May, 2007

Membedah Syiah (Farid Achmad Okbah, MA)

Oleh : Farid Achmad Okbah, MA
Staf Ahli Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam
 

Secara bahasa, Syiah berarti pengikut, kelompok atau golongan. Secara terminologi berarti satu aliran dalam Islam yang meyakini Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. (Ensiklopedi Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, Th 1997, Cet 4, Juz 5). Para penulis sejarah tak ada yang sepakat mengenai awal lahirnya sekte Syiah. Hanya bisa disimpulkan ada tiga pendapat yang menonjol menurut ulama Syiah.

Pertama, Syiah lahir sebelum datangnya risalah Muhammad saw. Al-Kulaini dari Abil Hasan meriwayatkan, "Wilayah Ali tertulis di seluruh suhuf para Nabi. Allah tidak mengutus Rasul kecuali dengan (misi) kenabian Muhammad saw dan wasiat Ali as," (Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini, al-Ushul Minal Kafi, Juz I).

Kedua, Syiah lahir pada masa Nabi masih hidup. Pendapat ini dilansir oleh al-Qumi, al-Nubakhti dan ar-Raji. (Dr Nashir al-Qufari, Ushul Madzhab Syiah Imamiyah, tanpa cetakan, th. 1415 H/1994 M, Cet. 2). Pendapat ini sulit dibuktikan, karena pada masa Abu Bakar dan Umar saja tak dikenal adanya pengikut Syiah.

Ketiga, pendapat yang umumnya diketengahkan banyak para penulis bahwa Syiah lahir setelah terjadi fitnah pembunuhan Utsman. Pendapat yang paling menonjol bahwa Syiah baru muncul ke permukaan setelah kemelut antara pasukan Ali dan Muawiyah. (Ensiklopedi Indonesia, Juz 6 Lihat: Abdullah bin Saba’, Dr Sulaiman al-Audah).

Syiah menurut penelitian Dr Abdul Aziz Wali dalam disertasinya, pada abad pertama masih sebatas pengutamaan Ali atas Utsman. Tak sampai mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Oi antara tokoh Syiah yang menyatakan itu adalah Imam Sya’bi dan Ja’far ash-Shadiq. Hanya kemudian tren Syiah berkembang menjadi madzhab tersendiri yang umumnya tak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyyah. Selanjutnya Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam mereka. (Mengapa Kita Menolak Syiah, LPPI, Th. 1418 H/1998 M, Cet. I).
 
Inti ajaran Syiah sebenarnya terletak pada masalah imam yang mereka pusatkan pada tokoh-tokoh Ahlul Bait. Karena itu mereka menentukan 12 Imam. Pihak Syiah meyakini imam-imam ini ma’shum (terjaga dari salah dan dosa) dan yang paling berhak melaksanakan imamah. Hanya dalam perkembangan Syiah terjadi perbedaan ketika menentukan siapa imam setelah Ali Zainal Abidin, apakah Zaid bin Ali atau Muhammad al-Baqir. Karena itu, Syiah terbagi dua: Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah. Demikian pula ketika menentukan Imam ketujuh, karena Ja’far ash-Shadiq mempunyai beberapa orang anak pria. Di sini Syiah Imamiyah menentukan Musa al-Kadzim, sedangkan Syiah Ismailiyah mengikuti Ismail bin Ja’far.

Di luar tiga golongan Syiah tersebut, terdapat Syiah Ekstrem yang menyatakan, Ali bin Abi Thalib sebagai tuhan dan tak mati terbunuh. Ini paham sesat dari Syiah Saba’iyah. Paham ini juga menyatakan al-Qur’an seharusnya turun pada Ali bin Abi Thalib. Karena kekeliruan malaikat Jibril, diberikan kepada Muhammad saw atau paham sesat dari Syiah Gusabiyah. (Ensiklopedi Juz 6 hal: 3406).

Ada empat rujukan utama Syiah untuk membangun madzhabnya. Pertama, Al-Kafi, karangan Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al Kulaini, ulama Syiah terbesar di zamannya. Dalam kitab itu terdapat 16199 hadits. Buku ini oleh kalangan Syiah paling terpercaya dari keempat rujukan itu.

