Resensi Buku : Muqaddimah by Ibnu Khaldun

Judul : Muqaddimah
  Penulis : Abd-ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun (Ibnu Khaldun)
  Penerbit: Pustaka Firdaus (021-7972536)
  Penerjemah : Ahmadie Thoha
Halaman : 852

Refleksi 600 Tahun Wafatnya Ibnu Khaldun
Pangkal Kejatuhan dan Kejayaan Bangsa

Meski namanya telah diabadikan untuk sebuah universitas di Bogor, masih ada di antara kita mungkin belum mengenal sosok serta pemikiran sejarawan agung dan pemikir ulung yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai bapak sosiologi. Dialah Abd-ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun yang hidup antara tahun 1332 hingga 1406 Masehi.

Di bulan November ini setidaknya tiga konferensi antarbangsa telah dan bakal digelar dalam rangka memperingati 600 tahun wafatnya ilmuwan besar ini. Yang pertama pada 3-5 November lalu di Madrid, Spanyol atas kerja sama Islamic Research and Training Institute IDB dengan Universidad Nacional de Educacion a Distance (UNED) dan Pusat Kebudayaan Islam setempat. Yang kedua baru saja terselenggara Sabtu 11 November 2006, di kampus Johann Wolfgang Goethe-Universitaet Frankfurt, Jerman, di mana penulis berkesempatan hadir. Sedang yang terakhir bakal diadakan pada 20-22 November mendatang di ISTAC Kuala Lumpur, Malaysia dengan tema: Ibn Khaldun’s Legacy and Its Contemporary Significance.

Ibnu Khaldun hidup saat imperium Islam bagian barat (termasuk Afrika Utara) di ambang kehancuran. Andalusia terpecah-belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kaum Murabitun (Almoravid) dan Muwahhidun (Almohad) saling rebut wilayah dan pengaruh. Sementara kaum Kristen Spanyol waktu itu tengah mengkonsolidasi kekuatan mereka dan menyusun strategi untuk melancarkan serangan besar-besaran demi merebut kembali semua daerah yang diduduki kaum Muslim —peristiwa kelam yang dinamakan reconquista.

Bermula dengan Toledo (1085), lalu Cordoba (1236) dan Seville (1248), dan terakhir Granada (1492), satu per satu wilayah Islam jatuh ke tangan orang-orang Kristen. Kondisi sosial-politik yang tak menentu itu tentu saja banyak memengaruhi perjalanan karier maupun pemikiran Ibnu Khaldun.

Barangkali karena kesibukannya sebagai pejabat negara dan keterlibatannya dalam politik, Ibnu Khaldun tidak banyak menghasilkan karya tulis. Hanya tercatat beberapa buku kecil seputar logika dan filsafat (Lubab Al Muhashshal), tentang tasawuf (Syifa’ As Sa’il li Tahdzib Al Masa’il), dan sebuah otobiografi (At Ta’rif). Namun, ia meninggalkan sebuah karya raksasa berjudul: Tarjuman Al ‘Ibar wa Diwan Al Mubtada’ wal Khabar fi Ayyam Al’Arab wal Barbar wa man ‘asharahum min dzawis-Sulthan AlAkbar.

Bagian pendahuluan dari kitab inilah yang melejitkan namanya ke seantero jagad. Tak aneh, sebab Muqaddimah-nya itu tak ubahnya bagaikan kapsul yang memuat ekstrak prinsip-prinsip yang bekerja di balik aneka manifestasi ilmu pengetahuan, pencapaian, dan pengalaman masyarakat manusia dari masa ke masa.

Pandangan yang relevan

Karya yang ditulis Ibnu Khaldun dalam penjara itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris. Berikut ini beberapa pandangan Ibnu Khaldun yang masih sangat relevan kini untuk menjadi bahan renungan kita yang sedang berusaha bangkit meraih kejayaan.

Masyarakat dan negara yang kuat adalah masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara. Pertama, solidaritas kebangsaan yang kokoh, di mana sikap dan perilaku mendzalimi, membenci dan menjatuhkan satu sama lain bertukar menjadi saling memberi, saling menghargai, dan saling melindungi. Ibnu Khaldun menyebutnya ashabiyyah atau group feeling –meminjam terjemahan Rosenthal. Kedua, kuantitas dan kualitas sumberdaya manusianya. Ketiga, kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras. Kesuksesan tidak dicapai sekonyong-konyong, ujar Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, iii/49.

Ibnu Khaldun menganalogikan proses kelahiran dan kehancuran suatu negara dengan kehidupan manusia. Ada tahap-tahap yang mesti dilalui, masing-masing dengan pasang-surut dan pahit-manisnya. Menurut Ibnu Khaldun yang memandang proses sejarah dalam kerangka siklus (ketimbang proses linear ataupun dialektikal), runtuhnya suatu imperium biasanya diawali dengan kedzaliman pemerintah yang tidak lagi memedulikan hak dan kesejahteraan rakyatnya (iii/43) serta sikap sewenang-wenang terhadap rakyat (iii/22). Akibatnya timbul rasa ketidakpuasan, kebencian dan ketidakpedulian rakyat terhadap hukum dan aturan yang ada.

Situasi ini akan semakin parah bila kemudian terjadi perpecahan di kalangan elite penguasa yang kerap berbuntut disintegrasi dan munculnya petty leaders (iii/45). Yang paling menarik adalah observasi Ibnu Khaldun pada pasal 11: bahwa ketika negara sudah mencapai puncak kejayaan, kemakmuran dan kedamaian, maka pemerintah maupun rakyatnya cenderung menjadi tamak dan melampaui batas dalam menikmati apa yang mereka miliki dan kuasai. Itulah petanda kejatuhan mereka sudah dekat.

Namun, kejatuhan suatu bangsa hampir selalu didahului atau diikuti oleh kenaikan bangsa lain yang mewarisi dan meneruskan tradisi maupun peradaban sebelumnya. Sebagai pengganti yang belum semaju dan secanggih pendahulunya, bangsa yang baru muncul ini cenderung meniru bangsa yang pernah menjajahnya hampir dalam segala hal, dari cara berpikir dan bertutur hingga ke tingkah laku dan soal busana. Proses ini bisa berlangsung tiga sampai empat generasi.

