Travel Jakarta - Bandung

Berhubung akhir-akhir ini saya dan Nina seringkali bolak-balik Jakarta-Bandung untuk mengurus skripsinya Nina, mau ngga mau kita jadi sering berurusan dengan travel. Apalagi kendaraan dirumah juga sedang dalam kondisi kurang fit untuk perjalanan jauh. Berikut ini ada list travel yang melayani jurusan Jakarta-Bandung dan sebaliknya. Diantara list ini yang pernah saya coba baru dua, yaitu XTrans dan CitiTrans.

XTrans punya kelebihan yaitu tempat berhentinya banyak sehingga kita bisa memilih mau turun dimana. Pertama kali mencoba XTrans, saya puas karena selain masing-masing penumpang mendapatkan air minum botol sedang, karena saya tinggal di daerah Kemanggisa, saya juga bisa turun tepat di depan Slipi Jaya dan dari situ tinggal naik ojek. Kekurangannya, tempat duduk XTrans kurang private alias model tempat duduknya berdampingan jadi cukup risih juga kalo dijalan kita ketiduran dan tiba-tiba terbangun dipundak penumpang sebelah :p.

CitiTrans punya kelebihan yaitu tempat duduk yang private. Modelnya seperti kursi metromini yang masing-masing terpisah. Tentu aja kursinya empuk ngga seperti metromini. Disetiap kursi juga disediakan headphone untuk mendengarkan musik yang dipasang oleh supirnya. Tapi terkadang headphone ini jarang digunakan oleh para penumpang karena pertama, mereka mungkin lebih memilih langsung tidur begitu mobilnya jalan. Kedua, selera musik sang supir dan penumpang seringkali berbeda jadi yaa….tetap lebih nyaman bawa Walkman/MP3Player/iPod sendiri. Kekurangan CitiTrans menurut saya adalah kurang banyaknya stoping point alias tempat berhentinya cuma ada di dekat gedung Bursa Efek Jakarta di kawasan SCBD (Saat ini sudah ada juga di Fatmawati dan Kelapa Gading).

Dari dua travel ini, dua-duanya mengklaim bisa menjangkau tujuan dalam waktu 2,5 jam. Tentu aja ini relatif, mengingat kondisi Jakarta yang udah kebanyakan mobil ini…hhffff….

Baiklah berikut ini list yang saya copy dari sini. Jangan lupa berbagi cerita juga ya kalau ada yang menggunakan travel selain XTrans dan CitiTrans. Semoga bermanfaat and have a nice weekend !

 

X-Trans

Telepon:

  1. The Promenade, Jl. Cihampelas No. 119C: 022-2061077
  2. Bandung

    Selatan: 022-70840555

  3. Jl. Blora: 021-3150555
  4. Pondok Indah: 021-7513806, 021-70735553
  5. Bintaro: 021-75816429, 021-70771113
  6. Kelapa Gading: 021-70725552, 021-92745555
  7. Jatiwaringin: 021-70333336, 021-92705555
  8. Tomang: 021-56942595, 021-93765555

Jadwal:

  1. Bandung

    (The Promenade, Jl. Cihampelas No. 119C) - Tomang (Buana Bakery, Jl. Mandala Raya No. 28B): 05.30, 09.30, 12.30, 15.30, 19.30

  2. Bandung

    (The Promenade, Jl. Cihampelas No. 119C) -

    Jakarta

    (Jln. Blora): setiap 1/2 jam dari pukul 04.00 s/d 22.00

  3. Bandung

    (The Promenade, Jl. Cihampelas No. 119C) - Pondok Indah: setiap jam dari jam 06.00 s/d 21.00

  4. Bandung

    (The Promenade, Jl. Cihampelas No. 119C) - Bintaro Trade Centre (O’kz cafe) via Pondok Indah: 06.00, 08.00, 10.00, 12.00, 14.00, 16.00, 18.00, 20.00

  5. Bandung

    (The Promenade, Jl. Cihampelas No. 119C) - Kelapa Gading/Pulo Mas (Rest Sederhana, Jl. Kayu Putih raya No. 1): 05.00, 09.00, 12.00, 15.00, 19.00

  6. Bandung

    (The Promenade, Jl. Cihampelas No. 119C) - jatiwaringin (LeZatte bakery): 05.00, 08.00, 11.00, 14.00, 17.00, 20.00

  7. Bandung

    Selatan (Hotel Marala), Jl. Raya Pelajar Pejuang 114 via The Promenadeke Jl. Blora: 05.15, 09.15, 13.15, 16.15, 19.15

  8. Bandung

    (The Promenade, Jl. Cihampelas No. 119C) - Bandara Cengkareng: langsung 02.00, 04.00. Jl. Blora - Cengkareng: 09.00, 11.00, 13.00, 15.00, 17.00, 19.00 dan sebaliknya: 08.00, 10.00, 12.00, 14.00, 16.00, 18.00, 20.00

CitiTrans

Layanan Reguler:

Bandung (Dipati Ukur No. 53 sebelah SPBU Dipati Ukur)

Jakarta (Club Store belakang BEJ, Sudirman) PP

Layanan

Airport

:

Bandung

- Cengkareng

Berangkat setiap jam.

Telepon:

  1. Bandung

    : 022-91190300, 022-70355300

  2. Jakarta

    : 021-92796222, 021-68400846

DayTrans

Bandung (Hotel Nalendra Jl. Cihampelas) -

Jakarta

(Jl. Karet Pasar Baru Barat No. 14D, (Karet Bivak) Deretan Wisma Dharmala)


Jadwal:

05.00, 06.00, 07.00, 09.00, 10.00, 11.00, 13.00, 14.00, 16.00, 17.00, 18.00, 20.00

Telepon:

Bandung

: 022-70256767, 022-91236767

 

Jakarta

: 021-68556767, 021-93366767

Transline

Plaza semanggi di cafe walk Lt.gf
021-71029090
98879090
021-68018080
92859090

Bandung

,Jl surya Sumantri No.86.C
022-7027.8080
70291060
harga Rp 65.000,- pool ke pool
kalo dianter jemput tambah Rp 20.000,-

Cipaganti Shuttle

Jakarta
Pusat Jl Cikini Raya no 8 no telp 021-3147854, 021-3904403

Jakarta

Selatan Jl Arteri Pondok Indah no 60 021-7204616 , 021-7204766

Bandung

: BTC Jl Dr Djunjunan no 143 LGF C-6 022-6126650, 022-91173131
Harga biasa Rp 50.000,-


Baraya Travel

Bandung

: Daerah stadion siliwangi no telp 022-4210071

Jakarta

: Gd sarinah no telp 021-9122176 , 021-93796975
Harga katanya sih Rp 35.000,-


Farametta


Bandung : Jln Supratman… 022-70836393
Jakarta : Tanah Abang  … 021-3156289
Harga : 60.000


TeleTrans


Travel kerjasama ama PT. TELKOM,point to point, mobilnya ISUZU ELF,

Harga Rp. 65.000,-

Bandung

:

Main

Point

Jl.