Kedua, Man Laa Yahdhuruhul Faqih karangan Muhammad bin Babawaih al-Qumi. Di dalamnya ada 3913 hadits musnad dan 1050 hadits mursal. Ketiga, At- Tahdzib karangan Muhammad at-Tusi yang dijuluki Lautan Ilmu. Keempat, Al-Istibshar pengarang yang sama, mencakup 5001 hadits. (Muhammad Ridha Mudzaffar, al- ‘Aqaidul Imamiyyah, Muhammad Shadiq ash-Shadr, asy-Syiah al-Imamiyah, Kairo, Mathba’atun Najah, th. 1402 H/1982 M, Cet II, hal 130-134).

Secara umum, penyimpangan Syiah ada beberapa hal penting, yaitu:
 
I. Syiah hanya memiliki 5 rukun Iman, tanpa menyebut keimanan kepada para malaikat, Rasul, Qadha dan Qadar. Yaitu, 1. Tauhid (keesaan Allah) 2. al-’Adl (Keadilan Allah). 3. Nubuwwah (Kenabian) 4. Imamah (Kepemimpinan Imam) 5. Ma’ad atau Hari kebangkitan dan pembalasan. (Muhammad Ridha Mudzaffar, al-’Aqaidul Imamiyyah).

II. Syiah tak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu: 1. Shalat 2. Zakat 3. Puasa 4. Haji 5. Wilayah atau Perwalian. (al-Kafi, Juz II, hal 18).

III. Syiah meyakini bahwa al-Qur’an sekarangg ini telah diubah, ditambah atau dikurangi dari yang seharusnya.

IV. Syiah meyakini bahwa para sahabat sepeninggal Nabi murtad kecuali beberapa orang saja seperti al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary dan Salman al-Farisi. (ar Raudhah minal Kafi, Juz VIII, hal 245; dan al Ushul minal Kafi, Juz II, hal 244).

V. Syiah menggunakan senjata taqiyah yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan sebenarnya, untuk mengelabui. (al-Ushul minal Kafi, Juz II, hal 2l7).

VI. Syiah percaya pada ar-Raj’ah yaitu kembalinya ruh-ruh ke jasadnya masing-masing di dunia sebelum Kiamat di kala Imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam pada lawan-lawannya.

VII. Syiah percaya kepada al-Bada’yakni tampak bagi Allah dalam hal keimaman Ismail (yang telah dinobatkan ke-Imamannya oleh ayahnya Ja’far ash-Shadiq, tetapi kemudian meninggal di saat ayahnya masih hidup) yang tadinya tak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf, tetapi imam mereka tetap ma’shum.

VIII. Syiah membolehkan Nikah Mut’ah (Nikah Kontrak) dengan jangka waktu tertentu. (Tafsir Minhajus Shadiqin, Juz II, hal: 493). Padahal, nikah mut’ah telah diharamkan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri.

Menurut Ensiklopedi Islam, "Paham Syiah dianut oleh sekitar dua puluh persen dari umat Islam dewasa ini. Penganut paham Syiah tersebut di negara-negara Iran, Irak, Afghanistan, Pakistan, India, Libanon, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, bekas negara Uni Soviet, serta beberapa negara Amerika dan Eropa (Juz If, hal 5), dan termasuk Indonesia.

Sabili, No.5 Th. XIII 22 September 2005/18 Sya’ban 1426

Kejahatan Snouck Hurgronje terhadap Islam dan Aceh

Assalamu’alaikum,

Berikut ada tulisan yang mungkin menarik yang saya sadur dari bukunya Ust. Daud Rasyid. Saya hanya menambahkan foto-foto yang berkaitan yang saya scan dari bukunya Van Koningsveld. Mudah-mudahan berguna.

Kejahatan Snouck Hurgronje terhadap Islam dan Aceh

Snouck Hurgronje , ia lahir di Osterhoot, Belanda pada 8 Pebruari 1857 dan meninggal di Leiden pada 26 Juni 1936. Menyelesaikan pendidikan tinggi dalam bidang bahasa-bahasa Semith pada tahun 1880 dengan desertasi yang berjudul ‘Perayaan Makkah’. Ia berasal dari keluarga Pendeta Protestan Tradisonal, mirip Orthodox, namun lingkungan belajarnya sampai tingkat tertentu adalah liberal. Snouck berpendapat bahwa al-Qur’an bukanlah wahyu dari Allah, melainkan adalah karya Muhammad yang mengandung ajaran agama.

Seorang peneliti Belanda kontemporer Koningsveld, menjelaskan bahwa realitas budaya di negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck selanjutnya. Pada saat itu, para ahli perbandingan agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori "Evolusi" Darwin. Hal ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia. Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap hukuman atas dosa-dosa mereka.