Bangsa yang dikalahkan cenderung meniru bangsa yang menaklukannya karena mengira hanya dengan begitu mereka dapat menang kelak. Jika kejayaan suatu bangsa hanya bertahan empat atau lima generasi, hal itu dikarenakan generasi pertama adalah ‘pelopor’, generasi kedua ‘pengikut’, generasi ketiga ‘penerus tradisi’ (tradition keepers), sedangkan generasi keempat berpaling dari tradisi (tradition losers).

Berbeda dengan para penulis sejarah sebelumnya, Ibnu Khaldun dalam analisisnya berusaha objektif. Pendekatan yang dipakainya tidak normatif, akan tetapi empiris-positivistik. Uraiannya berpijak pada das Sein dan bukan das Sollen, pada apa yang sesungguhnya terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi.

Dr. Syamsuddin Arif Ph.D
Orientalisches Seminar Frankfurt, Jerman
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=271691&kat_id=16

Diskusi Sabtuan INSISTS: Apa Bedanya Mu’tazilah dan Islam Liberal ?

Dalam pandangan kaum muslimin, al-Qur’an diyakini sebagai firman Allah SWT yang diturunkan kepada Rasulullah SAW; yang tertulis dalam mushaf, ditransformasikan secara mutawatir dari generasi ke generasi dan membacanya terhitung sebagai ibadah.

Mu’tazilah adalah aliran rasionalis (dalam pengertian lebih mendahulukan akal dari pada wahyu) yang dikenal dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam. Secara harfiah nama Mu’tazilah berarti yang mengasingkan diri. Kebanyakan ahli sejarah sepakat bahwa aliran ini bermula dari perdebatan Washil ibn Atha’ dengan gurunya al-Hasan al-Basri tentang kedudukan pelaku dosa besar, apakah dia kafir atau tetap mukmin.

Perdebatan ini dipicu dengan statemen aliran al-Khawarij yang menggolongkan pelaku dosa besar adalah kafir dan statemen al-Murji’ah yang mengatakan bahwa mereka tetap mukmin. Sedangkan imam al-Hasan al-Basri mengatakan bahwa mereka itu adalah fasiq. Sementara Washil ibn Atha’ mengatakan bahwa kedudukan mereka bukan kafir dan bukan mukmin, tetapi berada di antara dua kedudukan (al-manzilah baina manzilatain).

Perdebatan tersebut berakhir dengan memisahkannya Washil dari halaqah gurunya dan mengasingkan dirinya (I’tazala) di salah satu sudut masjid Basra. Kemudian langkah Washil ini diikuti oleh beberapa orang. Sehingga pada akhirnya imam al-Hasan al-Basri mengatakan: “Washil telah mengasingkan diri dari kita (laqad i’tazala anna Washil)”. Maka semenjak itu Washil dan pengikutnya disebut Mu’tazilah. (Henri Shalahuddin, Mawqif Ahli l-Sunnah wa l-Jama’ah min al-Ushul al-Khamsah li l-Mu’tazilah: Dirasah Naqdiyyah (Pandangan Ahlussunah wal Jama’ah terhadap Prinsip Ushul Khamsah Mu’tazilah: Studi Kritis), skripsi s1, 1999, Fakultas Ushuluddin, Departemen Perbandingan Agama, ISID, Pondok Modern Darussalam Gontor, 121 hal, belum dipublikasikan).

Di antara pandangan Mu’tazilah yang masyhur adalah bahwa al-Qur’an merupakan firman Allah SWT; namun kedudukan al-Qur’an menurut mereka adalah makhluk, bukan azali dan qadim seperti yang diyakini oleh kaum muslimin umumnya. Pandangan ini kemudian dipaksakan menjadi madzhab resmi negara oleh dinasti Abbasyiah selama 62 tahun, dari tahun 170H hingga tahun 232H, yaitu pada masa-masa khilafat al-Makmun, al-Mu’tasim dan al-Watsiq.

Ribuan ulama Ahlussunnah yang menolak paham makhluknya al-Qur’an dihadapkan ke mahkamah, disiksa, dipenjara bahkan dibunuh; seperti yang menimpa Imam Ahmad ibnu Hanbal (pendiri madzhab Hanbali dalam fiqih).

Namun demikian, belum ada satupun ulama yang menganggap Mu’tazilah telah keluar dari batasan Islam, seperti halnya kelompok Ahmadiyyah. Sebab bagaimanapun Mu’tazilah tetap mengakui kewahyuan al-Qur’an, tidak pernah meragukan kedudukan mushaf Usmani, tidak mempermasalahkan bahasa Arab sebagai mediator bahasa wahyu dan (-apalagi-) menganggapnya sebagai produk budaya maupun teks manusiawi seperti yang telah jamak disuarakan Islam Liberal dan diajarkan di berbagai perguruan tinggi yang terkooptasi paham liberal.

Bahkan banyak di antara pemuka Mu’tazilah yang tetap bermakmum di belakang ulama yang bermartabat, seperti al-Qadhi Abdul Jabbar (w 415H/1023M), pemuka Mu’tazilah yang bermadzhab Syafii; Muhammad ibn Abdul Wahhab ibn Salam al-Jubai, pemuka Mu’tazilah yang selalu memuliakan Khulafa’ Rasyidun penerus Nabi; Ahmad ibn Ali ibn Bayghajur (w 326H), cendekiawan Mu’tazilah di bidang ilmu bahasa Arab dan Fiqh yang terkenal kezuhudannya, ––menurut Ibnu Hazm–– juga bermadzhab Syafii.

Anehnya, Islam Liberal seringkali mengklaim bahwa paham dan aliran Islam liberal mewarisi tradisi Mu’tazilah. Apakah klaim mereka ini dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Benarkah konsep Islam liberal tentang al-Qur’an tidak berbeda dengan Mu’tazilah?

Dimanakah perbedaan kedua konsep ini secara substantif? Bagaimanakah pemuka Mu’tazilah menafsirkan al-Qur’an?

Apakah mereka juga menggunakan tafsir feminis atau menggunakan metode kritik historis seperti yang sering digunakan tokoh-tokoh liberal?

