Resensi Buku : Muqaddimah by Ibnu Khaldun
Judul : Muqaddimah
Penulis : Abd-ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun (Ibnu Khaldun)
Penerbit: Pustaka Firdaus (021-7972536)
Penerjemah : Ahmadie Thoha
Halaman : 852
Refleksi 600 Tahun Wafatnya Ibnu Khaldun
Pangkal Kejatuhan dan Kejayaan Bangsa
Meski namanya telah diabadikan untuk sebuah universitas di Bogor, masih ada di antara kita mungkin belum mengenal sosok serta pemikiran sejarawan agung dan pemikir ulung yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai bapak sosiologi. Dialah Abd-ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun yang hidup antara tahun 1332 hingga 1406 Masehi.
Di bulan November ini setidaknya tiga konferensi antarbangsa telah dan bakal digelar dalam rangka memperingati 600 tahun wafatnya ilmuwan besar ini. Yang pertama pada 3-5 November lalu di Madrid, Spanyol atas kerja sama Islamic Research and Training Institute IDB dengan Universidad Nacional de Educacion a Distance (UNED) dan Pusat Kebudayaan Islam setempat. Yang kedua baru saja terselenggara Sabtu 11 November 2006, di kampus Johann Wolfgang Goethe-Universitaet Frankfurt, Jerman, di mana penulis berkesempatan hadir. Sedang yang terakhir bakal diadakan pada 20-22 November mendatang di ISTAC Kuala Lumpur, Malaysia dengan tema: Ibn Khaldun’s Legacy and Its Contemporary Significance.
Ibnu Khaldun hidup saat imperium Islam bagian barat (termasuk Afrika Utara) di ambang kehancuran. Andalusia terpecah-belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kaum Murabitun (Almoravid) dan Muwahhidun (Almohad) saling rebut wilayah dan pengaruh. Sementara kaum Kristen Spanyol waktu itu tengah mengkonsolidasi kekuatan mereka dan menyusun strategi untuk melancarkan serangan besar-besaran demi merebut kembali semua daerah yang diduduki kaum Muslim —peristiwa kelam yang dinamakan reconquista.
Bermula dengan Toledo (1085), lalu Cordoba (1236) dan Seville (1248), dan terakhir Granada (1492), satu per satu wilayah Islam jatuh ke tangan orang-orang Kristen. Kondisi sosial-politik yang tak menentu itu tentu saja banyak memengaruhi perjalanan karier maupun pemikiran Ibnu Khaldun.
Barangkali karena kesibukannya sebagai pejabat negara dan keterlibatannya dalam politik, Ibnu Khaldun tidak banyak menghasilkan karya tulis. Hanya tercatat beberapa buku kecil seputar logika dan filsafat (Lubab Al Muhashshal), tentang tasawuf (Syifa’ As Sa’il li Tahdzib Al Masa’il), dan sebuah otobiografi (At Ta’rif). Namun, ia meninggalkan sebuah karya raksasa berjudul: Tarjuman Al ‘Ibar wa Diwan Al Mubtada’ wal Khabar fi Ayyam Al’Arab wal Barbar wa man ‘asharahum min dzawis-Sulthan AlAkbar.
Bagian pendahuluan dari kitab inilah yang melejitkan namanya ke seantero jagad. Tak aneh, sebab Muqaddimah-nya itu tak ubahnya bagaikan kapsul yang memuat ekstrak prinsip-prinsip yang bekerja di balik aneka manifestasi ilmu pengetahuan, pencapaian, dan pengalaman masyarakat manusia dari masa ke masa.
Pandangan yang relevan
Karya yang ditulis Ibnu Khaldun dalam penjara itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris. Berikut ini beberapa pandangan Ibnu Khaldun yang masih sangat relevan kini untuk menjadi bahan renungan kita yang sedang berusaha bangkit meraih kejayaan.
Masyarakat dan negara yang kuat adalah masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara. Pertama, solidaritas kebangsaan yang kokoh, di mana sikap dan perilaku mendzalimi, membenci dan menjatuhkan satu sama lain bertukar menjadi saling memberi, saling menghargai, dan saling melindungi. Ibnu Khaldun menyebutnya ashabiyyah atau group feeling –meminjam terjemahan Rosenthal. Kedua, kuantitas dan kualitas sumberdaya manusianya. Ketiga, kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras. Kesuksesan tidak dicapai sekonyong-konyong, ujar Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, iii/49.