Ringkasnya, agama dan peradaban Eropa adalah lebih tinggi dan lebih baik dibanding agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck selanjutnya.

Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah berkata: "Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan -maksudnya warga muslim Indonesia- agar terbebas dari Islam". Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap Islam tidak pernah berubah.

Snouck pernah mengajar di Institut Leiden dan Delf, yaitu lembaga yang memberikan pelatihan bagi warga Belanda sebelum ditugaskan di Indonesia. Saat itu, Snouck belum pernah datang ke Indonesia, namun ia mulai aktif dalam masalah-masalah penjajahan Belanda. Pada saat yang sama perang Aceh mulai bergolak.

Saat tinggal di Jedah, ia berkenalan dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para haji jemaah Dari Indonesia untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.

Pada saat itu pula, ia menyatakan ke-Islam-annya dan mengucapkan Syahadat di depan khalayak dengan memakai nama "Abdul Ghaffar." Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya menyebutkan "Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak, dan ulama- ulama Mekah telah mengakui keIslaman Anda". "Seluruh aktivitas Snouck selama di Saudi tercatat dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden, Belanda.

Snouck menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang ‘Ulama besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885. Selama di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama. Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu.

Snouck kemudian menawarkan diri pada pemerintah penjajah Belanda untuk ditugaskan di Aceh. Saat itu perang Aceh dan Belanda mulai berkecamuk. Snouck masih terus melakukan surat menyurat dengan ‘Ulama asal Aceh di Mekah.

Snouck tiba di Jakarta pada tahun 1889. Jendral Benaker Hourdec menyiapkan asisten-asisten untuk menjadi pembantunya. Seorang di antaranya adalah warga keturunan Arab, yaitu Sayyid Utsman Yahya Ibn Aqil al Alawi (klik untuk lihat foto). Ia adalah penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Islam dan kaum Muslim.

Selain itu, ia juga dibantu sahabat lamanya ketika di Makkah, Haji Hasan Musthafa (klik untuk lihat foto) yang diberi posisi sebagai penasehat untuk wilayah Jawa Barat. Snouck sendiri memegang jabatan sebagai penasehat resmi pemerintah penjajah Belanda dalam bidang bahasa Timur dan Fiqh Islam. Jabatan ini masih dipegangnya hingga setelah kembali ke Belanda pada tahun 1906.

Pembersihan Aceh

Misi utama Snouck adalah "membersihkan" Aceh. Setelah melakukan studi mendalam tentang semua yang terkait dengan masyarakat ini, Snouck menulis laporan panjang yang berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian jadi acuan dan dasar kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapai masalah Aceh.

Pada bagian pertama, Snouck menjelaskan tentang kultur masyarakat Aceh, peran Islam, ‘Ulama, dan peran tokoh pimpinannya. Ia menegaskan pada bagian ini, bahwa yang berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para ‘Ulama. Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena mereka hanya memikirkan bisnisnya.

Snouck menegaskan bahwa Islam harus dianggap sebagai faktor negatif, karena dialah yang menimbulkan semangat fanatisme agama di kalangan muslimin. Pada saat yang sarna, Islam membangkitkan rasa kebencian dan permusuhan rakyat Aceh terhadap Belanda. Jika dimungkinkan "pembersihan" ‘Ulama dari tengah masyarakat, maka Islam takkan lagi punya kekuatan di Aceh. Setelah itu, para tokoh-tokoh adat bisa menguasai dengan mudah.

Bagian kedua laporan ini adalah usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan dilakukannya operasi militer di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan rakyat yang menjadi sumber kekuatan ‘Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang untuk membangun kerjasama dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa Snouck didukung oleh jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi.

Cara yang ditempuh sama dengan yang dilakukannya di Saudi dulu, yaitu membangun hubungan dan melakukan kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah seorang saudara semuslim. Dalam suatu korespondensinya dengan ‘Ulama Jawa, Snouck menerima surat yang bertuliskan "Wahai Fadhilah Syekh AIlamah Maulana Abdul Ghaffar, sang mufti negeri Jawa. "

Lebih aneh lagi, Snouck menikah dengan putri seorang kepala daerah Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1890. dari pernikahan ini ia peroleh empat anak: Salamah, ‘Umar, Aminah dan Ibrahim (klik untuk lihat foto). Akhir abad 19 ia menikah lagi dengan Siti Sadijah (klik untuk lihat foto), putri khalifah Apo, seorang ‘Ulama besar di Bandung. Anak dari pernikahan ini bernama Raden Yusuf.