Silahkan mengikuti ulasan lebih lanjut dalam diskusi sabtuan INSISTS. Diskusi ini juga akan membahas Tafsir al-Kasysyaf ‘an Haqaiq al-Tanzil wa ‘Uyunil Aqawil fi Wujuh al-Ta’wil yang ditulis oleh pemuka Mu’tazilah, Abul Qasim Jarullah Mahmud ibn Umar al-Zamakhsyari tentang ayat-ayat yang menjadi isu sentral Islam liberal, seperti hukum waris, jilbab, iddah, hudud dsb.

Pembicara : Henri Shalahuddin, MA
- S1 di Institut Studi Islam Darussalam Gontor Jatim, 1995-1999
- S2 di International Islamic University Malaysia, 2001-2004

Hari/Tanggal : Sabtu, 31 Maret 2007
Waktu : 10.00 – 12.00
Tempat : Kantor INSISTS Jl. Kalibata Utara II/84 Jakarta

* Tidak dipungut biaya, konfirmasi kehadiran ke 021-7940381 atau 08176895797, tempat duduk terbatas (maksimal) 40 orang dan tersedia makalah. Kehadiran anda akan mempercepat proses pencerahan dan kebangkitan ummat.
 

INSISTS : Kursus Tafsir Al Qur’an



Materi Kursus:

  1. Otentisitas al-Qur’an: dari zaman Nabi Muhammad saw hingga kini; bagaiamana al-Qur’an selamat dari upaya manusia untuk meruntuhkannya, mulai Musailamah al-Kadzzab sampai kaum orientalis kontemporer.
  2. Definisi tafsir al-Qur’an, ta’wil, pentingnya belajar ilmu tafsir al-qur’an, dan syarat-syarat mufassir; serta bagaiamana tantangan hermeunitika modern terhadap tafsir al-Qur’an.
  3. Sejarah pengumpulan al-Qur’an dan jawabab atas tuduhan orientalis seputar masalah ini.
  4. Pengertian surat-surat al-Qur’an,pengertian ayat dan surat, dan urutan surat dalam al-Qur’an, serta I’jazul Qur’an.
  5. Pengertian Makki dan madani, muhkam dan mutasyabih, qath’iy dan dzanny, asbab an-nuzul dan nasikh-mansukh.
  6.  sejarah ilmu tafsir al-Qur’an dan mengenal para mufassir yang berwibawa beserta karya-karya dan ciri khasnya.
  7. Tafsir ayat-ayat hukum (ayatul ahkam): studi kasus ayat tentang jilbab dan perkawinan lintas-agama.
  8. Praktik menafsirkan al-Qur’an: surat al-Fatihah (analisis I’rabul Qur’an)
  9. Tafsir bil-ma’tsur, tafsir bil’ilmi, tafsir tekstual-kontekstual
  10. Test dan diskusi 
  • Dosen : Ust. Henri Shalahudin MA, Ust. Adnin Armas MA
  • Peserta : Minimal 5 orang
  • Tempat : Kantor INSISTS: Jl. Kalibata Utara II/84 – Jakarta Selatan
  • Waktu : Sabtu siang, mulai pukul 13.30 wib s/d 15.30 wib
  • Biaya : Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) untuk 10 kali pertemuan

Untuk tanggal mulai kursusnya dan info lebih lanjut bisa menghubungi Kantor INSISTS. Jl. Kalibata Utara II/84 Telp 021 7940381

Pada awal bulan Mei 2007, INSISTS insya Allah akan meluncurkan INSISTS Membership Program. Program ini bertujuan untuk memberikan kemudahan serta prioritas dalam berbagai hal yang terkait dengan program-program INSISTS untuk para member.Dengan berbagai prioritas yang ada, INSISTS siap melayani dan memberikan kontribusi yang terbaik bagi member INSISTS. Yang terpenting dengan program ini diharapkan Ukhuwah antara INSISTS dengan membernya dapat terjalin lebih erat.

Selama menjadi member, fasilitas yang akan didapatkan member di antaranya: mendapatkan Jurnal ISLAMIA, mendapatkan diskon pembelian buku-buku peneliti INSISTS, diskon seminar, diskon workshop, mendapatkan news letter berkala, pelayanan informasi melalui email dan SMS, dan lain-lain. Membership ini akan di bagi menjadi 2 segmen yakni segmen umum dan segmen mahasiswa. Semoga dengan adanya program ini, kesinambungan dakwah Islam dapat terealisasi dengan lebih baik. Untuk info selanjutnya dapat menghubungi sekretariat INSISTS.

Buku : Para Pengkhianat Islam

Judul asli : Traitors Of Islam (Terj. Para Pengkhianat)
Penulis : Maryam Jameelah
Penerbit : Pustaka Thariqul Izzah
Kompleks Griya Kedung Badak
Blok F No. 12-A Bogor 16161
Telp : 0251-638607
Fax : 0251-636195
E-Mail : buku-pti@indo.net.id

Salah satu cara musuh-musuh Islam untuk menghancurkan kaum Muslim adalah menyusupkan "ulama-ulama" maupun "intelektual muslim" yang berbaju Islam tetapi pemikirannya kufur. Ulama-ulama dan kaum intelektual modernis ini memperoleh gemblengan langsung dari para orientalis, yang sejatinya membenci Islam. Anak-anak asuh peradaban Barat ini dibesarkan di alam lingkungan sekular-kapitalis, dan disusui dengan pemikiran-pemikiran kufur yang menyesatkan.

Cara ini jauh lebih berbahaya bagi kaum Muslim, karena mayoritas Muslim menganggap mereka adalah ulama-ulama dan tokoh-tokoh Muslim yang layak menjadi panutan. Propaganda dan kesesatan yang mereka lontarkan serta merta akan diikuti oleh para pengikutnya, tanpa mempertimbangkan lagi benar salahnya pemikiran yang mereka sampaikan.

Buku ini mengungkapkan pemikiran-pemikiran "asing" yang mereka lontarkan, sekaligus membeberkan beberapa contoh figur yang selama ini kita anggap sebagai pembaharu, tetapi hakekatnya adalah musuh-musuh yang membenci Islam dan kaum Muslim. Mereka telah memposisikan dirinya sebagai kaki tangan negara-negara kafir, dan sepak terjangnya dilakukan dalam rangka memelihara kepentingan-kepentingan majikan-majikan mereka.

