayyam Al’Arab wal Barbar wa man ‘asharahum min dzawis-Sulthan AlAkbar.

Bagian pendahuluan dari kitab inilah yang melejitkan namanya ke seantero jagad. Tak aneh, sebab Muqaddimah-nya itu tak ubahnya bagaikan kapsul yang memuat ekstrak prinsip-prinsip yang bekerja di balik aneka manifestasi ilmu pengetahuan, pencapaian, dan pengalaman masyarakat manusia dari masa ke masa.

Pandangan yang relevan

Karya yang ditulis Ibnu Khaldun dalam penjara itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris. Berikut ini beberapa pandangan Ibnu Khaldun yang masih sangat relevan kini untuk menjadi bahan renungan kita yang sedang berusaha bangkit meraih kejayaan.

Masyarakat dan negara yang kuat adalah masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara. Pertama, solidaritas kebangsaan yang kokoh, di mana sikap dan perilaku mendzalimi, membenci dan menjatuhkan satu sama lain bertukar menjadi saling memberi, saling menghargai, dan saling melindungi. Ibnu Khaldun menyebutnya ashabiyyah atau group feeling –meminjam terjemahan Rosenthal. Kedua, kuantitas dan kualitas sumberdaya manusianya. Ketiga, kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras. Kesuksesan tidak dicapai sekonyong-konyong, ujar Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, iii/49.

Ibnu Khaldun menganalogikan proses kelahiran dan kehancuran suatu negara dengan kehidupan manusia. Ada tahap-tahap yang mesti dilalui, masing-masing dengan pasang-surut dan pahit-manisnya. Menurut Ibnu Khaldun yang memandang proses sejarah dalam kerangka siklus (ketimbang proses linear ataupun dialektikal), runtuhnya suatu imperium biasanya diawali dengan kedzaliman pemerintah yang tidak lagi memedulikan hak dan kesejahteraan rakyatnya (iii/43) serta sikap sewenang-wenang terhadap rakyat (iii/22). Akibatnya timbul rasa ketidakpuasan, kebencian dan ketidakpedulian rakyat terhadap hukum dan aturan yang ada.

Situasi ini akan semakin parah bila kemudian terjadi perpecahan di kalangan elite penguasa yang kerap berbuntut disintegrasi dan munculnya petty leaders (iii/45). Yang paling menarik adalah observasi Ibnu Khaldun pada pasal 11: bahwa ketika negara sudah mencapai puncak kejayaan, kemakmuran dan kedamaian, maka pemerintah maupun rakyatnya cenderung menjadi tamak dan melampaui batas dalam menikmati apa yang mereka miliki dan kuasai. Itulah petanda kejatuhan mereka sudah dekat.

Namun, kejatuhan suatu bangsa hampir selalu didahului atau diikuti oleh kenaikan bangsa lain yang mewarisi dan meneruskan tradisi maupun peradaban sebelumnya. Sebagai pengganti yang belum semaju dan secanggih pendahulunya, bangsa yang baru muncul ini cenderung meniru bangsa yang pernah menjajahnya hampir dalam segala hal, dari cara berpikir dan bertutur hingga ke tingkah laku dan soal busana. Proses ini bisa berlangsung tiga sampai empat generasi.

Bangsa yang dikalahkan cenderung meniru bangsa yang menaklukannya karena mengira hanya dengan begitu mereka dapat menang kelak. Jika kejayaan suatu bangsa hanya bertahan empat atau lima generasi, hal itu dikarenakan generasi pertama adalah ‘pelopor’, generasi kedua ‘pengikut’, generasi ketiga ‘penerus tradisi’ (tradition keepers), sedangkan generasi keempat berpaling dari tradisi (tradition losers).

Berbeda dengan para penulis sejarah sebelumnya, Ibnu Khaldun dalam analisisnya berusaha objektif. Pendekatan yang dipakainya tidak normatif, akan tetapi empiris-positivistik. Uraiannya berpijak pada das Sein dan bukan das Sollen, pada apa yang sesungguhnya terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi.

Dr. Syamsuddin Arif Ph.D
Orientalisches Seminar Frankfurt, Jerman
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=271691&kat_id=16

Diskusi Sabtuan INSISTS: Apa Bedanya Mu’tazilah dan Islam Liberal ?