Ibnu Khaldun menganalogikan proses kelahiran dan kehancuran suatu negara dengan kehidupan manusia. Ada tahap-tahap yang mesti dilalui, masing-masing dengan pasang-surut dan pahit-manisnya. Menurut Ibnu Khaldun yang memandang proses sejarah dalam kerangka siklus (ketimbang proses linear ataupun dialektikal), runtuhnya suatu imperium biasanya diawali dengan kedzaliman pemerintah yang tidak lagi memedulikan hak dan kesejahteraan rakyatnya (iii/43) serta sikap sewenang-wenang terhadap rakyat (iii/22). Akibatnya timbul rasa ketidakpuasan, kebencian dan ketidakpedulian rakyat terhadap hukum dan aturan yang ada.
Situasi ini akan semakin parah bila kemudian terjadi perpecahan di kalangan elite penguasa yang kerap berbuntut disintegrasi dan munculnya petty leaders (iii/45). Yang paling menarik adalah observasi Ibnu Khaldun pada pasal 11: bahwa ketika negara sudah mencapai puncak kejayaan, kemakmuran dan kedamaian, maka pemerintah maupun rakyatnya cenderung menjadi tamak dan melampaui batas dalam menikmati apa yang mereka miliki dan kuasai. Itulah petanda kejatuhan mereka sudah dekat.
Namun, kejatuhan suatu bangsa hampir selalu didahului atau diikuti oleh kenaikan bangsa lain yang mewarisi dan meneruskan tradisi maupun peradaban sebelumnya. Sebagai pengganti yang belum semaju dan secanggih pendahulunya, bangsa yang baru muncul ini cenderung meniru bangsa yang pernah menjajahnya hampir dalam segala hal, dari cara berpikir dan bertutur hingga ke tingkah laku dan soal busana. Proses ini bisa berlangsung tiga sampai empat generasi.
Bangsa yang dikalahkan cenderung meniru bangsa yang menaklukannya karena mengira hanya dengan begitu mereka dapat menang kelak. Jika kejayaan suatu bangsa hanya bertahan empat atau lima generasi, hal itu dikarenakan generasi pertama adalah ‘pelopor’, generasi kedua ‘pengikut’, generasi ketiga ‘penerus tradisi’ (tradition keepers), sedangkan generasi keempat berpaling dari tradisi (tradition losers).
Berbeda dengan para penulis sejarah sebelumnya, Ibnu Khaldun dalam analisisnya berusaha objektif. Pendekatan yang dipakainya tidak normatif, akan tetapi empiris-positivistik. Uraiannya berpijak pada das Sein dan bukan das Sollen, pada apa yang sesungguhnya terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi.
Dr. Syamsuddin Arif Ph.D
Orientalisches Seminar Frankfurt, Jerman
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=271691&kat_id=16
Comments(0)
Pembicara : Henri Shalahuddin, MA
Salah satu cara musuh-musuh Islam untuk menghancurkan kaum Muslim adalah menyusupkan "ulama-ulama" maupun "intelektual muslim" yang berbaju Islam tetapi pemikirannya kufur. Ulama-ulama dan kaum intelektual modernis ini memperoleh gemblengan langsung dari para orientalis, yang sejatinya membenci Islam. Anak-anak asuh peradaban Barat ini dibesarkan di alam lingkungan sekular-kapitalis, dan disusui dengan pemikiran-pemikiran kufur yang menyesatkan.

. Bagi beberapa orang yang saya ceritakan tentang itu, banyak yang langsung bilang "wah ngidamnya repot juga ya?". Tapi setelah saya pikir-pikir kayanya itu bukan ngidam deh. Soalnya seringkali Nina makan itu sedikit tapi frekuensinya sering dan dia selalu melewatkan makan malam dengan nasi karena biasanya setelah maghrib kondisi badan Nina mulai menurun dan langsung tidur dan bangun lagi tengah malam. Jadi menurut saya ini hal yang wajar. Buktinya ketika saya bilang,
.
…
Oh ya, memasuki kehamilan 3 bulan, Nina jadi sering banget masak. Padahal dulu di awal nikah, saya ngga pernah tahu kalau dia bisa masak. Paling banter yang saya tahu saat itu dia bisa masak nasi goreng, mie goreng, air, dadar. That’s it. Nah ketika masuk 3 bulan, mulai deh jurus-jurus rahasianya Nina supaya makin dicintain suami dikeluarin. Mulai dari Chicken cordon bleu, Calamari (cumi goreng tepung), sampai nasi tutug oncom bisa dia buat. Subhanallah….saya sampai bingung sejak kapan Nina belajar masak ya ? 