Tokoh-tokoh yang dibahas dibuku ini adalah :

 

                                          
  Sayyid Ahmad Khan                              Dr. Taha Hussain            M. Abdul Kalam Azad 

 

                  
  Sayyid Ameer Ali                                Syaikh Ali Abd Ar-Raziq

 

Sharing tentang istri yang ngidam

Assalamu’alaikum,

Ngidam ya ? hhmm…kata ini seringkali saya dengar dari awal menikah sampai Nina hamil. Puncaknya ya ketika keluarga besar tahu bahwa Nina udah hamil, makin beterbanganlah kata-kata "ngidam" ini. Tapi entah kenapa dari dulu saya sulit untuk percaya bahwa ngidam itu adalah sesuatu yang wajib dipenuhi. Apalagi kalau ada saudara atau teman yang membumbui dengan kata-kata "ngiler / ngeces". Familiar kan ? ya ada beberapa orang yang percaya bahwa kalau sang istri ngidam sesuatu dan ngga dipenuhi, nanti si anak pas lahir akan sering ngiler atau ngeces. Duh bukannya gimana-gimana ya, tapi mungkin karena didikan ibu saya juga yang mengajarkan bahwa sesuatu yang diluar ajaran al Qur’an dan Sunnah, maka tidak wajib dipercaya.

Sebenarnya Nina pun pernah mengalami dengan apa yang disebut ngidam (mungkin). Misalnya suatu malam Nina terbangun sekitar jam 12an dan ketika matanya baru saja terbuka tiba-tiba dia bilang "kayanya makan pecel lele enak ya a’indra?". Jelas aja saya dengernya kaget, kok sempet-sempetnya nyawa belum ngumpul tapi udah nyebut pecel lele. Dan hal-hal semacam ini sebenarnya cukup sering terjadi dan bukan pecel lele aja lho . Bagi beberapa orang yang saya ceritakan tentang itu, banyak yang langsung bilang "wah ngidamnya repot juga ya?". Tapi setelah saya pikir-pikir kayanya itu bukan ngidam deh. Soalnya seringkali Nina makan itu sedikit tapi frekuensinya sering dan dia selalu melewatkan makan malam dengan nasi karena biasanya setelah maghrib kondisi badan Nina mulai menurun dan langsung tidur dan bangun lagi tengah malam. Jadi menurut saya ini hal yang wajar. Buktinya ketika saya bilang,

"Ayaang…(suit suiit)….pecel lelenya udah tutup kalo tengah malem gini, gimana kalo kita makan yang ada aja ?", Nina pun mengangguk tanda setuju .

Begitu juga kalau sedang di perjalanan, setelah makan siang diluar. Kadang-kadang kurang dari sejam setelah makan siang Nina udah minta jajan ini-itu. Biasanya kalau udah begini, saya akan bertanya dengan nada lembut,

"Ayaang…(suit suiit lagi ah)….emang kamu udah laper lagi ? kan tadi baru makan. Hayoo dibedakan ya antara laper dan hawa nafsu…tapi kalo kamu emang udah laper lagi ayo deh kita cari makanan lagi".

Mungkin kedengerannya tega bener gitu ya ? sebetulnya ngga kok, karena sering juga ketika keinginan itu saya penuhi malah akhirnya makanan yang udah dibeli tadi ngga diabisin. Sayang kan…kata ibu dulu waktu saya kecil, nanti pak taninya nangis kalau nasinya dibuang-buang…hehe..

Hal-hal semacam ini saya nikmatin aja dan ngga dibawa pusing. Alhamdulillah Nina pun cukup mengerti keadaan untuk meminta sesuatu. Saya jadi teringat cerita dari teman kalau ngga salah, tentang temannya lagi ketika suatu malam istrinya itu minta dibelikan sesuatu dan kalau ngga dipenuhi bisa menangis atau murung seharian. Akhirnya sang suaminya ini dengan tulus mencarikan apa yang diinginkan istrinya ini tengah malam dan hujan deras. Tapi akhirnya yang didapat bukanlah apa yang diinginkan si istri malahan berita duka cita, yaitu sang suami tergelincir ketika mengendarai motornya hingga jatuh dan…..meninggal. Hanya sesal yang mendalam yang tersisa. Tragis memang…

Seorang teman juga pernah bercerita bahwa istrinya yang positif hamil 2 minggu sekarang ada di Surabaya dan akan ada disana selama 2 bulan dan meninggalkan teman saya itu di Jakarta hanya karena sang istri ngidam makanan kampungnya, Surabaya. Padahal mereka baru 3 bulan menikah…..Saya hanya kasihan dengan teman saya itu yang setiap harinya pulang kantor jam 8-9 malam dengan kondisi lelah. Pastilah ingin dilayani sang istri tercinta dengan membuatkan teh manis hangat, kopi atau semacamnya. Tapi apa daya, "Maklumlah ndra istri lagi ngidam", kata teman saya pasrah …..

Tapi dari kisah ini saya mendapat pelajaran yaitu sebagai suami ketika menghadapi istri yang sedang hamil haruslah mempertebal kantong cintanya, kesabarannya dan pandai memanjakan istrinya secara proporsional. Tapi juga sebagai istri yang sedang hamil sebaiknya mampu membaca situasi dan kondisi tanpa harus terbawa hawa nafsu.

Nah…buat para calon ayah….sharing cerita dong tentang istrinya yang lagi hamil, atau yang sudah jadi ayah boleh juga sharing tips and tricknya disini

Wassalamu’alaikum

Alhamdulillah ngidamnya enak…..!