Dalam pandangan kaum muslimin, al-Qur’an diyakini sebagai firman Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah SAW; yang tertulis dalam mushaf, ditransformasikan secara mutawatir dari generasi ke generasi dan membacanya terhitung sebagai ibadah.

Mu’tazilah adalah aliran rasionalis (dalam pengertian lebih mendahulukan akal dari pada wahyu) yang dikenal dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam. Secara harfiah nama Mu’tazilah berarti yang mengasingkan diri. Kebanyakan ahli sejarah sepakat bahwa aliran ini bermula dari perdebatan Washil ibn Atha’ dengan gurunya al-Hasan al-Basri tentang kedudukan pelaku dosa besar, apakah dia kafir atau tetap mukmin.

Perdebatan ini dipicu dengan statemen aliran al-Khawarij yang menggolongkan pelaku dosa besar adalah kafir dan statemen al-Murji’ah yang mengatakan bahwa mereka tetap mukmin. Sedangkan imam al-Hasan al-Basri mengatakan bahwa mereka itu adalah fasiq. Sementara Washil ibn Atha’ mengatakan bahwa kedudukan mereka bukan kafir dan bukan mukmin, tetapi berada di antara dua kedudukan (al-manzilah baina manzilatain).

Perdebatan tersebut berakhir dengan memisahkannya Washil dari halaqah gurunya dan mengasingkan dirinya (I’tazala) di salah satu sudut masjid Basra. Kemudian langkah Washil ini diikuti oleh beberapa orang. Sehingga pada akhirnya imam al-Hasan al-Basri mengatakan: “Washil telah mengasingkan diri dari kita (laqad i’tazala anna Washil)”. Maka semenjak itu Washil dan pengikutnya disebut Mu’tazilah. (Henri Shalahuddin, Mawqif Ahli l-Sunnah wa l-Jama’ah min al-Ushul al-Khamsah li l-Mu’tazilah: Dirasah Naqdiyyah (Pandangan Ahlussunah wal Jama’ah terhadap Prinsip Ushul Khamsah Mu’tazilah: Studi Kritis), skripsi s1, 1999, Fakultas Ushuluddin, Departemen Perbandingan Agama, ISID, Pondok Modern Darussalam Gontor, 121 hal, belum dipublikasikan).

Di antara pandangan Mu’tazilah yang masyhur adalah bahwa al-Qur’an merupakan firman Allah SWT; namun kedudukan al-Qur’an menurut mereka adalah makhluk, bukan azali dan qadim seperti yang diyakini oleh kaum muslimin umumnya. Pandangan ini kemudian dipaksakan menjadi madzhab resmi negara oleh dinasti Abbasyiah selama 62 tahun, dari tahun 170H hingga tahun 232H, yaitu pada masa-masa khilafat al-Makmun, al-Mu’tasim dan al-Watsiq.

Ribuan ulama Ahlussunnah yang menolak paham makhluknya al-Qur’an dihadapkan ke mahkamah, disiksa, dipenjara bahkan dibunuh; seperti yang menimpa Imam Ahmad ibnu Hanbal (pendiri madzhab Hanbali dalam fiqih).

Namun demikian, belum ada satupun ulama yang menganggap Mu’tazilah telah keluar dari batasan Islam, seperti halnya kelompok Ahmadiyyah. Sebab bagaimanapun Mu’tazilah tetap mengakui kewahyuan al-Qur’an, tidak pernah meragukan kedudukan mushaf Usmani, tidak mempermasalahkan bahasa Arab sebagai mediator bahasa wahyu dan (-apalagi-) menganggapnya sebagai produk budaya maupun teks manusiawi seperti yang telah jamak disuarakan Islam Liberal dan diajarkan di berbagai perguruan tinggi yang terkooptasi paham liberal.