Palasari no.26 ( 022)7072194 - 7072195==>reservation.

Transit

Point

Jl..

Japati No.1 ( Kantor Telkom )

Bandung

Kalo’ Jakarta
Main Point
Kawasan Niaga Sudirman LOT 16(sebelah

Golf

Driving

Range

)
Telp.(021)68631844

Transit point
Graha Citra Telkom Jl. Gatot SubrotoNo.52

V3 Trans

point to point Rp 35.000,-

Wisma Benhil Blok B-4 Jl. Jend. Sudirman Jakpus (tel 021-5703466) -

Jl. Dr. Djunjunan 70 Bandung (022-2038247)


Mega Trans


Benhil JKT -

Bandung

(Banda atau Borma Antapani)
Alfa Pasar Minggu JKT - Banda BDG

Harga Rp 50.000 rb. APV 7 seat.

JKT Jl. Bendungan Hilir G1 No. 8 Tel 021-93594600.

       Alfa Pasar Minggu Tel 02193594646               

BDG Terusan Jl. Jakarta No. 53 Tel. 022-91292727

 Jalan Banda Tel. 0224261617


Aya Travel 

Depok - Bandung

Depok - Margonda Raya ( Sebelah BNI )  Telp 021-68931121

Bandung - Jln. Dipati Ukur Telp.02270202089

Pengalaman pertama bersama istri

Assalamu’alaikum,

Kalau membaca judul diatas konotasinya bisa macam-macam. Tapi yang saya maksud disini benar-benar yang pertama kali saya lakukan didepan publik dan bersama istri pula.

Ketika saya menikah bulan September 2006 lalu, banyak rekan-rekan saya yang menawarkan bantuan tenaganya apabila dibutuhkan. Tapi saat itu bantuan tenaga sudah mencukupi dan saya juga ngga mau merepotkan teman-teman saya. Bahkan kalau memungkinkan, saya maunya mereka semua menjadi tamu bukan panitia. Tapi ada satu teman saya atau mungkin lebih tepatnya dibilang seorang sahabat. Karena saya memang kenal dia semenjak sd kelas 5, namanya Dodo. Sepuluh tahun lebih bersahabat dengan dia banyak menimbulkan kenangan yang seru, lucu sekaligus menyebalkan. Dodo dan saya punya cukup banyak kesamaan dalam bidang hobi. Mulai dari koleksi mainan GI.JOE jaman sd dulu, main skateboard bareng di Senayan tahun 95an sampai yang terakhir airsoft gun.

Bukan bermaksud sombong nih ya, tapi biasanya trendsetter dari hobi-hobi itu adalah saya hehehe. Sayalah yang memulai demam GI.JOE, skateboard dan airsoft gun. Kalau hobi yang terakhir ini kita mulainya barengan dan tanpa sengaja ketemu lagi sudah dalam keadaan demam airsoft gun. Uniknya, biasanya saya pulalah yang mengakhiri hobi-hobi itu. Ketika teman-teman saya yang lain koleksi GI.JOE nya sudah semakin banyak, saya justru memilih berhenti mengoleksinya. Otomatis saya jadi sering diprotes karena dikatakan ngga konsisten dengan hobi saya itu hehehe. Tapi ya itulah karena saat itu kita masih kecil-kecil, sehingga sekarang moment-moment seperti itu menjadi hal yang lucu untuk diingat-ingat setelah dewasa.

Kembali ke topik, ketika saya sedang mempersiapkan pernikahan Dodo menawarkan bantuannya untuk menjadi bagian dokumentasinya alias fotografer pernikahan saya dan Nina. Reputasi Dodo dalam fotografi bagi saya ngga perlu saya ragukan lagi selain karena dia memang keponakan dari Darwis Triadi dan banyak menuntut ilmu fotografi dari beliau, Dodo pun punya style sendiri dan sekian lama bersahabat dengannya membuat saya yakin bahwa nantinya dia akan menjadi fotografer yang handal. Terlebih lagi dengan kebaikan hatinya untuk ikut berpartisipasi dalam acara pernikahan saya.

Akhirnya jadilah Dodo dan teman saya satu lagi menjadi fotografer pernikahan saya. Saat itu saya bilang sama Dodo supaya kalau bisa budgetnya jangan gede-gede ya karena memang terbatas dananya. Tapi Dodo punya jawaban yang membuat saya terharu. Dia hanya menjawab, "Ndra dulu gue pernah ber-azzam sama Allah kalau gue dijadiin orang yang handal dalam bidang fotografi, gue bakal bantu temen-temen gue yang perlu dibantu. Soal bayaran ngga usah lo pikirin, sekarang lo tinggal konsen ke hari H aja. Everything is under control bro".

Singkat cerita Dodo pun melakukan tugasnya dan malam sebelum hari pernikahan saya, Dodo ada acara dulu bersama calonnya dan baru bisa malam berangkat ke Bandung, akhirnya yang membuat saya semakin takjub adalah profesionalitas yang dia tunjukkan tanpa memandang bayarannya. Saat itu Dodo dan partnernya berangkat ke Bandung jam 2 pagi dan melakukan pemotretan pernikahan saya jam 8 paginya !. Subhanallah, jazakallah khair ya bro. Sebagian hasil foto-fotonya bisa dilihat disini.

Nah tanggal 7 Juli kemarin, akhirnya Dodo pun menyusul saya. Dia memutuskan untuk berhenti melajang dan memilih untuk menikah. Ketika dia mengabarkan hal ini, yang terbayang di benak saya adalah apa ya yang bisa saya bantu untuk Dodo. Saya juga memberitahu Dodo kalau ada yang perlu dibantu silahkan telpon saya. Benar saja, ngga lama setelah dia mengabarkan rencana menikahnya Dodo kembali menelpon saya dan meminta saya menjadi Qori dan istri saya Nina menjadi saritilawahnya. Waduh ini tugas yang berat pikir saya, karena dari segi bacaan dan lagu masih banyak yang jauh lebih baik dari saya. Tapi saat itu Dodo ngga memberikan pilihan tugas yang lain dan juga ngga memberikan saya cukup waktu untuk berpikir.

Saya cuma tanya ke Dodo kenapa kok bisa kepikiran saya untuk Qorinya. Dodo menjawab, bahwa dulu ketika saya menikah dan memberikan mahar ke Nina berupa hafalan surat Ar-Ruum 20-23, katanya saat saya membacakan mahar itu dia sempat merinding dan hampir nangis. Ketika dia mengatakan alasan itu saya sempat diam dan terpikir, Ya Allah…ketika dulu dia membantu saya, dia melakukannya tanpa pamrih…bahkan hutang ongkos transportasi yang dulu pernah saya janjikan pun belum saya lunasi dan dianya sendiri tak pernah sekalipun menagih hutang itu, masya Allah baik bener ini orang. Kalau saya tolak, maka dengan apa lagi saya bisa membalas kebaikan dia. Tapi kalau tawaran ini saya terima pun bebannya ngga main-main. Setelah berpikir cukup lama akhirnya saya putuskan untuk menerima tawaran Dodo itu.