Assalamu’alaikum,

Alhamdulillah kehamilan Nina sekarang sudah memasuki 3 bulan setengah. Cukup banyak perubahan dari diri istri sebelum dan sesudah hamil. Memasuki masa kehamilan 3 bulan ini, jam "kamar" Nina jadi makin bertambah, sesudah maghrib dia pasti sudah dikamar dan istirahat karena seharian dari jam 6 pagi sampai Dzuhur didapur terus. Juga siklus makan Nina juga bertambah. Porsinya sih dikit tapi jangan tanya frekuensinya….sering banget! hehehe…Saya sampai sempat kewalahan dan terheran-heran ngeliat pola makan dia. Misalnya jam 1 siang dia makan nasi lengkap dengan lauk pauk, nah nanti jam 2an dia udah bisa makan yang lain seperti siomay, bakso dsb. Trus juga nanti jam 4an pun begitu….Tapi ya maklum juga sih ya, sekarang kan dia makan bukan buat dia sendiri tapi untuk dua orang .

Oh ya, memasuki kehamilan 3 bulan, Nina jadi sering banget masak. Padahal dulu di awal nikah, saya ngga pernah tahu kalau dia bisa masak. Paling banter yang saya tahu saat itu dia bisa masak nasi goreng, mie goreng, air, dadar. That’s it. Nah ketika masuk 3 bulan, mulai deh jurus-jurus rahasianya Nina supaya makin dicintain suami dikeluarin. Mulai dari Chicken cordon bleu, Calamari (cumi goreng tepung), sampai nasi tutug oncom bisa dia buat. Subhanallah….saya sampai bingung sejak kapan Nina belajar masak ya ?

Nah sejak itulah kita berdua punya kebiasaan baru yaitu setelah sholat shubuh kita pergi ke pasar untuk mencari bahan-bahan yang mau dimasak. Ibu saya juga sekarang mempercayakan sepenuhnya urusan dapur ke Nina. Kata ibu terserah deh mau masak apa tinggal bilang. Alhamdulillah….jadinya sekarang Nina suka ber-eksperimen dengan masakan-masakan yang sebelumnya cukup asing dirumah saya. Terakhir Nina bikin cumi tinta hitam (hiiy!) yang dari namanya saja saya cukup parno dengernya. Tapi pas dimakan…enak !. Bahkan Nina juga meng-klaim bisa membuat steak tenderloin dan juga steak kakap. Nah kalo steak kakap ini dia terinspirasi dari sebuah warung steak di Bandung namanya Road Cafe (yang tinggal di Bandung pasti tau deh!). Itulah dua rencana Nina yang belum terealisasikan sampai saat ini .

Ibu saya juga pas awal-awal Nina senang berkutat didapur sempat heran, kok tiba-tiba jadi gini ya menantunya hehehe. Kata ibu mungkin anaknya nanti perempuan nih, abis ngidamnya masak terus. Dulu saya sempet parno juga lho ketika denger cerita-cerita temen ada yang istrinya ngidam macem-macem diwaktu yang tak terduga (tengah malem dsb), tapi alhamdulillah yang ini ngidamnya bikin semua senang ! . Dan kalau kata saya sih, mau nantinya perempuan atau laki-laki silahkan gimana Allah aja deh baiknya, yang penting ngidamnya Nina ini membuat badan saya jadi naik dan makan enak terus! hihihii….duh makin cinta deh kalau udah gini sama istriku si koki cinta ehuheuhuehe! . Nah buat para wanita yang belum nikah, ayo pada belajar masak biar nanti suaminya betah makan dirumah, yang baru nikah dan udah bisa masak coba cari resep-resep baru biar suami makin cinta! .

Wassalamu’alaikum

Saat penglihatan kembali tajam

Assalamu’alaikum,

Syukur alhamdulillah sepatutnya kita selalu ucapkan kepada pencipta kita yaitu Allah swt yang dengan salah satu dari sekian banyak ciptaannya yaitu mata, kita bisa melihat dan membaca tulisan ini. Mata adalah anugerah Allah yang tak ternilai harganya. Tidak ada satu pun teknologi di dunia ini yang mampu membuat mata atau yang sepertinya. Dengan mata kita mampu melihat keindahan dunia. Laut dengan panorama sunrise dan sunsetnya, pegunungan dengan air terjunnya. Taman dengan bunga-bunganya yang berwarna cerah ceria dan berbagai macam keindahan alam lainnya.

Sesuai dengan apa yang dikatakan al Quran, bahwa segala sesuatu nanti pasti binasa, mata pun begitu dan juga mempunyai umur atau masa pakai. Biasanya semakin berumur seseorang, maka penglihatannya semakin kabur atau tidak jelas atau bisa jadi malah semakin tajam. Tetapi ada juga yang masih muda tetapi penglihatannya sudah kabur, begitupun ada pula yang sejak muda sampai masa tua penglihatannya tetap tajam. Penglihatan yang dimaksud adalah penglihatan mata hati. Kemampuan seseorang membaca tanda-tanda alam dan ayat-ayat Allah di masa ini sungguh-sungguh merupakan perjuangan. Kabut hedonisme dan awan gelap materialisme semakin hari semakin tebal, memaksa kita memicingkan mata untuk melihat lebih jelas apa yang ada didepan kita.

Kesenangan duniawi saat ini sangat mudah membutakan mata dan melupakan datangnya hari akhir. Manusia berlomba-lomba menimbun kekayaan tanpa mau berpikir lagi tentang perlu tidaknya bersyukur. Dunia memang tempat yang ampuh untuk membutakan mata.

Tapi ternyata, ada saatnya nanti ketika mata kita yang rabun, bisa kembali tajam daya lihatnya, bahkan yang sudah buta sekalipun. Kapankah itu ? Al Qur’an menjelaskan tentang hal ini di surat Qaaf ayat 20 sampai 22.

20. Dan ditiuplah sangkakala, dan demikian itulah hari yang dijanjikan (kiamat)

21. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi.

22. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.

Sayang….saat mata kita kembali tajam, bukan pemandangan indah lagi yang terlihat. Melainkan hari pembalasan yang setiap manusia tidak dapat lari darinya. Semoga bisa menjadi dijadikan pelajaran bagi kita semua untuk menggunakan mata dan juga kehidupan pemberian dari Allah ini dengan sebaik-baiknya.

Wassalamu’alaikum

Calon mujahid

Assalamu’alaikum,

Rasanya sudah lama juga ya saya ngga nulis-nulis lagi di blog. Memang ada beberapa kegiatan yang mungkin harus diprioritaskan setelah beristri :). Tapi saya mengerti bahwa itu bukan alasan untuk ngga nulis. Ada beberapa kabar menggembirakan dari istri saya Nina.