Bahkan banyak di antara pemuka Mu’tazilah yang tetap bermakmum di belakang ulama yang bermartabat, seperti al-Qadhi Abdul Jabbar (w 415H/1023M), pemuka Mu’tazilah yang bermadzhab Syafii; Muhammad ibn Abdul Wahhab ibn Salam al-Jubai, pemuka Mu’tazilah yang selalu memuliakan Khulafa’ Rasyidun penerus Nabi; Ahmad ibn Ali ibn Bayghajur (w 326H), cendekiawan Mu’tazilah di bidang ilmu bahasa Arab dan Fiqh yang terkenal kezuhudannya, ––menurut Ibnu Hazm–– juga bermadzhab Syafii.

Anehnya, Islam Liberal seringkali mengklaim bahwa paham dan aliran Islam liberal mewarisi tradisi Mu’tazilah. Apakah klaim mereka ini dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Benarkah konsep Islam liberal tentang al-Qur’an tidak berbeda dengan Mu’tazilah?

Dimanakah perbedaan kedua konsep ini secara substantif? Bagaimanakah pemuka Mu’tazilah menafsirkan al-Qur’an?

Apakah mereka juga menggunakan tafsir feminis atau menggunakan metode kritik historis seperti yang sering digunakan tokoh-tokoh liberal?

Silahkan mengikuti ulasan lebih lanjut dalam diskusi sabtuan INSISTS. Diskusi ini juga akan membahas Tafsir al-Kasysyaf ‘an Haqaiq al-Tanzil wa ‘Uyunil Aqawil fi Wujuh al-Ta’wil yang ditulis oleh pemuka Mu’tazilah, Abul Qasim Jarullah Mahmud ibn Umar al-Zamakhsyari tentang ayat-ayat yang menjadi isu sentral Islam liberal, seperti hukum waris, jilbab, iddah, hudud dsb.

Pembicara : Henri Shalahuddin, MA
- S1 di Institut Studi Islam Darussalam Gontor Jatim, 1995-1999
- S2 di International Islamic University Malaysia, 2001-2004

Hari/Tanggal : Sabtu, 31 Maret 2007
Waktu : 10.00 – 12.00
Tempat : Kantor INSISTS Jl. Kalibata Utara II/84 Jakarta

* Tidak dipungut biaya, konfirmasi kehadiran ke 021-7940381 atau 08176895797, tempat duduk terbatas (maksimal) 40 orang dan tersedia makalah. Kehadiran anda akan mempercepat proses pencerahan dan kebangkitan ummat.
 

INSISTS : Kursus Tafsir Al Qur’an



Materi Kursus:

  1. Otentisitas al-Qur’an: dari zaman Nabi Muhammad saw hingga kini; bagaiamana al-Qur’an selamat dari upaya manusia untuk meruntuhkannya, mulai Musailamah al-Kadzzab sampai kaum orientalis kontemporer.
  2. Definisi tafsir al-Qur’an, ta’wil, pentingnya belajar ilmu tafsir al-qur’an, dan syarat-syarat mufassir; serta bagaiamana tantangan hermeunitika modern terhadap tafsir al-Qur’an.
  3. Sejarah pengumpulan al-Qur’an dan jawabab atas tuduhan orientalis seputar masalah ini.
  4. Pengertian surat-surat al-Qur’an,pengertian ayat dan surat, dan urutan surat dalam al-Qur’an, serta I’jazul Qur’an.
  5. Pengertian Makki dan madani, muhkam dan mutasyabih, qath’iy dan dzanny, asbab an-nuzul dan nasikh-mansukh.
  6.  sejarah ilmu tafsir al-Qur’an dan mengenal para mufassir yang berwibawa beserta karya-karya dan ciri khasnya.
  7. Tafsir ayat-ayat hukum (ayatul ahkam): studi kasus ayat tentang jilbab dan perkawinan lintas-agama.
  8. Praktik menafsirkan al-Qur’an: surat al-Fatihah (analisis I’rabul Qur’an)
  9. Tafsir bil-ma’tsur, tafsir bil’ilmi, tafsir tekstual-kontekstual
  10. Test dan diskusi 
  • Dosen : Ust. Henri Shalahudin MA, Ust. Adnin Armas MA
  • Peserta : Minimal 5 orang
  • Tempat : Kantor INSISTS: Jl. Kalibata Utara II/84 – Jakarta Selatan
  • Waktu : Sabtu siang, mulai pukul 13.30 wib s/d 15.30 wib
  • Biaya : Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) untuk 10 kali pertemuan