Akhirnya tanggal 7 Juli 2007 itu jadilah pengalaman pertama saya dan Nina duduk berdampingan di dekat mimbar masjid Bank Indonesia dan dihadapan khalayak ramai. Saya yang mengaji dan Nina yang menterjemahkannya. Benar-benar pengalaman pertama yang mendebarkan. Semoga sang janin yang ada di perut Nina bisa ikut mendengar ayah dan ibunya ngaji :). Semoga juga dengan ini pernikahan Dodo akan lebih membawa keberkahan dan dijadikan oleh Allah menjadi keluarga yang selalu dalam keridhaan-Nya. Barakallahulaka wabaaraka ‘alaika wa jama’aka bainakuma fii khoir. Amin

Wassalamu’alaikum

Sehari bersama Prof. Mudatsir Abdul Karim

Assalamu’alaikum,

Galak. Begitulah kesan pertama yang saya tangkap pertama kali bertemu beliau. Tapi setelah banyak berdiskusi dengan guru besar ilmu politik di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur ini, kesan itu memudar dan saya melihat sifat kasih sayang dan kebapakan dalam diri beliau. Foto-fotonya ada disini.

Hari Jum’at tanggal 29 Juni kemarin saya mendapat tugas dari INSISTS untuk menjadi tour guide pribadi beliau seharian penuh. Setelah bertemu dengan mas Eko sang sekretaris INSISTS di Kalibata jam 11, kami berdua segera menjemput Prof. Mudatsir dan keluarganya yang menginap di sebuah Guest House di daerah Pejaten. Rencananya hari itu Prof. Mudatsir ingin melaksanakan sholat Jum’at di masjid Istiqlal. Tapi entah kenapa hari itu Jakarta macet seharian penuh. Akhirnya kami memutukan untuk sholat Jum’at di masjid di daerah Kalibata. Setelah itu makan siang di rumah makan padang. Diskusi di INSISTS hari itu seharusnya dimulai dari jam 2 siang, tapi karena macet, jarak dari rumah makan padang ke INSISTS terasa jauh dan memakan waktu 45 menit untuk sampai disana. Diskusi pun dimulai jam 3 kurang 10 menit.

Setelah diskusi selesai jam 5 sore, Prof. Mudatsir minta diantar ke masjid Istiqlal untuk sholat Maghrib berjamaah disana. Saya berangkat bersama bang Henry Shalahuddin dan mas Eko. Tapi lagi-lagi kemacetan Jakarta membuat kami harus tertinggal sholat berjamaah disana. Selama dijalan Prof. Mudatsir bicara tentang struktur pemerintahan di Malaysia dan juga banyak bertanya apa yang sudah dilakukan pemerintah daerah Jakarta untuk mengatasi kemacetan yang sudah sedemikian parahnya. Saya katakan bahwa sarana angkutan Busway dan Monorail adalah salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah untuk mengatasi kemacetan walaupun sampai saat ini belum menunjukan perubahan yang signifikan.

Kami sampai di Istiqlal sekitar jam setengah 7. Setelah sholat Maghrib dan Isya berjamaah di Istiqlal, Prof. Mudatsir yang aslinya dari Sudan ini minta diantar ke tempat perbelanjaan. Kalau yang ini tentu permintaan dari istri dan anak perempuannya juga untuk mencari oleh-oleh untuk anaknya yang lain di Malaysia. Saya memutuskan untuk mengantar beliau ke Plaza Senayan, karena saya ingat disana ada Metro yang menyediakan cukup banyak barang yang bisa untuk oleh-oleh.

Sekali lagi, rencana kami untuk bisa selesai semua urusan jam 9 malam harus gagal karena kemacetan di Jakarta hari benar-benar mengubah semua jadwal kami. Kami berangkat dari Istiqlal jam setengah 8 dan baru sampai di Plaza Senayan jam 9 pas. Alhamdulillah saya menggunakan mobil bertransmisi matic jadi cukup mengurangi penderitaan menyetir di Jakarta. Tapi saya sangat kasihan dengan Prof. Mudatsir dan keluarganya, mereka sudah terlihat sangat lelah dan bosan selama di perjalanan. Untung ketika hendak berangkat dari INSISTS sorenya saya punya inisiatif untuk mengajak bang Henry yang fasih bahasa arabnya, sehingga selama di perjalanan Prof. Mudatsir jadi lebih banyak berdiskusi dengan bang Henry.

Selesai belanja Prof. Mudatsir mengatakan, "You’re all my guest now so please show me a nice and cozy restaurant and let me take you to a dinner". Alhamdulillah perut kami yang sedari sore meronta akhirnya akan diberi makan juga hehe. Berhubung yang ditunjuk sebagai tour guide adalah saya maka saya memikirkan akan saya bawa kemana ya tamu ini ? Saya sempat terpikir untuk mengajak mereka ke Arabian Cafe di Kemang agar mereka merasakan bagaimana atmosfir Timur Tengah di Jakarta. Tapi ternyata setelah sampai di daerah Kemang tentunya dengan bermacet-macet ria dahulu, tempat itu ngga saya temukan, entah memang sudah tutup atau mungkin terlewat.

Akhirnya saya berinisiatif untuk mengajak mereka ke Dakken yang masih di daerah Kemang juga, sebuah cafe yang punya speasialis steak & coffee. Alasan saya memilih di tempat itu adalah karena sepi pengunjung dan tata ruangnya pun menyerupai rumah biasa sehingga bisa lebih hangat suasananya dibanding restoran yang ramai. Kita berangkat dari Plaza Senayan sekitar jam 10an dan sampai di Kemang jam 11an, walhasil makan malam kami baru dimulai jam setengah 12 malam ! hehe…

Setelah kenyang dan mulai ngantuk, kami pun mulai beranjak pulang. Tujuan pertama tentu mengantarkan Prof. Mudatsir dan keluarganya kembali ke guest house di Pejaten. Tujuan kedua mengantarkan bang Henry dan mas Eko ke kantor INSISTS di Kalibata. Dan tujuan terakhir, tentu saja pulang ke rumah saya dan menemui Nina, istri tercinta yang kehamilannya sudah 7 bulan yang sudah saya tinggalkan seharian dari pagi. Saya sampai dirumah sekitar jam setengah 2 pagi. Alhamdulillah Nina bisa mengerti bahwa apa yang saya lakukan ini insya Allah bernilai amal baik dan semoga Allah melimpahkan balasannya kepada kami dan anak kami nanti. Amin !