Nah sejak itulah kita berdua punya kebiasaan baru yaitu setelah sholat shubuh kita pergi ke pasar untuk mencari bahan-bahan yang mau dimasak. Ibu saya juga sekarang mempercayakan sepenuhnya urusan dapur ke Nina. Kata ibu terserah deh mau masak apa tinggal bilang. Alhamdulillah….jadinya sekarang Nina suka ber-eksperimen dengan masakan-masakan yang sebelumnya cukup asing dirumah saya. Terakhir Nina bikin cumi tinta hitam (hiiy!) yang dari namanya saja saya cukup parno dengernya. Tapi pas dimakan…enak !. Bahkan Nina juga meng-klaim bisa membuat steak tenderloin dan juga steak kakap. Nah kalo steak kakap ini dia terinspirasi dari sebuah warung steak di Bandung namanya Road Cafe (yang tinggal di Bandung pasti tau deh!). Itulah dua rencana Nina yang belum terealisasikan sampai saat ini
. Dan kalau kata saya sih, mau nantinya perempuan atau laki-laki silahkan gimana Allah aja deh baiknya, yang penting ngidamnya Nina ini membuat badan saya jadi naik dan makan enak terus!
hihihii….duh makin cinta deh kalau udah gini sama istriku si koki cinta ehuheuhuehe!
. Nah buat para wanita yang belum nikah, ayo pada belajar masak biar nanti suaminya betah makan dirumah, yang baru nikah dan udah bisa masak coba cari resep-resep baru biar suami makin cinta!
Syukur alhamdulillah sepatutnya kita selalu ucapkan kepada pencipta kita yaitu Allah swt yang dengan salah satu dari sekian banyak ciptaannya yaitu mata, kita bisa melihat dan membaca tulisan ini. Mata adalah anugerah Allah yang tak ternilai harganya. Tidak ada satu pun teknologi di dunia ini yang mampu membuat mata atau yang sepertinya. Dengan mata kita mampu melihat keindahan dunia. Laut dengan panorama sunrise dan sunsetnya, pegunungan dengan air terjunnya. Taman dengan bunga-bunganya yang berwarna cerah ceria dan berbagai macam keindahan alam lainnya.
Seperti yang yang temen-temen liat gambar disamping ini, insya Allah ini adalah calon mujahid/mujahidah nya Indra dan Nina :D. Umurnya baru dua bulan tapi udah banyak tingkah, salah satunya suka bikin Nina mual-mual alias morning sick hehehe. Tapi ngga papa, itu artinya kata dokter normla-normal aja. Sebenernya kehamilan Nina ini sudah saya duga semenjak sebulan yang lalu. Soalnya saat itu Nina sudah mulai mengeluh mual tapi ngga sesering sekarang.
Kita pun sekarang punya kebiasaan baru, yaitu memperdengarkan murattal ayat-ayat al Quran yang ada di handphone di perut Nina. Memang saya belum menemukan penelitian ilmiah tentang ini. Tapi kalau peneliti-peneliti di barat sana bilang bahwa lagu-lagu klasik semacam Mozart bisa membuat anak cerdas, lalu kenapa hal itu tidak digantikan dengan yang lebih sarat nuansa Islamnya ? Justru sebagai muslim, menurut saya program pendidikan agar sang anak menjadi anak yang shalih itu bukan dimulai ketika anak sudah bisa berjalan atau bicara tetapi dimulai semenjak Allah meniupkan ruh kepada janin di hari ke 120. Inilah yang membuat saya dan Nina tertarik untuk membuat program kecil-kecilan kepada sang janin. Duh aku makin cinta kamu istriku !
TTL : Jakarta, 18 Agustus 1971
Dr. Daud Rasyid, MA lahir di Tanjung Balai, sebuah kota kecil di pesisir pantai Sumatera Utara pada hari Senin tanggal 3 Desember 1962 Masehi bertepatan dengan tanggal 5 Rajab 1382 Hijriyah. Daud Rasyid adalah putera tunggal alm. Bapak Harun al-Rasyid dan alm. Ibunda Hajjah Nurul Huda, seorang pendidik dan ustazah di kota itu.
Adnin Armas M.A, menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo tahun 1992 dan melanjutkan ke Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), dalam bidang Filsafat. Memperoleh Sarjana dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) bidang Pemikiran Islam (Islamic Thought) dengan tesis berjudul Fakhruddin arRazi on Time pada tahun 2003.
Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, yang juga Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), lulus program Ph.D. dari International Institute of Islamic Thought and Civilization - International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia pada 6 Ramadhan 1427 H/29 September 2006, setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Al-Ghazali’s Concept of Causality’, di hadapan para penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Osman Bakar, Prof. Dr. Ibrahim Zein, dan Prof. Dr. Torlah. Prof. Dr. Alparslan Acikgence, penguji eksternal dari Turki, memuji kajian Hamid terhadap teori kausalitas al-Ghazali pada kajian sejarah pemikiran Islam. Sebab, pendekatan Hamid terhadap konsep kausalitas al-Ghazali telah menjelaskan sesuatu yang selama ini telah dilewatkan oleh kebanyakan pengkaji al-Ghazali. 