Untuk tanggal mulai kursusnya dan info lebih lanjut bisa menghubungi Kantor INSISTS. Jl. Kalibata Utara II/84 Telp 021 7940381

Pada awal bulan Mei 2007, INSISTS insya Allah akan meluncurkan INSISTS Membership Program. Program ini bertujuan untuk memberikan kemudahan serta prioritas dalam berbagai hal yang terkait dengan program-program INSISTS untuk para member.Dengan berbagai prioritas yang ada, INSISTS siap melayani dan memberikan kontribusi yang terbaik bagi member INSISTS. Yang terpenting dengan program ini diharapkan Ukhuwah antara INSISTS dengan membernya dapat terjalin lebih erat.

Selama menjadi member, fasilitas yang akan didapatkan member di antaranya: mendapatkan Jurnal ISLAMIA, mendapatkan diskon pembelian buku-buku peneliti INSISTS, diskon seminar, diskon workshop, mendapatkan news letter berkala, pelayanan informasi melalui email dan SMS, dan lain-lain. Membership ini akan di bagi menjadi 2 segmen yakni segmen umum dan segmen mahasiswa. Semoga dengan adanya program ini, kesinambungan dakwah Islam dapat terealisasi dengan lebih baik. Untuk info selanjutnya dapat menghubungi sekretariat INSISTS.

Buku : Para Pengkhianat Islam

Judul asli : Traitors Of Islam (Terj. Para Pengkhianat)
Penulis : Maryam Jameelah
Penerbit : Pustaka Thariqul Izzah
Kompleks Griya Kedung Badak
Blok F No. 12-A Bogor 16161
Telp : 0251-638607
Fax : 0251-636195
E-Mail : buku-pti@indo.net.id

Salah satu cara musuh-musuh Islam untuk menghancurkan kaum Muslim adalah menyusupkan "ulama-ulama" maupun "intelektual muslim" yang berbaju Islam tetapi pemikirannya kufur. Ulama-ulama dan kaum intelektual modernis ini memperoleh gemblengan langsung dari para orientalis, yang sejatinya membenci Islam. Anak-anak asuh peradaban Barat ini dibesarkan di alam lingkungan sekular-kapitalis, dan disusui dengan pemikiran-pemikiran kufur yang menyesatkan.

Cara ini jauh lebih berbahaya bagi kaum Muslim, karena mayoritas Muslim menganggap mereka adalah ulama-ulama dan tokoh-tokoh Muslim yang layak menjadi panutan. Propaganda dan kesesatan yang mereka lontarkan serta merta akan diikuti oleh para pengikutnya, tanpa mempertimbangkan lagi benar salahnya pemikiran yang mereka sampaikan.

Buku ini mengungkapkan pemikiran-pemikiran "asing" yang mereka lontarkan, sekaligus membeberkan beberapa contoh figur yang selama ini kita anggap sebagai pembaharu, tetapi hakekatnya adalah musuh-musuh yang membenci Islam dan kaum Muslim. Mereka telah memposisikan dirinya sebagai kaki tangan negara-negara kafir, dan sepak terjangnya dilakukan dalam rangka memelihara kepentingan-kepentingan majikan-majikan mereka.

Tokoh-tokoh yang dibahas dibuku ini adalah :

 

                                          
  Sayyid Ahmad Khan                              Dr. Taha Hussain            M. Abdul Kalam Azad 

 

                  
  Sayyid Ameer Ali                                Syaikh Ali Abd Ar-Raziq

 

Sharing tentang istri yang ngidam

Assalamu’alaikum,

Ngidam ya ? hhmm…kata ini seringkali saya dengar dari awal menikah sampai Nina hamil. Puncaknya ya ketika keluarga besar tahu bahwa Nina udah hamil, makin beterbanganlah kata-kata "ngidam" ini. Tapi entah kenapa dari dulu saya sulit untuk percaya bahwa ngidam itu adalah sesuatu yang wajib dipenuhi. Apalagi kalau ada saudara atau teman yang membumbui dengan kata-kata "ngiler / ngeces". Familiar kan ? ya ada beberapa orang yang percaya bahwa kalau sang istri ngidam sesuatu dan ngga dipenuhi, nanti si anak pas lahir akan sering ngiler atau ngeces. Duh bukannya gimana-gimana ya, tapi mungkin karena didikan ibu saya juga yang mengajarkan bahwa sesuatu yang diluar ajaran al Qur’an dan Sunnah, maka tidak wajib dipercaya.