Snouck juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor Noldekhe, seorang orientalis Jerman terkenal. Dalam suratnya, Snouck menegaskan bahwa keIslaman dan semua tindakannya adalah permainan untuk menipu orang Indonesia demi mendapatkan informasi.

Ia menulis "Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah satu-satulnya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik. "

Temuan lain Koningsveld dalam surat Snouck mengungkap bahwa ia meragukan adanya Tuhan. Ini terungkap dari surat yang ia tulis pada pendeta Protestan terkenal Herman Parfink yang berisi, ‘Anda termasuk orang yang percaya pada Tuhan. Saya sendiri ragu pada segala sesuatu. "

Komentar Dr. Van Koningsveld

Dr. Veld berkomentar tentang aktivitas Snouck: "Ia berlindung di balik nama "penelitian Ilmiah" dalam melakukan aktifitas spionase, demi kepentingan penjajah". Veld yang merupakan peneliti Belanda yang secara khusus mengkaji biografi Snouck menegaskan, bahwa dalam studinya terhadap masyarakat Aceh, Snouck menulis laporan ganda. Ia menuliskan dua buku tentang Aceh dengan satu judul, namun dengan isi yang bertolak belakang. Dari laporan ini, Snouck hidup di tengah masyarakat Aceh selama tiga puluh tiga bulan dan ia pura-pura masuk Islam.

Dalam rentang waktu itu, ia menyaksikan budaya dan watak masyarakat Aceh sekaligus memantau perisriwa yang terjadi. Semua aktivitasnya tak lebih dari pekerjaan spionase dengan mengamati dan mencatat. Sebagai hasilnya ia menulis dua buku. Pertama berjudul "Aceh," memuat laporan ilmiah tentang karakteristik masyarakat Aceh dan buku ini diterbitkan. Tapi pada saat yang sama, ia juga menulis laporan untuk pemerintah Belanda berjudul "Kejahatan Aceh." Buku ini memuat alasan-alasan memerangi rakyat Aceh.

Dua buku ini bertolak belakang dari sisi materi dan prinsipnya. Buku ini menggambarkan sikap Snouck yang sebenarnya. Di dalamnya Snouck mencela dan merendahkan masyarakat dan agama rakyat Aceh. Laporan ini bisa disebut hanya berisi cacian dan celaan sebagai provokasi penjajah untuk memerangi rakyat Aceh.

Disadur dari :

- Tulisan : Dr. Daud Rasyid, MA, Fenomena Sunnah di Indonesia, Potret Pergulatan Melawan Konspirasi Hal. 196-199 (Usamah Press, Jakarta Cet I Agustus 2003)

- Foto-foto : P.SJ. Van Koningsveld, Snouck Hurgronje en Islam; Acht artkelen over leven en werk van een orientalist uit het koloniale tijdperk (Terj. Snouck Hurgronje dan Islam, PT. Girimukti Pasaka Cet. I : 1989)

Sebuah ikhtiar (The Sequel)

Assalamu’alaikum,

Masih ingat dengan tulisan yang saya buat beberapa waktu yang lalu dengan judul "Sebuah ikhtiar" ?. Nah tulisan saya kali ini mungkin bisa menjadi bagian keduanya atau sequelnya yang masih bercerita seputar wirausaha kecil-kecilan. Alhamdulillah Allah memberikan amanah kepada saya dan istri untuk kembali membuka tempat berikhtiar. Dan saya pun patut menyukuri lebih karena Allah telah menganugerahkan seorang istri yang bisa memasak. Sehingga jadilah tempat ikhtiar kami kali ini adalah sebuah tempat makan.

Kedai Sotosop 99, begitu kami memberi nama tempat usaha kecil-kecilan kami ini yang bertempat di kantin gedung perkantoran Graha Surya Internusa (GSI), Kuningan sebelah hotel Grand Melia. Angka 99 diambil dari tanggal pernikahan kita yaitu tanggal 9 bulan 9 (September). Sesuai namanya, apa yang disediakan disini adalah jenis makanan-makanan yang berkuah. Rencananya sih menu yang berkuahnya akan menjadi bervariasi, tapi untuk sementara ini Nina, istri saya baru menyediakan Soto Betawi, Sop Iga Sapi, Sop Buntut dan Soto Ayam (menyusul). Insya Allah Nina akan meng-eksplor lebih jauh tentang menu-menu berkuah ini, dan yang saya tunggu-tunggu salah satunya adalah Soto Padang dan Soto Jakarta :).