Seperti yang yang temen-temen liat gambar disamping ini, insya Allah ini adalah calon mujahid/mujahidah nya Indra dan Nina :D. Umurnya baru dua bulan tapi udah banyak tingkah, salah satunya suka bikin Nina mual-mual alias morning sick hehehe. Tapi ngga papa, itu artinya kata dokter normla-normal aja. Sebenernya kehamilan Nina ini sudah saya duga semenjak sebulan yang lalu. Soalnya saat itu Nina sudah mulai mengeluh mual tapi ngga sesering sekarang.

Alhamdulillah setelah saya check pakai testpack hasilnya bergaris dua alias positif hamil. Saat itu adalah setelah kita sholat subuh, lalu Nina memberikan kabar gembira bahwa dirinya positif hamil. Perasaan saya saat itu campur aduk antara kaget, gembira dan khawatir. Saat itu perasaan yang paling dominan adalah perasaan khawatir, khawatir dari segi finansial dan juga kekhawatiran apakah saya bisa menjadi ayah yang baik dan contoh yang baik bagi anak saya nanti. Dulu diawal pernikahan kami memang sempat membuat semacam perjanjian untuk menunda kehamilan atau ber-KB sampai kami mempunyai rizki yang cukup. Tapi kami teringat bahwa hal itu tidak dibenarkan oleh Allah. Inilah yang Allah katakan dalam al Qur’an :

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar" [QS al-Israa:31]

Lalu Allah juga berfirman, "Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)" [QS Hud: 6]

Kalau binatang saja yang derajatnya lebih rendah dibanding manusia saja oleh Allah diberikan rizki, apalagi kita manusia yang diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi ini. Setelah kami mentafakuri dua ayat tersebut maka tidak ada alasan untuk sengaja menunda kehamilan tanpa uzur tertentu dan bukan Allah namanya kalau Dia menciptakan hamba-Nya tanpa memberi jalan keluar bagi setiap permasalahan yang dialami hamba-hamba-Nya. Alhamdulillah penjualan kebab saya sedikit demi sedikit meningkat, apalagi setelah saya coba buka di kantin sebuah sma dekat rumah. Peningkatan ini cukup signifikan yaitu hampir tiga kali lipat dari penjualan di tempat awal saya buka warung kebab. Subhanallah, Allah memang Maha pemberi rizki. Akhirnya kekhawatiran itu pun perlahan memudar dan yang kami lakukan sekarang adalah mempersiapkan mental dan tingkah laku kami agar bisa menjadi teladan bagi anak kami nanti.

Kita pun sekarang punya kebiasaan baru, yaitu memperdengarkan murattal ayat-ayat al Quran yang ada di handphone di perut Nina. Memang saya belum menemukan penelitian ilmiah tentang ini. Tapi kalau peneliti-peneliti di barat sana bilang bahwa lagu-lagu klasik semacam Mozart bisa membuat anak cerdas, lalu kenapa hal itu tidak digantikan dengan yang lebih sarat nuansa Islamnya ? Justru sebagai muslim, menurut saya program pendidikan agar sang anak menjadi anak yang shalih itu bukan dimulai ketika anak sudah bisa berjalan atau bicara tetapi dimulai semenjak Allah meniupkan ruh kepada janin di hari ke 120. Inilah yang membuat saya dan Nina tertarik untuk membuat program kecil-kecilan kepada sang janin. Duh aku makin cinta kamu istriku ! :)

Kalau saya sih memang ada cita-cita untuk supaya si anak nanti bisa menjadi seorang hufaz atau penghafal al Qur’an dan dan menjadi seorang ulama. Tapi Nina punya keinginan lain yaitu supaya si anak bisa menjadi orang sukses dan kuliah di perguruan tinggi negri yang bonafid. Kami ambil jalan tengah yaitu nanti rencananya sang anak S1 nya di perguruan tinggi umum lalu S2nya melanjutkan ke jurusan agama, dan program inilah yang sudah dijalankan di IIUM - ISTAC (International Islamic University of Malaysia - International Institute of Islamic Thought and Civilization). Sebuah program Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang digagas oleh Syed M. Naquib Al-Attas. Wah belum apa-apa udah jauh banget nih ya ngayalnya hehehehe :D. Saya dan Nina mohon doanya saja ya semoga semuanya berjalan dengan lancar :).

Akhirnya tiada doa yang sering saya panjatkan dalam sholat melainkan, Rabbi habli minas shalihiin…Ya Rabb-ku anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang yang shalih [QS Ash-Shaaffaat: 100]

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yuniw waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa…Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata dan jadikanlah kami imam bagi orang yang bertakwa.

Wassalamu’alaikum

Seminar “Evaluasi 37 tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia”

Pada tanggal 3 Februari 2007 (Jam dalam konfirmasi), Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir, bertempat di Jalan Kramat Raya 45 Jakarta, akan menggelar satu acara seminar nasional bertema "Evaluasi 37 tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia". Tampil sebagai pembicara adalah Dr. Daud Rasyid, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Mukhlis Hanafi, dan Adnin Armas MA. Seminar ini memiliki makna yang penting bagi umat Islam Indonesia, mengingat, setelah 37 tahun berlalu, gerakan pembaruan Islam bukannya telah berhenti, tetapi semakin menjadi-jadi dan melebar ke mana-mana.

Masa 37 tahun Gerakan Pembaruan Islam dimulai ketika Nurcholish Madjid memulai pidatonya pada 3 Januari 1970 di Jakarta dengan judul "Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat". Dalam disertasinya di Monash University Australia  yang diterbitkan oleh Paramadina dengan judul "Gagasan Islam Liberal di Indonesia", Dr. Greg Barton menyebutkan, bahwa melalui makalahnya tersebut, Nurcholish dihadapkan pada satu dilema dalam tubuh umat. Di satu sisi, masyarakat Muslim harus menempuh arah baru, namun di sisi lain, arah baru tersebut berarti mengorbankan keutuhan umat. Baca lebih lanjut disini.