Wassalamu’alaikum

PS : Rekaman diskusi di INSISTS dengan Prof. Mudatsir insya Allah akan diposting disini.

Diskusi INSISTS: Pengalaman Belajar Islam di Barat

Tema :

Pengalaman Belajar Islam di Barat

Pembicara :

Dr. Syamsuddin Arif Ph.D*
(Orientalisches Seminar, Universitas Frankfurt)

Waktu :

Sabtu, 7 Juli 2007 Pukul 13.00 WIB

Tempat :

INSISTS
Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization
Jl. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta Selatan
Tlp. 021-7940381 SMS Centre: 08111102549

Peserta Tidak Terbatas

Syamsuddin Arif, lahir 19 Agustus 1971 di Jakarta, tamat dari KMI Gontor 1989. Setelah dua tahun mengaji dan mengabdi di Majlis Qurra’ wa-l Huffazh, Tuju-tuju, Bone (Sulawesi Selatan), menempuh program S1 di International Islamic University Malaysia (IIUM) sampai selesai 1996. Kemudian melanjutkan program S2 di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) sampai selesai 1999 dengan tesis, “Ibn Sina’s Theory of Intuition”, di bawah bimbingan Alparslan Açikgenç.
 
Program S3-nya di ISTAC diselesaikannya pada 2004 dengan disertasi berjudul “Ibn Sina’s Cosmology: A Study of the Appropriation of Greek Philosophical Ideas in 11th Century Islam”, di bawah supervisi Paul Lettinck. Saat ini ia tengah menggarap disertasi keduanya di Orientalisches Seminar, Universitas Frankfurt, yang disponsori oleh DAAD Jerman.
 
Ia pernah mengajar selama dua semester di Matriculation Centre IIUM, menjadi staf Publications Unit di ISTAC, dan dikirim oleh ISTAC ke Istanbul (Turki) selama dua bulan atas undangan IRCICA untuk mempelajari seni khat langsung dari Hasan Celebi (murid Hamid al-Amidi).
 
Di samping Arab dan Inggris, bahasa yang telah (dan masih terus) dipelajarinya antara lain Greek, Latin, Jerman, Perancis, Hebrew dan Syriac. Karya tulisnya yang telah diterbitkan antara lain: “Intuition and Its Role in Ibn Sina’s Epistemology” dalam al-Shajarah, vol. 5, no.1 (2000): 95-126, “Sufi Epistemology: Ibn ‘Arabi on Knowledge and Knowing” dalam Afkar, no.3 (2002): 81-94, dan “Intuitive Knowledge in Ibn Sina: Its Distinctive Features and Prerequisites” dalam al-Shajarah vol.7, no.2 (2002). Ia juga aktif menulis di media masa nasional seperti Republika dan Hidayatullah.

Source : insists.multiply.com

Diskusi Sabtuan INSISTS: Benih Liberalisme Dalam Pemikiran Muhammad Abduh

Benih Liberalisme Dalam Pemikiran Muhammad Abduh


Pembicara: Drs. Tabrani Sabirin MA

- Wakil Ketua Majelis Tabligh, PP Muhammadiyah
- Direktur Tabloid "Suara Islam"
- Anggota MUI, Komisi Hub. Luar Negeri
 


Tempat: Kantor INSISTS Jl. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta Selatan
Tlp. 021-7940381
Waktu: Hari Sabtu
tanggal 23 Juni 2007
Pukul 10:00 s/d 12:00 WIB


Ketentuan Umum:

Makalah hanya tersedia bagi 40 orang peserta

Peserta wajib registrasi terlebih dahulu by phone or SMS Centre 08111102549

Infaq untuk makalah

Membedah Syiah (Farid Achmad Okbah, MA)

Oleh : Farid Achmad Okbah, MA
Staf Ahli Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam
 

Secara bahasa, Syiah berarti pengikut, kelompok atau golongan. Secara terminologi berarti satu aliran dalam Islam yang meyakini Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. (Ensiklopedi Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, Th 1997, Cet 4, Juz 5). Para penulis sejarah tak ada yang sepakat mengenai awal lahirnya sekte Syiah. Hanya bisa disimpulkan ada tiga pendapat yang menonjol menurut ulama Syiah.

Pertama, Syiah lahir sebelum datangnya risalah Muhammad saw. Al-Kulaini dari Abil Hasan meriwayatkan, "Wilayah Ali tertulis di seluruh suhuf para Nabi. Allah tidak mengutus Rasul kecuali dengan (misi) kenabian Muhammad saw dan wasiat Ali as," (Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini, al-Ushul Minal Kafi, Juz I).

Kedua, Syiah lahir pada masa Nabi masih hidup. Pendapat ini dilansir oleh al-Qumi, al-Nubakhti dan ar-Raji. (Dr Nashir al-Qufari, Ushul Madzhab Syiah Imamiyah, tanpa cetakan, th. 1415 H/1994 M, Cet. 2). Pendapat ini sulit dibuktikan, karena pada masa Abu Bakar dan Umar saja tak dikenal adanya pengikut Syiah.

Ketiga, pendapat yang umumnya diketengahkan banyak para penulis bahwa Syiah lahir setelah terjadi fitnah pembunuhan Utsman. Pendapat yang paling menonjol bahwa Syiah baru muncul ke permukaan setelah kemelut antara pasukan Ali dan Muawiyah. (Ensiklopedi Indonesia, Juz 6 Lihat: Abdullah bin Saba’, Dr Sulaiman al-Audah).

Syiah menurut penelitian Dr Abdul Aziz Wali dalam disertasinya, pada abad pertama masih sebatas pengutamaan Ali atas Utsman. Tak sampai mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Oi antara tokoh Syiah yang menyatakan itu adalah Imam Sya’bi dan Ja’far ash-Shadiq. Hanya kemudian tren Syiah berkembang menjadi madzhab tersendiri yang umumnya tak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyyah. Selanjutnya Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam mereka. (Mengapa Kita Menolak Syiah, LPPI, Th. 1418 H/1998 M, Cet. I).
 
Inti ajaran Syiah sebenarnya terletak pada masalah imam yang mereka pusatkan pada tokoh-tokoh Ahlul Bait. Karena itu mereka menentukan 12 Imam. Pihak Syiah meyakini imam-imam ini ma’shum (terjaga dari salah dan dosa) dan yang paling berhak melaksanakan imamah. Hanya dalam perkembangan Syiah terjadi perbedaan ketika menentukan siapa imam setelah Ali Zainal Abidin, apakah Zaid bin Ali atau Muhammad al-Baqir. Karena itu, Syiah terbagi dua: Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah. Demikian pula ketika menentukan Imam ketujuh, karena Ja’far ash-Shadiq mempunyai beberapa orang anak pria. Di sini Syiah Imamiyah menentukan Musa al-Kadzim, sedangkan Syiah Ismailiyah mengikuti Ismail bin Ja’far.