Sebenarnya Nina pun pernah mengalami dengan apa yang disebut ngidam (mungkin). Misalnya suatu malam Nina terbangun sekitar jam 12an dan ketika matanya baru saja terbuka tiba-tiba dia bilang "kayanya makan pecel lele enak ya a’indra?". Jelas aja saya dengernya kaget, kok sempet-sempetnya nyawa belum ngumpul tapi udah nyebut pecel lele. Dan hal-hal semacam ini sebenarnya cukup sering terjadi dan bukan pecel lele aja lho . Bagi beberapa orang yang saya ceritakan tentang itu, banyak yang langsung bilang "wah ngidamnya repot juga ya?". Tapi setelah saya pikir-pikir kayanya itu bukan ngidam deh. Soalnya seringkali Nina makan itu sedikit tapi frekuensinya sering dan dia selalu melewatkan makan malam dengan nasi karena biasanya setelah maghrib kondisi badan Nina mulai menurun dan langsung tidur dan bangun lagi tengah malam. Jadi menurut saya ini hal yang wajar. Buktinya ketika saya bilang,

"Ayaang…(suit suiit)….pecel lelenya udah tutup kalo tengah malem gini, gimana kalo kita makan yang ada aja ?", Nina pun mengangguk tanda setuju .

Begitu juga kalau sedang di perjalanan, setelah makan siang diluar. Kadang-kadang kurang dari sejam setelah makan siang Nina udah minta jajan ini-itu. Biasanya kalau udah begini, saya akan bertanya dengan nada lembut,

"Ayaang…(suit suiit lagi ah)….emang kamu udah laper lagi ? kan tadi baru makan. Hayoo dibedakan ya antara laper dan hawa nafsu…tapi kalo kamu emang udah laper lagi ayo deh kita cari makanan lagi".

Mungkin kedengerannya tega bener gitu ya ? sebetulnya ngga kok, karena sering juga ketika keinginan itu saya penuhi malah akhirnya makanan yang udah dibeli tadi ngga diabisin. Sayang kan…kata ibu dulu waktu saya kecil, nanti pak taninya nangis kalau nasinya dibuang-buang…hehe..

Hal-hal semacam ini saya nikmatin aja dan ngga dibawa pusing. Alhamdulillah Nina pun cukup mengerti keadaan untuk meminta sesuatu. Saya jadi teringat cerita dari teman kalau ngga salah, tentang temannya lagi ketika suatu malam istrinya itu minta dibelikan sesuatu dan kalau ngga dipenuhi bisa menangis atau murung seharian. Akhirnya sang suaminya ini dengan tulus mencarikan apa yang diinginkan istrinya ini tengah malam dan hujan deras. Tapi akhirnya yang didapat bukanlah apa yang diinginkan si istri malahan berita duka cita, yaitu sang suami tergelincir ketika mengendarai motornya hingga jatuh dan…..meninggal. Hanya sesal yang mendalam yang tersisa. Tragis memang…

Seorang teman juga pernah bercerita bahwa istrinya yang positif hamil 2 minggu sekarang ada di Surabaya dan akan ada disana selama 2 bulan dan meninggalkan teman saya itu di Jakarta hanya karena sang istri ngidam makanan kampungnya, Surabaya. Padahal mereka baru 3 bulan menikah…..Saya hanya kasihan dengan teman saya itu yang setiap harinya pulang kantor jam 8-9 malam dengan kondisi lelah. Pastilah ingin dilayani sang istri tercinta dengan membuatkan teh manis hangat, kopi atau semacamnya. Tapi apa daya, "Maklumlah ndra istri lagi ngidam", kata teman saya pasrah …..