Biodata Pembicara :

Dr. Muchlis Muhammad Hanafi, MA

TTL : Jakarta, 18 Agustus 1971

Status : Nikah tahun 2000 dengan dua anak Fayyadh dan Wafa Ahdella

Tiba di Mesir : Oktober 1992
Alamat di Indonesia : Jl. Radjiman Widyodiningrat P. Jahe Kel. Jatinegara
Cakung Jakarta Timur
Alamat di Mesir : Swissry Project 87/1 10th Nasr City Cairo 2711533
Kekeluargaan : KPJ
Fakultas : Ushuluddin
Jurusan : Tafsir dan Ilmu-Ilmu Alquran
Universitas : Al-Azhar
Judul Disertasi :
كتاب لوامع البرهان وقواطع البيان فى معاني القرآن للمعيني (المتوفى سنة 537 ه)
من أوله الى آخر سورة القصص (دراسة وتحقيق)
Studi filologi yang mengikuti editing naskah, analisa, komentar dan kritik atas tafsir imam Al-Mai’niy (W537 H)
Tanggal Munaqasyah : 6 Maret 2006

Dengan predikat :
مرتبة الشرف الأولى مع التوصية بطبع الرسالة على نفقة الجامعة وتداولها بين الجامعات
Summa Cumlaude (Penghargaan Tingkat Pertama) disertai rekomendasi agar disertasi tersebut dicetak atas biaya universitas dan didistribusikan ke universitas-universitas lain
Lama Pendidikan : 3 tahun 6 bulan, dari tahun 2002 – 2006

Riwayat Pendidikan :

SD dan MI Jakarta Timur (1997 – 1983)
KMI Gontor Ponorogo (1983 – 1989)
PP. Tahfidz Alquran Sunan Pandanaran (1990 -1992)
S1 Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Alquran Tahun 1992-1996
S2 Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Alquran Tahun 1996-2000
S3 Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Alquran Tahun 2002-2006

Kesan selama menempuh pendidikan di Mesir :
Mesir pernah menjadi salah satu pusat peradaban islam, karena itu disini kita temukan banyak khazanah intelektual islam (turats) saya sangat menikmati dan menghayati hidup di tengah khazanah turats tersebut.

Pesan bagi mahasiswa lain:
Pergunakanlah waktu sebaik mungkin! Waktu / masa dalam alquran diungkapkan dengan kata "al-ashr", yang mengesankan bahwa waktu adalah sesuatu yang harus "diperas" agar menghasilkan sari pati kehidupan yang berharga. "Man lam takun lahu bidayatun muhriqah lam takun lahu nihayatun musyriqah" (Masa depan gemilang hanya dapat diperoleh dengan usaha keras menempa diri di awal perjalanan), demikian pesan seorang tokoh sufi besar Ibnu Athaillah.
_____________________________________

Dr. Daud Rasyid, MA lahir di Tanjung Balai, sebuah kota kecil di pesisir pantai Sumatera Utara pada hari Senin tanggal 3 Desember 1962 Masehi bertepatan dengan tanggal 5 Rajab 1382 Hijriyah. Daud Rasyid adalah putera tunggal alm. Bapak Harun al-Rasyid dan alm. Ibunda Hajjah Nurul Huda, seorang pendidik dan ustazah di kota itu.

Masa kecilnya dihabiskan belajar pagi-sore di sekolah formal. Pagi, belajar di sekolah umum dan sore belajar di Madrasah. Malam hari dan hari libur diisi dengan belajar non-formal kepada para syaikh dan Ustaz di daerahnya. Tahun 1980, setelah tamat SMA dan Aliyah, ia meninggalkan kota kelahirannya, merantau ke Medan untuk mengecap pendidikan tinggi di IAIN Medan dan di USU. Namun itu hanya tiga tahun dilaluinya. Baru saja menyelesaikan B.A dari IAIN, dibukalah kesempatan untuk belajar ke Al-Azhar melalui beasiswa Al-Azhar yang disalurkan melalui IAIN.

Riwayat Pendidikan

  • 1980-1983 belajar di Fak. Syari’ah IAIN Sumatera Utara, Medan, selesai Sarjana Muda (B.A) dengan yudicium : "Memuaskan".
  • 1981-1983 belajar di Fak. Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
  • 1984-1987 belajar di Fak. Syari’ah wal-Qanun (Syari’ah dan Hukum) Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
  • 1987-1990 belajar di program Pascasarjana (S2) Fakultas Darul ‘Ulum (Studi Islam dan Arab) Universitas Kairo, jurusan "Syari’ah" dan lulus Master (M.A.) dalam bidang "syari`ah" dengan judicium : "Cum Laude" (mumtaz). Judul tesis : "Marwiyyat al-Hakam ibn ‘Utaibah wa fiqhuhu" (Hadits-hadits riwayat Imam Al-Hakam ibn �Utaibah dan Metodologi Fiqhnya).
  • 1994-1996 menempuh program Doktor (S3) di Fak. Darul ‘Ulum, Universitas Kairo dan meraih "Doktor" (PhD) dalam bidang "Syari`ah" dengan yudicium "Summa Cumlaude" (mumtaz bi martabat syaraf `ula) dengan judul disertasi : "Juhud ‘Ulama` Indonesia fi as-Sunnah" (Jasa-jasa Ulama Indonesia di bidang Sunnah").

_____________________________________

Adnin Armas M.A, menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo tahun 1992 dan melanjutkan ke Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), dalam bidang Filsafat. Memperoleh Sarjana dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) bidang Pemikiran Islam (Islamic Thought) dengan tesis berjudul Fakhruddin arRazi on Time pada tahun 2003.

Saat ini beliau adalah kandidat doktor di ISTAC UIAM aktif sebagai peneliti INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization). Karya beliau antara lain adalah: Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an; Pengaruh Orientalis terhadap Islam Liberal. Di samping itu beliau sangat aktif menulis artikel-artikel ilmiah di beberapa majalah dan surat kabar di Indonesia.