Di luar tiga golongan Syiah tersebut, terdapat Syiah Ekstrem yang menyatakan, Ali bin Abi Thalib sebagai tuhan dan tak mati terbunuh. Ini paham sesat dari Syiah Saba’iyah. Paham ini juga menyatakan al-Qur’an seharusnya turun pada Ali bin Abi Thalib. Karena kekeliruan malaikat Jibril, diberikan kepada Muhammad saw atau paham sesat dari Syiah Gusabiyah. (Ensiklopedi Juz 6 hal: 3406).

Ada empat rujukan utama Syiah untuk membangun madzhabnya. Pertama, Al-Kafi, karangan Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al Kulaini, ulama Syiah terbesar di zamannya. Dalam kitab itu terdapat 16199 hadits. Buku ini oleh kalangan Syiah paling terpercaya dari keempat rujukan itu.

Kedua, Man Laa Yahdhuruhul Faqih karangan Muhammad bin Babawaih al-Qumi. Di dalamnya ada 3913 hadits musnad dan 1050 hadits mursal. Ketiga, At- Tahdzib karangan Muhammad at-Tusi yang dijuluki Lautan Ilmu. Keempat, Al-Istibshar pengarang yang sama, mencakup 5001 hadits. (Muhammad Ridha Mudzaffar, al- ‘Aqaidul Imamiyyah, Muhammad Shadiq ash-Shadr, asy-Syiah al-Imamiyah, Kairo, Mathba’atun Najah, th. 1402 H/1982 M, Cet II, hal 130-134).

Secara umum, penyimpangan Syiah ada beberapa hal penting, yaitu:
 
I. Syiah hanya memiliki 5 rukun Iman, tanpa menyebut keimanan kepada para malaikat, Rasul, Qadha dan Qadar. Yaitu, 1. Tauhid (keesaan Allah) 2. al-’Adl (Keadilan Allah). 3. Nubuwwah (Kenabian) 4. Imamah (Kepemimpinan Imam) 5. Ma’ad atau Hari kebangkitan dan pembalasan. (Muhammad Ridha Mudzaffar, al-’Aqaidul Imamiyyah).

II. Syiah tak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu: 1. Shalat 2. Zakat 3. Puasa 4. Haji 5. Wilayah atau Perwalian. (al-Kafi, Juz II, hal 18).

III. Syiah meyakini bahwa al-Qur’an sekarangg ini telah diubah, ditambah atau dikurangi dari yang seharusnya.

IV. Syiah meyakini bahwa para sahabat sepeninggal Nabi murtad kecuali beberapa orang saja seperti al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary dan Salman al-Farisi. (ar Raudhah minal Kafi, Juz VIII, hal 245; dan al Ushul minal Kafi, Juz II, hal 244).

V. Syiah menggunakan senjata taqiyah yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan sebenarnya, untuk mengelabui. (al-Ushul minal Kafi, Juz II, hal 2l7).

VI. Syiah percaya pada ar-Raj’ah yaitu kembalinya ruh-ruh ke jasadnya masing-masing di dunia sebelum Kiamat di kala Imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam pada lawan-lawannya.

VII. Syiah percaya kepada al-Bada’yakni tampak bagi Allah dalam hal keimaman Ismail (yang telah dinobatkan ke-Imamannya oleh ayahnya Ja’far ash-Shadiq, tetapi kemudian meninggal di saat ayahnya masih hidup) yang tadinya tak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf, tetapi imam mereka tetap ma’shum.

VIII. Syiah membolehkan Nikah Mut’ah (Nikah Kontrak) dengan jangka waktu tertentu. (Tafsir Minhajus Shadiqin, Juz II, hal: 493). Padahal, nikah mut’ah telah diharamkan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri.

Menurut Ensiklopedi Islam, "Paham Syiah dianut oleh sekitar dua puluh persen dari umat Islam dewasa ini. Penganut paham Syiah tersebut di negara-negara Iran, Irak, Afghanistan, Pakistan, India, Libanon, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, bekas negara Uni Soviet, serta beberapa negara Amerika dan Eropa (Juz If, hal 5), dan termasuk Indonesia.

Sabili, No.5 Th. XIII 22 September 2005/18 Sya’ban 1426

Kejahatan Snouck Hurgronje terhadap Islam dan Aceh

Assalamu’alaikum,

Berikut ada tulisan yang mungkin menarik yang saya sadur dari bukunya Ust. Daud Rasyid. Saya hanya menambahkan foto-foto yang berkaitan yang saya scan dari bukunya Van Koningsveld. Mudah-mudahan berguna.

Kejahatan Snouck Hurgronje terhadap Islam dan Aceh

Snouck Hurgronje , ia lahir di Osterhoot, Belanda pada 8 Pebruari 1857 dan meninggal di Leiden pada 26 Juni 1936. Menyelesaikan pendidikan tinggi dalam bidang bahasa-bahasa Semith pada tahun 1880 dengan desertasi yang berjudul ‘Perayaan Makkah’. Ia berasal dari keluarga Pendeta Protestan Tradisonal, mirip Orthodox, namun lingkungan belajarnya sampai tingkat tertentu adalah liberal. Snouck berpendapat bahwa al-Qur’an bukanlah wahyu dari Allah, melainkan adalah karya Muhammad yang mengandung ajaran agama.

Seorang peneliti Belanda kontemporer Koningsveld, menjelaskan bahwa realitas budaya di negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck selanjutnya. Pada saat itu, para ahli perbandingan agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori "Evolusi" Darwin. Hal ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia. Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap hukuman atas dosa-dosa mereka.

Ringkasnya, agama dan peradaban Eropa adalah lebih tinggi dan lebih baik dibanding agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck selanjutnya.

Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah berkata: "Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan -maksudnya warga muslim Indonesia- agar terbebas dari Islam". Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap Islam tidak pernah berubah.

Snouck pernah mengajar di Institut Leiden dan Delf, yaitu lembaga yang memberikan pelatihan bagi warga Belanda sebelum ditugaskan di Indonesia. Saat itu, Snouck belum pernah datang ke Indonesia, namun ia mulai aktif dalam masalah-masalah penjajahan Belanda. Pada saat yang sama perang Aceh mulai bergolak.

Saat tinggal di Jedah, ia berkenalan dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para haji jemaah Dari Indonesia untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.

Pada saat itu pula, ia menyatakan ke-Islam-annya dan mengucapkan Syahadat di depan khalayak dengan memakai nama "Abdul Ghaffar." Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya menyebutkan "Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak, dan ulama- ulama Mekah telah mengakui keIslaman Anda". "Seluruh aktivitas Snouck selama di Saudi tercatat dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden, Belanda.

Snouck menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang ‘Ulama besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885. Selama di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama. Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu.