Rencana membuka Kedai Sotosop 99 di kantin perkantoran GSI sangat mendadak. Saat itu saya, Nina dan ibu sedang menghadiri pengajian kantoran yang diadakan di gedung GSI di lantai 7, tepatnya di musholla kantor bank Danamon Syariah. Kebetulan yang mengisi ceramah saat itu adalah ibu Lisa Mulia teman ibu sewaktu kenal di INSISTS. Ya, ibu saya dan bu Lisa menjadi dekat setelah sering menghadiri kajian di INSISTS. Nah selesai pengajian di musholla itu kami turun ke kantin untuk makan siang bersama disana. Setelah makan siang, saya mencari-cari Nina. Kok dia ngilang tiba-tiba ya ?. Setelah saya melihat ke sekeliling kantin, saya melihat Nina sedang asik ngobrol dengan seorang wanita berseragam yang belakangan saya ketahui adalah daily manager di kantin itu.

Singkat cerita, jadilah saat itu terbersit dalam benak Nina dan saya untuk membuka usaha baru dan mulai berkelana dari warung soto satu ke warung soto lainnya. Istilahnya sejak saat itu kita jadi rajin wisata kuliner untuk mencari rasa yang pas :D. Ngga jarang juga lho ketika kita berkunjung ke satu warung soto yang enak dan Nina langsung menanyakan resep-resepnya tanpa basa-basi hehe. Contohnya ketika kita mampir di warung soto Jakarta bang Madun di daerah Barito Jakarta Selatan. Selesai makan, Nina asyik bercengkerama dengan penjualnya, bang Iwan. Sampai-sampai saya yang kenal dengan penjualnya jadi ngga enak sendiri hehe.

Setelah sekitar seminggu kita wisata kuliner, Nina mulai mencoba buat makanan-makanan tersebut dan keluarga dirumah menjadi jurinya. Kalau untuk urusan yang ini saya paling sering dimintai pendapat oleh Nina. Setiap kali Nina tanya enak atau ngga, tentu saja saya selalu jawab enak, namanya juga cinta istri . Maka dari itu saya selalu bilang ke Nina jangan tanya ke saya deh supaya jawabannya bisa lebih objektif hehe. Akhirnya setiap ada yang datang ke rumah pas Nina lagi masak pasti selalu diberondong pertanyaan-pertanyaan "Enak ngga ?", "Kurang apa ?" dan pertanyaan semacam itu.

Setelah proses uji coba di dapur femina eh maksud saya dapur Nina selesai, maka tugas selanjutnya adalah mulai mengumpulkan peralatan memasak mulai dari piring, mangkok, sendok garpu, panci dan sebagainya. Tak lupa bumbu-bumbu masak pun mulai kita buru. Untuk urusan ke pasar setiap hari pun ngga jadi masalah buat kita karena memang sebelumnya sudah terbiasa. Hanya saja kali ini setiap kali belanja di pasar, barang bawaannya menjadi dua kali lipat bahkan bisa tiga kali lipat tergantung mau bikin stok untuk berapa hari.

Proses keseluruhan dari ide awal, pengumpulan barang keperluan, belanja di pasar sambil mengangkut barang bawaan yang berat adalah proses yang cukup melelahkan. Apalagi ketika di awal buka kita berdua masih newbie alias pemula dalam hal ini, jadi maklum saja ketika itu banyak mendapat complaint dari pembeli karena pesanan mereka lama datengnya. Display dagangan kita pun di hari pertama bener-bener seadanya tanpa hiasan sedikit pun .

Tapi alhamdulillah sekarang Kedai Sotosop 99 sudah berjalan seminggu di kantin itu. Sehingga makin banyak pelajaran yang kita dapat. Dayat, pegawai kita yang dulu di kebab dan sekarang ganti posisi menjadi pegawai Kedai Sotosop 99 pun sudah cukup terlatih untuk menghadapi situasi yang ramai dan sudah bisa ditinggal disana. Untuk pegawai counter kebab pun sudah ada penggantinya walau masih harus terus dipantau.

Akhir kata (walaupun bukan akhir cerita), saya dan Nina mengundang temen-temen di MP ini yang kantornya kebetulan deket sama gedung GSI samping hotel Grand Melia untuk sudilah kiranya mampir ke kedai kecil kita untuk mencicipi masakan buatan Nina dan memberi masukan apabila ada yang kurang. Mohon doanya ya ! :D

Wassalamu’alaikum