Tapi dari kisah ini saya mendapat pelajaran yaitu sebagai suami ketika menghadapi istri yang sedang hamil haruslah mempertebal kantong cintanya, kesabarannya dan pandai memanjakan istrinya secara proporsional. Tapi juga sebagai istri yang sedang hamil sebaiknya mampu membaca situasi dan kondisi tanpa harus terbawa hawa nafsu.

Nah…buat para calon ayah….sharing cerita dong tentang istrinya yang lagi hamil, atau yang sudah jadi ayah boleh juga sharing tips and tricknya disini

Wassalamu’alaikum

Alhamdulillah ngidamnya enak…..!

Assalamu’alaikum,

Alhamdulillah kehamilan Nina sekarang sudah memasuki 3 bulan setengah. Cukup banyak perubahan dari diri istri sebelum dan sesudah hamil. Memasuki masa kehamilan 3 bulan ini, jam "kamar" Nina jadi makin bertambah, sesudah maghrib dia pasti sudah dikamar dan istirahat karena seharian dari jam 6 pagi sampai Dzuhur didapur terus. Juga siklus makan Nina juga bertambah. Porsinya sih dikit tapi jangan tanya frekuensinya….sering banget! hehehe…Saya sampai sempat kewalahan dan terheran-heran ngeliat pola makan dia. Misalnya jam 1 siang dia makan nasi lengkap dengan lauk pauk, nah nanti jam 2an dia udah bisa makan yang lain seperti siomay, bakso dsb. Trus juga nanti jam 4an pun begitu….Tapi ya maklum juga sih ya, sekarang kan dia makan bukan buat dia sendiri tapi untuk dua orang .

Oh ya, memasuki kehamilan 3 bulan, Nina jadi sering banget masak. Padahal dulu di awal nikah, saya ngga pernah tahu kalau dia bisa masak. Paling banter yang saya tahu saat itu dia bisa masak nasi goreng, mie goreng, air, dadar. That’s it. Nah ketika masuk 3 bulan, mulai deh jurus-jurus rahasianya Nina supaya makin dicintain suami dikeluarin. Mulai dari Chicken cordon bleu, Calamari (cumi goreng tepung), sampai nasi tutug oncom bisa dia buat. Subhanallah….saya sampai bingung sejak kapan Nina belajar masak ya ?

Nah sejak itulah kita berdua punya kebiasaan baru yaitu setelah sholat shubuh kita pergi ke pasar untuk mencari bahan-bahan yang mau dimasak. Ibu saya juga sekarang mempercayakan sepenuhnya urusan dapur ke Nina. Kata ibu terserah deh mau masak apa tinggal bilang. Alhamdulillah….jadinya sekarang Nina suka ber-eksperimen dengan masakan-masakan yang sebelumnya cukup asing dirumah saya. Terakhir Nina bikin cumi tinta hitam (hiiy!) yang dari namanya saja saya cukup parno dengernya. Tapi pas dimakan…enak !. Bahkan Nina juga meng-klaim bisa membuat steak tenderloin dan juga steak kakap. Nah kalo steak kakap ini dia terinspirasi dari sebuah warung steak di Bandung namanya Road Cafe (yang tinggal di Bandung pasti tau deh!). Itulah dua rencana Nina yang belum terealisasikan sampai saat ini .

Ibu saya juga pas awal-awal Nina senang berkutat didapur sempat heran, kok tiba-tiba jadi gini ya menantunya hehehe. Kata ibu mungkin anaknya nanti perempuan nih, abis ngidamnya masak terus. Dulu saya sempet parno juga lho ketika denger cerita-cerita temen ada yang istrinya ngidam macem-macem diwaktu yang tak terduga (tengah malem dsb), tapi alhamdulillah yang ini ngidamnya bikin semua senang ! . Dan kalau kata saya sih, mau nantinya perempuan atau laki-laki silahkan gimana Allah aja deh baiknya, yang penting ngidamnya Nina ini membuat badan saya jadi naik dan makan enak terus! hihihii….duh makin cinta deh kalau udah gini sama istriku si koki cinta ehuheuhuehe! . Nah buat para wanita yang belum nikah, ayo pada belajar masak biar nanti suaminya betah makan dirumah, yang baru nikah dan udah bisa masak coba cari resep-resep baru biar suami makin cinta! .

Wassalamu’alaikum