Snouck kemudian menawarkan diri pada pemerintah penjajah Belanda untuk ditugaskan di Aceh. Saat itu perang Aceh dan Belanda mulai berkecamuk. Snouck masih terus melakukan surat menyurat dengan ‘Ulama asal Aceh di Mekah.

Snouck tiba di Jakarta pada tahun 1889. Jendral Benaker Hourdec menyiapkan asisten-asisten untuk menjadi pembantunya. Seorang di antaranya adalah warga keturunan Arab, yaitu Sayyid Utsman Yahya Ibn Aqil al Alawi (klik untuk lihat foto). Ia adalah penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Islam dan kaum Muslim.

Selain itu, ia juga dibantu sahabat lamanya ketika di Makkah, Haji Hasan Musthafa (klik untuk lihat foto) yang diberi posisi sebagai penasehat untuk wilayah Jawa Barat. Snouck sendiri memegang jabatan sebagai penasehat resmi pemerintah penjajah Belanda dalam bidang bahasa Timur dan Fiqh Islam. Jabatan ini masih dipegangnya hingga setelah kembali ke Belanda pada tahun 1906.

Pembersihan Aceh

Misi utama Snouck adalah "membersihkan" Aceh. Setelah melakukan studi mendalam tentang semua yang terkait dengan masyarakat ini, Snouck menulis laporan panjang yang berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian jadi acuan dan dasar kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapai masalah Aceh.

Pada bagian pertama, Snouck menjelaskan tentang kultur masyarakat Aceh, peran Islam, ‘Ulama, dan peran tokoh pimpinannya. Ia menegaskan pada bagian ini, bahwa yang berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para ‘Ulama. Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena mereka hanya memikirkan bisnisnya.

Snouck menegaskan bahwa Islam harus dianggap sebagai faktor negatif, karena dialah yang menimbulkan semangat fanatisme agama di kalangan muslimin. Pada saat yang sarna, Islam membangkitkan rasa kebencian dan permusuhan rakyat Aceh terhadap Belanda. Jika dimungkinkan "pembersihan" ‘Ulama dari tengah masyarakat, maka Islam takkan lagi punya kekuatan di Aceh. Setelah itu, para tokoh-tokoh adat bisa menguasai dengan mudah.

Bagian kedua laporan ini adalah usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan dilakukannya operasi militer di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan rakyat yang menjadi sumber kekuatan ‘Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang untuk membangun kerjasama dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa Snouck didukung oleh jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi.

Cara yang ditempuh sama dengan yang dilakukannya di Saudi dulu, yaitu membangun hubungan dan melakukan kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah seorang saudara semuslim. Dalam suatu korespondensinya dengan ‘Ulama Jawa, Snouck menerima surat yang bertuliskan "Wahai Fadhilah Syekh AIlamah Maulana Abdul Ghaffar, sang mufti negeri Jawa. "

Lebih aneh lagi, Snouck menikah dengan putri seorang kepala daerah Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1890. dari pernikahan ini ia peroleh empat anak: Salamah, ‘Umar, Aminah dan Ibrahim (klik untuk lihat foto). Akhir abad 19 ia menikah lagi dengan Siti Sadijah (klik untuk lihat foto), putri khalifah Apo, seorang ‘Ulama besar di Bandung. Anak dari pernikahan ini bernama Raden Yusuf.

Snouck juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor Noldekhe, seorang orientalis Jerman terkenal. Dalam suratnya, Snouck menegaskan bahwa keIslaman dan semua tindakannya adalah permainan untuk menipu orang Indonesia demi mendapatkan informasi.

Ia menulis "Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah satu-satulnya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik. "

Temuan lain Koningsveld dalam surat Snouck mengungkap bahwa ia meragukan adanya Tuhan. Ini terungkap dari surat yang ia tulis pada pendeta Protestan terkenal Herman Parfink yang berisi, ‘Anda termasuk orang yang percaya pada Tuhan. Saya sendiri ragu pada segala sesuatu. "

Komentar Dr. Van Koningsveld

Dr. Veld berkomentar tentang aktivitas Snouck: "Ia berlindung di balik nama "penelitian Ilmiah" dalam melakukan aktifitas spionase, demi kepentingan penjajah". Veld yang merupakan peneliti Belanda yang secara khusus mengkaji biografi Snouck menegaskan, bahwa dalam studinya terhadap masyarakat Aceh, Snouck menulis laporan ganda. Ia menuliskan dua buku tentang Aceh dengan satu judul, namun dengan isi yang bertolak belakang. Dari laporan ini, Snouck hidup di tengah masyarakat Aceh selama tiga puluh tiga bulan dan ia pura-pura masuk Islam.

Dalam rentang waktu itu, ia menyaksikan budaya dan watak masyarakat Aceh sekaligus memantau perisriwa yang terjadi. Semua aktivitasnya tak lebih dari pekerjaan spionase dengan mengamati dan mencatat. Sebagai hasilnya ia menulis dua buku. Pertama berjudul "Aceh," memuat laporan ilmiah tentang karakteristik masyarakat Aceh dan buku ini diterbitkan. Tapi pada saat yang sama, ia juga menulis laporan untuk pemerintah Belanda berjudul "Kejahatan Aceh." Buku ini memuat alasan-alasan memerangi rakyat Aceh.

Dua buku ini bertolak belakang dari sisi materi dan prinsipnya. Buku ini menggambarkan sikap Snouck yang sebenarnya. Di dalamnya Snouck mencela dan merendahkan masyarakat dan agama rakyat Aceh. Laporan ini bisa disebut hanya berisi cacian dan celaan sebagai provokasi penjajah untuk memerangi rakyat Aceh.

Disadur dari :

- Tulisan : Dr. Daud Rasyid, MA, Fenomena Sunnah di Indonesia, Potret Pergulatan Melawan Konspirasi Hal. 196-199 (Usamah Press, Jakarta Cet I Agustus 2003)

- Foto-foto : P.SJ. Van Koningsveld, Snouck Hurgronje en Islam; Acht artkelen over leven en werk van een orientalist uit het koloniale tijdperk (Terj. Snouck Hurgronje dan Islam, PT. Girimukti Pasaka Cet. I : 1989)

Sebuah ikhtiar (The Sequel)

Assalamu’alaikum,

Masih ingat dengan tulisan yang saya buat beberapa waktu yang lalu dengan judul "Sebuah ikhtiar" ?. Nah tulisan saya kali ini mungkin bisa menjadi bagian keduanya atau sequelnya yang masih bercerita seputar wirausaha kecil-kecilan. Alhamdulillah Allah memberikan amanah kepada saya dan istri untuk kembali membuka tempat berikhtiar. Dan saya pun patut menyukuri lebih karena Allah telah menganugerahkan seorang istri yang bisa memasak. Sehingga jadilah tempat ikhtiar kami kali ini adalah sebuah tempat makan.