Currently a Ph.D candidate at ISTAC-IIUM, Adnin obtained B.A. from International Islamic University Malaysia in 1997 and M.A in Islamic Thought from ISTAC in 2003. He is a prolific writer on Liberal Islam and Secularisation and some of his published articles are:

- Menjernihkan Ide Kesatuan Agama (Republika, February 2003)

- Menelusuri Originalitas Gagasan Sekularisasi Nurcholish Madjid (Jurnal Dirosah Islamiyah, Vol. 1, No. 2 (2003).

- Simbol Kegagalan Kristen Melawan Barat (Majalah Hidayatullah, December, 2003)

- Sekularisasi Menghempaskan Agama (Majalah Hidayatullah, February 2004)

- Pembela dan Penghadang Sekularisasi (Majalah Hidayatullah, March 2004)

- Tafsir al-Qur’an atau Hermeneutika al-Qur’an (Majalah Islamia, March 2004)

- Orientalisme dan Teori Pengaruh Terhadap Islam (Republika 6 May, 2004)

- Pengaruh Metodologi Bibel Terhadap Studi Al-Qur’an (Republika, 29 November 2004).

- Orientalis dan Studi Al-Qur’an: Tanggapan Atas Tanggapan (Republika, April 2005).

Books Published

- Christian and Orientalist Influences on Liberal Islam. An interactive dialogue with activists of the Liberal Islam Network, Jakarta: Gema Insani Press (GIP) 2003.

- Biblical Methodology in Qur’anic Studies: A Critical Analysis, Jakarta; Gema Insani Press (GIP) 2005.

_____________________________________

Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, yang juga Pemimpin Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), lulus program Ph.D. dari International Institute of Islamic Thought and Civilization - International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) Malaysia pada 6 Ramadhan 1427 H/29 September 2006, setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul ‘Al-Ghazali’s Concept of Causality’, di hadapan para penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Osman Bakar, Prof. Dr. Ibrahim Zein, dan Prof. Dr. Torlah. Prof. Dr. Alparslan Acikgence, penguji eksternal dari Turki,  memuji kajian Hamid terhadap teori kausalitas al-Ghazali pada kajian sejarah pemikiran Islam. Sebab, pendekatan Hamid terhadap konsep kausalitas al-Ghazali telah menjelaskan sesuatu yang selama ini telah dilewatkan oleh kebanyakan pengkaji al-Ghazali. 

Sejak kecil sampai sarjana S-1, Hamid dibesarkan dan dididik ayahnya sendiri di lingkungan Pesantren Gontor. Barulah kemudian dia melanjutkan program masternya di Pakistan. Setelah mengabdi beberapa tahun di Gontor, Hamid kembali melanjutkan kuliah S-2 nya di Birmingham Inggris. Dari Inggris, dia langsung melanjutkan studi S-3 nya ke ISTAC. Barulah, pada tahun 2006, pada usia 48 tahun, Hamid baru menyelesaikan studi doktornya.

Bagi pembaca majalah ISLAMIA, sebenarnya sejak empat tahun ini, sosok Hamid sudah dikenal luas melalui berbagai artikelnya. Pemikirannya sudah tersebar luas dan memberikan dampak signifikan pada berbagai kalangan peminat studi Islam.

_____________________________________

Kitab “Al-Bidayah wan Nihayah” By Ibnu Katsir

Assalamu’alaikum,

Benarkah Khalifah Pertama Abu Bakar Ash-Ashiddiq diracun hingga menyebabkan kematian beliau?

Benarkah penyebab umar bin Khaththab mencopot khalid bin walid dari jabatannya sebagai panglima pasukan karena adanya intrik pribadi antara keduanya?

Benarkah isu-isu tendensius yang menyebutkan bahwa Utsman bin Affan lebih mengutamakan karib kerabat untuk memegang jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan seperti yang dituduhkan sebagian orang?

Apa yang melatarbelakangi peperangan Jamal yang terjadi antara Ali bin Abi Tholib dengan az-Zubair, Thalhah dan ‘Aisyah?

Dan Apa pula yang melatarbelakangi peperangan antara Ali bin Abi Tholib dengan Mu’awiyyah hingga menyebabkan kematiannya?

Begitu banyak isu-isu kontroversional yang disebutkan dalam buku-buku sejarah, namun banyak yang perlu diluruskan. Yang disebutkan diatas hanyalah sebagian kecil dari penyimpangan sejarah. Sementara, sejuta pertanyaan lain masih menggelayut dalam benak menuntut sebuah jawaban. Dimanakah jawabannya?

Buku yang hadir di hadapan pembaca ini memberikan jawabannya. Dipetik dari buku al-Bidayah wan Nihayah, sebuah karya monumental seorang ulama besar yang tidak asing lagi; Al-Hafidz Imaduduin Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir.

Sebagai pembukan, buku ini dimulai dengan metode penyusunan dan penyuntuingan, biografi Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dan Kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah serta metode dan referensi yang digunakan.

Dalam buku ini kita dapat membaca sejarah khulafa’ur rasyidin dan dapat menyaksikan masa-masa keemasan Islam yang disajikan secara apik oleh Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami. Mudah-mudahan kehadiran buku ini dapat meluruskan sejarah-sejarah yang banyak diselewengkan oleh tangan-tangan jahil.

Kitab ini cocok untuk yang senang mempelajari kisah-kisah para sahabat pada masa khulafaur rasyidin seperti Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali ra. Kalau anda senang membaca sirah nabawiyah, kemungkinan anda juga akan tertarik dengan kitab ini. Insya Allah kitab ini akan memberikan jawaban atas pertanyaan tentang fitnah al kubra yang selama ribuan tahun menggelayuti umat Islam. Pembahasan dalam kitab ini pun cukup detail sampai hal-hal kecilnya.

Ada saatnya rasa haru muncul ketika membaca kisah-kisah kehidupan para sahabat ra dalam kitab ini. Dan ada pula saatnya muncul rasa kagum dan bangga. Bagi saya pribadi, membaca buku ini cukup seru dan seandainya kisah-kisah dalam kitab ini dijadikan film, maka film itu insya Allah akan menjadi film yang hampir lengkap mulai dari action, drama dan tentunya tanpa esek-esek seperti kebanyakan film. Insya Allah akan ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kehidupan mereka.

Wassalamu’alaikum

« Previous PageNext Page »