Kedai Sotosop 99, begitu kami memberi nama tempat usaha kecil-kecilan kami ini yang bertempat di kantin gedung perkantoran Graha Surya Internusa (GSI), Kuningan sebelah hotel Grand Melia. Angka 99 diambil dari tanggal pernikahan kita yaitu tanggal 9 bulan 9 (September). Sesuai namanya, apa yang disediakan disini adalah jenis makanan-makanan yang berkuah. Rencananya sih menu yang berkuahnya akan menjadi bervariasi, tapi untuk sementara ini Nina, istri saya baru menyediakan Soto Betawi, Sop Iga Sapi, Sop Buntut dan Soto Ayam (menyusul). Insya Allah Nina akan meng-eksplor lebih jauh tentang menu-menu berkuah ini, dan yang saya tunggu-tunggu salah satunya adalah Soto Padang dan Soto Jakarta :).

Rencana membuka Kedai Sotosop 99 di kantin perkantoran GSI sangat mendadak. Saat itu saya, Nina dan ibu sedang menghadiri pengajian kantoran yang diadakan di gedung GSI di lantai 7, tepatnya di musholla kantor bank Danamon Syariah. Kebetulan yang mengisi ceramah saat itu adalah ibu Lisa Mulia teman ibu sewaktu kenal di INSISTS. Ya, ibu saya dan bu Lisa menjadi dekat setelah sering menghadiri kajian di INSISTS. Nah selesai pengajian di musholla itu kami turun ke kantin untuk makan siang bersama disana. Setelah makan siang, saya mencari-cari Nina. Kok dia ngilang tiba-tiba ya ?. Setelah saya melihat ke sekeliling kantin, saya melihat Nina sedang asik ngobrol dengan seorang wanita berseragam yang belakangan saya ketahui adalah daily manager di kantin itu.

Singkat cerita, jadilah saat itu terbersit dalam benak Nina dan saya untuk membuka usaha baru dan mulai berkelana dari warung soto satu ke warung soto lainnya. Istilahnya sejak saat itu kita jadi rajin wisata kuliner untuk mencari rasa yang pas :D. Ngga jarang juga lho ketika kita berkunjung ke satu warung soto yang enak dan Nina langsung menanyakan resep-resepnya tanpa basa-basi hehe. Contohnya ketika kita mampir di warung soto Jakarta bang Madun di daerah Barito Jakarta Selatan. Selesai makan, Nina asyik bercengkerama dengan penjualnya, bang Iwan. Sampai-sampai saya yang kenal dengan penjualnya jadi ngga enak sendiri hehe.

Setelah sekitar seminggu kita wisata kuliner, Nina mulai mencoba buat makanan-makanan tersebut dan keluarga dirumah menjadi jurinya. Kalau untuk urusan yang ini saya paling sering dimintai pendapat oleh Nina. Setiap kali Nina tanya enak atau ngga, tentu saja saya selalu jawab enak, namanya juga cinta istri . Maka dari itu saya selalu bilang ke Nina jangan tanya ke saya deh supaya jawabannya bisa lebih objektif hehe. Akhirnya setiap ada yang datang ke rumah pas Nina lagi masak pasti selalu diberondong pertanyaan-pertanyaan "Enak ngga ?", "Kurang apa ?" dan pertanyaan semacam itu.

Setelah proses uji coba di dapur femina eh maksud saya dapur Nina selesai, maka tugas selanjutnya adalah mulai mengumpulkan peralatan memasak mulai dari piring, mangkok, sendok garpu, panci dan sebagainya. Tak lupa bumbu-bumbu masak pun mulai kita buru. Untuk urusan ke pasar setiap hari pun ngga jadi masalah buat kita karena memang sebelumnya sudah terbiasa. Hanya saja kali ini setiap kali belanja di pasar, barang bawaannya menjadi dua kali lipat bahkan bisa tiga kali lipat tergantung mau bikin stok untuk berapa hari.

Proses keseluruhan dari ide awal, pengumpulan barang keperluan, belanja di pasar sambil mengangkut barang bawaan yang berat adalah proses yang cukup melelahkan. Apalagi ketika di awal buka kita berdua masih newbie alias pemula dalam hal ini, jadi maklum saja ketika itu banyak mendapat complaint dari pembeli karena pesanan mereka lama datengnya. Display dagangan kita pun di hari pertama bener-bener seadanya tanpa hiasan sedikit pun .

Tapi alhamdulillah sekarang Kedai Sotosop 99 sudah berjalan seminggu di kantin itu. Sehingga makin banyak pelajaran yang kita dapat. Dayat, pegawai kita yang dulu di kebab dan sekarang ganti posisi menjadi pegawai Kedai Sotosop 99 pun sudah cukup terlatih untuk menghadapi situasi yang ramai dan sudah bisa ditinggal disana. Untuk pegawai counter kebab pun sudah ada penggantinya walau masih harus terus dipantau.

Akhir kata (walaupun bukan akhir cerita), saya dan Nina mengundang temen-temen di MP ini yang kantornya kebetulan deket sama gedung GSI samping hotel Grand Melia untuk sudilah kiranya mampir ke kedai kecil kita untuk mencicipi masakan buatan Nina dan memberi masukan apabila ada yang kurang. Mohon doanya ya ! :D

Wassalamu’alaikum

Resensi Buku : Snouck Hurgronje dan Islam

Judul : Snouck Hurgronje dan Islam
Judul asli : Snouck Hurgronje en Islam; Acht artkelen over leven en werk van een orientalist uit het koloniale tijdperk
Penulis : P.SJ. Van Koningsveld
Penerbit : PT. Girimukti Pasaka
Cet. I : 1989

Prof. Dr. Snouck Hurgronje (1857-1936) selama ini merupakan tokoh yang sangat kontroversial. Disanjung dipuja sebagai sarjana Islam yang cemerlang, tetapi juga dicaci maki sebagai seorang ahli muslihat yang hendak menghancurkan Islam dari dalam dengan pura-pura masuk Islam. Betapapun diakui oleh semua pihak bahwa pemerintah Belanda baru mempunyai garis kebijaksanaan tentang Islam didaerah jajahannya yang bernama Hindia Belanda (Indonesia) setelah Snouck Hurgronje menjadi penasehat pemerintah dalam hal-hal yang berkaitan dengan Islam.

Christian Snouck Hurgronje, pada tahun 1884 mengadakan petualangan ke jazirah Arab, dan menetap di Jeddah sejak Agustus 1884 hingga Februari 1885, sebagai persiapan menuju Mekah, yang merupakan tujuan utama dari petualangannya. Snouck sampai di Mekah pada tanggal 22 Februari 1885 dengan menggunakan nama samaran Abdul Ghafar, karena memang Mekah tertutup untuk yang selain muslim. Dia menetap di Mekah selama enam bulan dan menghasilkan karya berjudul Makah. Namun akhirnya pada bulan Agustus, Snouck dipaksa keluar dari Mekah oleh konsul Prancis.

Selama ini di negeri Belanda, Snouck Hurgronje selalu dibicarakan dengan khidmat. Para sarjana Ketimuran seakan-akan menghindar dengan sengaja dari membahas segi-segi Snouck Hurgronje yang menimbulkan tanda tanya. Dia seakan-akan telah menjadi mitos yang tak boleh diganggu gugat. Tetapi seorang sarjana ahli bahasa Arab dan ke-Islaman dari almamater Snouck Hurgronje sendiri, Universitas Kerajaan Leiden, yaitu Dr. P.S.J Van Koningsveld dengan berani dan jujur mencoba mengorek segi-segi Snouck Hurgronje yang digelapkan, sehingga ia mendapat reaksi yang sangat hebat dari para pengagum Snouck.

Dalam buku Snouck Hurgronje dan Islam yang sengaja disusun oleh penulisnya untuk diterbitkan dalam terjemahan Indonesia oleh penerbit Girimukti Pasaka, Prof. Dr. Van Koningsveld mengumpulkan tulisan-tulisannya yang bertalian dengan tokoh kontroversial itu, sehingga para pembaca akan mendapat gambaran yang lebih menyeluruh. Kumpulan tulisan Van Koningsveld ini banyak mendapat pertentantangan dikalangan akademisi yang masih menjadi almamaternya di Leiden.

J.J Witkam, F. Schroder, Dr. L.I. Graf adalah orang-orang yang senantiasa menentang tulisan-tulisannya. Padahal mereka semua satu almamater dengan Van Koningsveld. Van Koningsveld adalah pembantu utama dalam pengkajian sejarah Islam di Fakultas Teologi Universitas Leiden. Banyak intrik-intrik yang terjadi selama pengungkapan kebenaran Van Koningsveld tentang fakta dan data sejarah Snouck Hurgronje.

Apakah Snouck Hurgronje itu seorang sarjana yang piawai, ataukah hanya seorang pegawai pemerintah kolonial yang hendak melestarikan penjajahan orang Kristen terhadap kaum Muslimin Indonesia? Apakah ia seorang "mufti Betawi" yang tulus, ataukah seorang palsu yang berdarah dingin yang mempergunakan ilmu pengetahuan sebagai alat penjajahan ?

Diskusi INSISTS: Freemason dan Gagasan Pluralisme Agama

Freemason dan Gagasan Pluralisme Agama 

Faham bahwa pada intinya semua agama sama tidak terlepas dari kuatnya pengaruh gerakan Freemason. Pada tanggal 17 November 1875, beberapa pengikut Freemason membentuk The Theosophical Society di New York. Seiring dengan perjalanan waktu, The Theosophical Society berkembang pesat di berbagai negara. Pada akhir abad 19, The Theosophical Society memiliki 500 cabang dalam 40 negara di Asia dan Barat.

The Theosophical Society di Perancis didirikan pada tahun 1887 oleh Gérard Encausse (1865-1916), juga seorang Mason. Encausse yang dikenal sebagai Papus adalah guru pertama Rene Guénon (1886-1951).  Pemikiran Guénon mengenai gagasan spritualisme dan Tradisi agama-agama tidak terlepas dari pengaruh pemikiran Papus. Gagasan Guénon dikembangkan lebih jauh lagi oleh Frithjof Schuon (1907-1998).

Dalam pandangan Schuon, sekalipun dogma, hukum, moral, ritual agama adalah berbeda, namun nun jauh di kedalaman masing-masing agama, ada ‘a common ground’. Menurut Schuon, agama-agama bertemu pada level transendent. Gagasan bahwa semua agama pada intinya adalah sama, merupakan inti pemikiran Schuon.

Tidak sedikit dari pemikir Muslim yang mengadopsi gagasan Schuon. Dalam diskusi Sabtuan INSISTS pada tanggal 7 April 2007 di Kalibata Utara II, No. 84, Adnin Armas akan membahas gagasan Pluralisme Agama dan kaitannya dengan Freemason. Diskusi ini akan sangat menarik untuk diikuti karena memang tidak banyak pemikir Muslim yang mengungkap gerakan Freemason dan gagasan Pluralisme Agama.

Pembicara         : Adnin Armas, MA

Tanggal/Jam      : Sabtu, 7 April 2007 10:00 s/d 12:00 WIB

Tempat             : INSISTS – Jl. Kalibata Utara II/84 Tlp. 021-7940381

Konfirmasi         : Nandi 08176895797

Untuk masksimal 40 Peserta. 
________________________________

Adnin Armas, M.A menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo tahun 1992 dan melanjutkan ke Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), dalam bidang Filsafat. Memperoleh Sarjana dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) bidang Pemikiran Islam (Islamic Thought) dengan tesis berjudul Fakhruddin arRazi on Time pada tahun 2003.

Saat ini beliau adalah kandidat doktor di ISTAC UIAM aktif sebagai peneliti INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization). Karya beliau antara lain adalah: Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an; Pengaruh Orientalis terhadap Islam Liberal. Di samping itu beliau sangat aktif menulis artikel-artikel ilmiah di beberapa majalah dan surat kabar di Indonesia.

Currently a Ph.D candidate at ISTAC-IIUM, Adnin obtained B.A. from International Islamic University Malaysia in 1997 and M.A in Islamic Thought from ISTAC in 2003. He is a prolific writer on Liberal Islam and Secularisation and some of his published articles are:

- Menjernihkan Ide Kesatuan Agama (Republika, February 2003)

- Menelusuri Originalitas Gagasan Sekularisasi Nurcholish Madjid (Jurnal Dirosah Islamiyah, Vol. 1, No. 2 (2003).

- Simbol Kegagalan Kristen Melawan Barat (Majalah Hidayatullah, December, 2003)

- Sekularisasi Menghempaskan Agama (Majalah Hidayatullah, February 2004)

- Pembela dan Penghadang Sekularisasi (Majalah Hidayatullah, March 2004)

- Tafsir al-Qur’an atau Hermeneutika al-Qur’an (Majalah Islamia, March 2004)

- Orientalisme dan Teori Pengaruh Terhadap Islam (Republika 6 May, 2004)

- Pengaruh Metodologi Bibel Terhadap Studi Al-Qur’an (Republika, 29 November 2004).

- Orientalis dan Studi Al-Qur’an: Tanggapan Atas Tanggapan (Republika, April 2005).

Books Published

- Christian and Orientalist Influences on Liberal Islam. An interactive dialogue with activists of the Liberal Islam Network, Jakarta: Gema Insani Press (GIP) 2003.

- Biblical Methodology in Qur’anic Studies: A Critical Analysis, Jakarta; Gema Insani Press (GIP) 2005.

« Previous PageNext Page »